Dekonstruksi pentigraf karya Pak D Susanto berjudul Antre.

Manto memasukkan dompet ke dalam saku celananya. Sejenak dia mengerutkan dahi. Sesaat setelahnya segaris tipis melengkung di bibirnya. Bergegas dia pun mengendarai bekdul kesayangannya. Kaki kanannya terlihat sekuat tenaga memancal starter Honda C70 itu. Kekuatan seorang lelaki dewasa yang hampir saja membuat sandal jepit yang dipakainya putus. Deru mesin pun memenuhi halaman rumahnya. Bising akhirnya tertinggal dan hilang di halaman rumahnya.

Puskesmas Nawangsasi terlihat ramai. Bahkan tampak lebih ramai daripada saat Manto melakukan vaksin pertama sebulan lalu. Dia pun mengambil nomor antrean. Baru beberapa langkah dia memaksa kakinya berhenti. Sepasang sandal jepitnya pun seketika berpindah dari tempat yang seharusnya. Dengan berusaha tetap gagah dan percaya diri, dia pun mengantre. Di dalam antrean lelaki itu pun celingak-celinguk. Matanya tajam menyusuri antrean panjang. Sepasang matanya memenjarakan banyak pasangan yang sedang mengantre. Sepasang demi sepasang itu saling membisu dalam jarak satu meter. Dia pun enggan buka suara karena memang tidak mengenal mereka.

Siang menjelang ketika antrean semakin memendek. Terik menjadi saksi bagi sebuah perjuangan. Sepasang demi sepasang pun maju saat namanya dipanggil. Demikian halnya dengan Manto. Setelah sekian lama matanya menyipit dan bibirnya seolah saling gigit, dia pun berlari kencang saat petugas menyebutkan nomor 35, nomor antreannya. Dengan gesit dia berlari. Bukannya menuju petugas, melainkan arah keran air yang tak jauh dari tempatnya. Dia pun bergegas membasuh kakinya hingga tidak lagi terasa panas. Dalam hati dia menggerutu, “Sialan! Gara-gara sandalku putus dan kubuang, aku enggak bisa kayak yang lain, antre diwakilin sandalnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.