#AprilChallengeLagerunal – Filter, Filtrasi, Filtrat

Filter

Memfilter apa? Mengapa harus memfilter? Pertanyaan-pertanyaan yang bagi sebagian penulis kadang terlupakan. Filter ini juga memegang peranan penting dalam proses kreatif menulis. Dalam menulis kita harus menyiapkan filter bagi informasi untuk bisa menggali ide menulis.Pada dasarnya setiap kita memiliki kemampuan memfilter informasi. Perbedaan terletak pada kejelian memanfaatkannya sebagai ide menulis.

Filter bagi informasi yang masuk adalah diri penulis sendiri. Filter itu bernama kepekaan. Kepekaan terhadap ‘nilai’ informasi yang masuk merupakan filter paling bagus. Kepekaan tinggi terhadap arus informasi yang masuk akan mampu mengumpulkan ide-ide brilian yang lain daripada yang lain. Selain itu, dengan adanya filter berupa kepekaan penulis bisa menemukan hal yang kadang terlewat oleh penulis lain. Tentu ini adalah ide luar biasa untuk menulis.

Tidak kalah pentingnya filter ini akan membuat penulis mampu menentukan ide-ide yang layak atau tidak. Layak tidaknya ide untuk dieksekusi tentu tergantung pada sasaran tulisan. Selain itu juga pastinya tidak melanggar norma kesusilaan dan kesopanan. Terlebih sekarang menjamurnya hoaks. Filter berupa kepekaan memegang peranan penting untuk menyaring segala bentuk informasi.

Filtrasi

Seperti kita ketahui bersama, filtrasi merupakan proses penyaringan. Dalam sebuah proses penyaringan menghasilkan hasil dan sisa. Hasil disebut filtrat, sedangkan sisa dinamakan residu. Proses penyaringan menggunakan filter bisa jadi tidak bisa sekaligus. Harus melalui tahapan-tahapan tertentu.

Pertama, menyiapkan alat. Dalam proses penyaringan informasi membutuhkan alat penyaring atau filter. Seperti tertera pada bagian atas, untuk dapat menyaring diperlukan kepekaan. Selain itu juga alat penampung ide sebagai filtrat. Selain buku catatan, bisa juga menggunakan fitur catatan pada gawai.

Kedua, menyiapkan bahan. Dalam hal ini adalah segala informasi yang masuk. Dengan filter kepekaan, penulis harus memilah dan memilih bahan berupa informasi yang tepat. Bahan dan takaran yang pas akan menghasilkan filtrat sesuai keinginan.

Ketiga, mengikuti prosedur penyaringan dengan benar. Tujuannya agar proses menyaring informasi bisa berjalan dengan baik dan benar. Dalam langkah ini memerlukan kehati-hatian dan ketelitian. Harapannya proses penyaringan betul-betul menghasilkan filtrat yang sesuai kebutuhan.

Keempat, merapikan kembali alat dan bahan yang dipakai. Alat dan bahan yang telah dipakai, jika masih ada sisa selayaknya disimpan. Kelak pada waktunya siapa tahu kita membutuhkan.

Filtrat

Filtrat merupakan hasil penyaringan. Dari filter berupa kepekaan, akan kita peroleh filtrat berupa ide dasar untuk menulis. Ide-ide dasar tersebut merupakan modal bagi penulis.

Setelah memperoleh filtrat, lantas penulis harus melakukan apa? Sebagai langkah awal penulis cukup membuat daftar panjang filtrat. Setelah itu, penulis bisa mulai bisa menelaah dan berpikir untuk mengembangkan ide dasar tersebut. Sayang rasanya jika membiarkan ide-ide menguap begitu saja. Filtrat yang terbentuk dari memfilter informasi bisa menjadi apa saja. Tergantung kepiawaian penulis dalam mengolahnya. Kepiawaian yang lahir dari kebiasaan menulis.

Perlu diingat bahwa filtrat sebagus apa pun tidak akan pernah berarti apa-apa jika penulis tidak mau mengubahnya menjadi sesuatu yang berarti. Sesuatu yang berarti bisa saja berupa opini pribadi. Bisa juga berupa artikel ringan yang dekat dengan keseharian. Bahkan bisa juga mengubahnya menjadi cerita fiksi.

Kembali kepada kita masing-masing sebagai penulis, mau atau tidak. Bagi yang mau tentu akan bisa menghasilkan tulisan. Bagi yang tidak mau, sepertinya harus memahami bahwa ada kalanya kita harus ‘memaksa diri’ untuk tetap mengolah filtrat berupa ide menjadi tulisan.

Semangat menulis ide sebagai filtrat selagi sempat. Namun, jika tidak juga sempat, maka sempatkanlah mengembangkan ide sebagai filtrat.

Salam Bloger Pembelajar

Sudomo
www.literasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.