.:. 111 Bulan .:.

⌣·̵̭̌✽̤̥̈̊·̵̭̌⌣

Sepulang kerja aku mampir di toko langgananku. Aku melihat seorang gadis kecil basah kuyup kehujanan tengah berteduh. Kulihat dia menggigil dengan baju compang-camping di depan emperan toko. Perasaan iba muncul dalam hatiku.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Nana Om,” jawabnya bergetar.

“Kamu tinggal dimana?” tanyaku lagi.

“Saya tidak punya rumah,” jawabnya kelu.

“Orang tuamu?” aku bertanya lagi.

Anak berusia 10 tahun itu hanya menggelengkan kepalanya. Isak menjadi tangis saat aku tawari Nana untuk ikut ke rumahku. Nana pun setuju.

Sampai di rumah, istriku terlihat bahagia, seperti aku. Beberapa hari kemudian, aku dan istriku sepakat untuk kembali menemui orang tua kami. Setelah 111 bulan yang lalu kami menghilang karena malu. Mengingat ketidakmampuan istriku untuk memberikan keturunan.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎_m.a.z.m.o_♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.