Ayah Juga (Harus) Bisa (4)

Perkara Mandi dan Negosiasi

🧒: “Opin mau mandi, Bapak.”
👨: “Entaran, Mas. Masih pagi ini. Kedinginan side nanti.”
🧒: “Opin mau dingin tapi.”
👨: “Ya udah tapi mandinya sebentar aja ya.”
🧒: “Iya iya. Dikit aja airnya.”
👨: “Oke.”
🧒: “Pakai mainan, Bapak.”
👨: “Ndak usah, Mas. Dong lama nanti jadinya.
🧒: “Dikit aja mainannya.”
👨: “Kan tadi bilangnya mandinya sebentar aja.”
🧒: “Kan mainannya cuma dikit. Mandinya ndak lama.”
👨: “Aok wah aneh.”

Sepanjang itu, Ayah Hebat!

Meskipun akhirnya mengalah dengan menuruti keinginan bocah yang belum genap empat tahun itu, tetapi setidaknya ada kesepakatan di awal. Dan pada akhirnya kita berdua sama-sama memegang komitmen awal. Memang membutuhkan waktu untuk bernegosiasi. Bagaimanapun juga anak membutuhkan penjelasan. Dengan teknik menjelaskan yang tepat, anak akhirnya akan bisa menerima.

Mungkin tidak semua anak akan bisa ‘disiasati’ dengan teknik negosiasi seperti ini. Bisa jadi ada yang butuh kekuatan lebih untuk bisa membuat anaknya paham. Atau bahkan bisa jadi ada yang lebih mudah dari ilustrasi di atas. Masing-masing orang tua pastinya punya trik sendiri sesuai kondisi anak masing-masing.

Lalu, apa hubungannya sama ayah?

Ayah juga (harus) bisa bernegosiasi dengan anak. Caranya? Membiasakan diri. Itu saja sebenarnya. Kenapa harus? Ya bagaimanapun juga urusan memandikan anak kan bukan semata-mata tugas ibu. Ayah juga (harus) bisa!

Sambil memandikan, ada baiknya anak diajak ngobrol. Apa saja. Pengalaman saya, saat memandikan sambil ngobrol akan membuat anak lebih mudah ‘menuruti’ keinginan kita. Misalnya, menghentikan mandi atau aktivitas main airnya. Sekalian bisa dilatih kemandiriannya. Sekadar meminta dia menyabuni badannya rasanya cukup. Ini pengalaman saya lo, ya. Pengalaman orang tua lain pasti berbeda-beda.

Dan, ilustrasi di atas hanya salah satu keberhasilan negosiasi saja. Sisanya? Lebih banyak dramanya dalam proses memandikan Opin selama ini! 😂

Leave a Reply

Your email address will not be published.