10 Langkah Penting Swasunting

Swasunting itu apa, sih? Siapa yang harus melakukan swasunting? Memang apa perlunya melakukan swasunting? Untuk apa melakukan swasunting?

Kenapa Harus Melakukan Swasunting?

Swasunting artinya penyuntingan yang dilakukan secara mandiri oleh penulis. Swasunting ini sangat perlu dilakukan untuk meninimalisir kesalahan yang ada pada naskah. Dengan melakukan swasunting penulis dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi, baik kesalahan minor maupun mayor. Selain itu, swasunting juga akan menambah nilai plus dari sisi editorial ketika naskah ditawarkan ke penerbit. Meskipun tulisan tidak diniatkan untuk ditawarkan ke penerbit, misalnya tetap di blog, tetapi proses ini berkaitan dengan upaya menjaga kenyamanan pembaca sebagai target pasar kita jika kelak menerbitkan buku.

Bagaimana Langkah-langkah Swasunting?

  1. Memastikan naskah sudah selesai ditulis. Bagaimana cara memastikannya? Yang jelas naskah yang akan diterbitkan menjadi buku tersebut sudah selesai ditulis. Yang langsung menulis di perangkat lunak pengolah kata, bisa dilihat dari adanya penutup. Sedangkan yang masih ada di blog, pastikan semua sudah disalin tempel secara keseluruhan. Apa yang mau disunting kalau naskah belum jadi? Iya, kan?
  2. Mengecek keutuhan naskah. Langkah ini dilakukan dengan cara memastikan bahwa sudah ada bagian pembuka, isi, dan penutup untuk naskah nonfiksi. Lalu bagaimana dengan naskah fiksi? Untuk mengetahuinya bisa dicek apakah alur cerita sudah bergerak? Apakah urutan adegan demi adegan sudah sesuai? Dan masih banyak lagi terkait unsur pembentuk naskah fiksi.
  3. Mengetahui gaya bahasa. Pada langkah ini kita sebagai penulis harus mengetahui gaya bahasa yang kita gunakan. Apakah sudah sesuai dengan target pembaca buku kita nantinya? Tidak lucu, dong, kalau target kita anak milenial tetapi memakai gaya bahasa zaman dulu. Demikian juga sebaliknya. Selain itu, hendaknya juga disesuaikan dengan tema naskah buku yang diangkat.
  4. Mengembangkan ide. Pada langkah ini penulis bisa menambahkan hal-hal yang dirasa masih kurang. Selain itu juga bisa sekaligus mengurangi pembahasan yang berlebihan atau tidak perlu. Langkah ini diambil karena kadang pada saat menulis draf ada yang ketinggalan dan baru ingat saat melakukan penyuntingan. Namun, demikian langkah ide dibatasi oleh kerangka tulisan yang telah disusun mengembangkan ide sah-sah saja asal tidak keluar dari jalur. Hal ini dikhawatirkan justru akan mengurangi esensi tulisan.
  5. Menyederhanakan kalimat. Saat menulis draf kadang kita terlalu asyik menulis. Saking asyiknya kadang kita tidak sadar bahwa kalimat yang kita buat terlalu panjang. Kasihan pembaca kita nanti. Teknik mengetahui panjang atau pendeknya kalimat adalah dengan cara membacanya. Kita baca kalimat yang dirasa panjang kemudian rasakan pernapasan kita. Jika saat membaca kalimat itu kita berkali-kali harus menarik napas, berarti kalimat harus disederhanakan. Hal ini juga berlaku untuk kalimat dalam naskah nonfiksi yang terlalu rumit. Kalimat rumit justru akan membingungkan pembaca. Penyederhanaan ini bisa juga dilakukan menyesuaikan dengan target pembaca.
  6. Menyederhanakan paragraf. Paragraf yang baik terdiri dari satu kalimat pokok dan beberapa kalimat penjelas. Penyederhanaan dilakukan apabila dalam satu paragraf teesapat lebih dari satu kalimat pokok. Caranya yaitu dengan cara memecah paragraf tersebut.
  7. Memilih diksi dan istilah yang sesuai. Hal ini dilakukan jika kita menginginkan pembaca mendapatkan efek tertentu dari tulisan kita. Pilihan kata yang tepat akan memberikan pengalaman berbeda kepada pembaca. Pun pemakaian istilah yang sesuai. Kesesuaian diksi dan istilah berperan penting dalam menjaga kenyamanan pembaca untuk melanjutkan bacaan hingga selesai.
  8. Memastikan tulisan bebas dari SARA. Hal ini penting melihat kemajemukan target pembaca buku kita. Sentiment terhadap SARA akan berdampak tidak baik terhadap buku kita di pasar. Tekniknya dengan membaca cermat until menemukan apakah ada pernyataan menyudutkan pihak/kelompok tertentu, terlalu vulgar atau menyinggung SARA. Dengan langkah ini setidaknya kita telah berusaha menuliskan narasi positif yang layak dipublikasikan dan dibagikan.
  9. Mengecek penulisan kata. Langkah penting yang harus kita kuasai. Untuk bisa melakukan langkah ini, perlu kita siapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Repot? Tidak juga. Sudah tersedia versi daring atau aplikasi di PlayStore dan AppStore, kok. Selain KBBI juga perlu menyiapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Kenapa KBBI dan PUEBI? Dengan panduan keduanya kita bisa melakukan penyuntingan penulisan dengan lebih baik. Misalnya terkait penggunaan kata baku, penggunaan tanda baca, konsistensi, penomoran, dan lain sebagainya. Termasuk dalam tahap ini adalah terkait salah ketik. Sayang bukan jika naskah bagus ternoda oleh salah ketik yang bertebaran?
  10. Menentukan judul. Judul yang baik adalah yang sesuai dengan isi buku dan mudah diingat (eye catching). Judul buku adalah hal pertama yang dilihat calon pembaca. Judul yang baik akan mampu membuat calon pembaca penasaran adalah pintu pembuka bagi minat calon pembaca untuk membeli dan membaca buku. Meskipun bukan satu-satunya faktor, tetapi judul adalah salah satu faktor penentu ketertarikan untuk membaca.

Demikian langkah-langkah dalam melakukan swasunting. Sebagai bekal untuk mengasah kepekaan terhadap naskah yang sudah ditulis. Naskah buku yang layak berada di tangan pembaca luas.

Semoga bermanfaat!

– mo –

Referensi: www.stiletto.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.