#AprilChallengeLagerunal – Galeri, Gadget, Gagal

Galeri

Setiap kita yang memiliki telepon pintar pasti sudah tidak asing dengan fitur galeri. Mengapa harus galeri? Apa kaitannya dengan menulis? Padahal tanpa kita sadari galeri menyimpan banyak hal tersembunyi. Kadang kita saja yang kurang peka terhadap isi galeri. Hanya sesekali melihatnya saat membutuhkan saja. Kadang malah lupa untuk menggali kedalaman maknanya.

Galeri menyimpan banyak memori. Sebagian layak dibagi, sebagian layak untuk konsumsi pribadi. Sejatinya galeri merupakan sumber informasi. Banyak kenangan, juga ingatan menyertai. Lantas kenapa kita kadang lebih memilih membiarkan segalanya tetap menjadi penghuni galeri? Kenapa kita tidak berusaha mengubah bentuknya menjadi tulisan. Memangnya bisa? Tentu saja. Ini adalah buktinya.

Sepulang kerja sampingan di sebuah lembaga sosial, saya menyempatkan diri memasak. Bukan memasak seadanya, melainkan memasak apa yang ada. Kebetulan yang tersedia ada ikan asin, telur, dan tahu. Jadilah nasi goreng ikan asin. Iseng-iseng saya mengambil gambar dan menyimpannya di galeri gadget. Berikut ini penampakannya.

Dari foto di galeri saya pun menemukan ide tulisan. Saya pun mencatatnya di gawai dengan memanfaatkan fitur catatan yang ada. Berikut ini adalah contoh catatan singkatnya.

Dari ide dasar dan narasi singkat tersebut, saya pun berusaha mengembangkannya. Tentu saja dengan menggunakan gawai yang saya miliki.

Gadget

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gadget termasuk nomina yang disimbolkan dengan huruf n. Gadget memiliki arti yang sama dengan gawai. Gawai sendiri adalah peranti elektronik atau mekanik dengan fungsi praktis.

Dengan menggunakan gawai, saya pun mulai menulis di fitur catatan. Tentu saja dengan berpatokan pada ide dasar dan narasi singkat yang saya peroleh dari galeri saya. Berikut ini adalah hasilnya.

Saya baru saja menyelesaikan paragraf kedua. Namun, belum sempat melanjutkan tiba-tiba gawai yang saya pakai menulis berdering. Saya pun menjawab salam dari seseorang yang sangat saya kenal suaranya, Opin.

Gagal

Iya, kali ini saya gagal menyelesaikan tulisan. Saya memilih menuruti kemauannya untuk menjemputnya pulang dari rumah neneknya. Saya pun menyimpan draf tulisan lantas bergegas meninggalkan rumah.

Dalam perjalanan saya berusaha melupakan kegagalan menyelesaikan tulisan. Bagi saya kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Saya mempunyai prinsip, bahwa saya masih bisa melanjutkan lagi nanti. Ada hal lain yang juga membutuhkan untuk segera diselesaikan.

Saya yakin bukan saya saja yang pernah mengalaminya. Masing-masing kita sama-sama pernah mengalami hambatan dalam menulis. Perbedaannya terletak pada bentuk hambatan dan upaya mengatasinya. Bagi sebagian menganggap hambatan sebagai kegagalan menyelesaikan tulisan. Padahal sejatinya itu hanyalah sekadar penundaan.

Tertunda belum tentu dan tidak berarti gagal. Hanya butuh tambahan waktu untuk menyelesaikan. Namun, sayang masih saja ada yang menjadikan penundaan itu sebagai alasan tidak menyelesaikan tulisan.

Anda tidak termasuk di dalamnya, kan?

Tidak semua hal memang harus disebarluaskan. Namun, pasti ada hal-hal baik yang layak dibagikan.

Mari berbagi hal baik lewat tulisan!

Salam Bloger Pembelajar

Sudomo
www.literasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.