Menulis cerita anak berbeda dengan cerita lainnya. Banyak hal yang membuatnya berbeda. Tidak semua penulis akan mudah menuliskan idenya. Selain itu, menulis cerita anak juga memiliki tantangan sendiri.

Tantangan terletak pada pemilihan tema. Pemilihan tema pada cerita anak tentu menyesuaikan dengan tingkat usia. Membutuhkan kepekaan dari seorang penulis untuk menemukannya. Tema yang umum menjadi dasar penulisan cerita anak adalah pengembangan karakter. Namun, itu hanyalah tema utama. Penulis harus memutar otak menentukan tema-tema turunan. Penulis bisa mendapatkan tema dari sekitar. Bisa saja dari pengalaman pribadi mengasuh dan mendidik anak. Bisa juga berasal dari hasil mempelajari tingkah laku atau kehidupan anak di sekitar.

Tantangan lainnya adalah dalam hal pemilihan kata. Bagi yang baru mulai menulis cerita anak, hal ini penting. Pemilihan kata cerita anak tentu menyesuaikan dengan tingkat usia sasaran pembaca.

Tidak kalah pentingnya adalah pesan moral yang ingin disampaikan penulis. Penyampaian pesan moral dalam cerita anak berbeda dengan cerita dewasa. Pada cerita anak, penyampaian pesan moral harus ada dan jelas terbaca oleh anak-anak. Tentu ini membutuhkan keterampilan dalam menulis.

Lantas, bagaimanakah cara mudah menulis cerita anak? Berikut ini adalah panduan dalam menulis cerita anak.

Bercerita tentang Manusia dan yang Dimanusiakan

Penulis bisa memilih salah satunya atau gabungan keduanya. Pemilihan tergantung pada selera penulis. Pemilihan yang tepat akan memudahkan dalam menyelesaikan tulisan. Jika memilih bercerita tentang manusia, tentu tokohnya adalah manusia. Bentuk cerita bisa berupa kisah kepahlawanan (epos), legenda, dongeng atau cerita keseharian. Sedangkan jika memilih bercerita tentang hal-hal yang dimanusiakan, bisa memilih fabel (cerita hewan), cerita tumbuhan, cerita benda mati, dan lain-lain. Pemilihan bentuk cerita tentu menyesuaikan dengan hal yang disuka dan dikuasai.

Untuk mengetahui kecenderungan bentuk cerita yang disukai, penulis bisa berkaca pada diri sendiri. Tanyakan pada hati tentang bacaan seperti apa yang disenangi. Bisa juga melakukan refleksi diri terkait kebiasaan dalam menulis cerita, lebih dominan bercerita tentang manusia atau bukan manusia.

Menyajikan Satu Masa Peristiwa

Hal ini tujuannya adalah untuk menyesuaikan cerita dengan kemampuan berpikir pada anak-anak. Tentu pemilihan sesuai tingkat usia anak. Anak yang masih balita tentu akan mengalami kesulitan memahami cerita yang melibatkan berbagai masa. mereka akan menemukan kebingungan saat dibacakan cerita atau belajar membaca sendiri.

Menyajikan satu masa kejadian peristiwa akan membuat anak lebih mudah dalam memfokuskan diri pada bacaan. Selain itu, juga akan lebih membuat anak mudah menyerap pesan yang ingin disampaikan. Misalnya, jika menceritakan masa lampau berarti cukup masa lampau saja. Demikian halnya dengan masa sekarang dan masa depan. Pilih salah satu masa saja untuk memudahkan anak dalam memahami cerita.

Maksimal Menampilkan Tiga Tokoh

Hal ini bertujuan agar anak sebagai pembaca tidak bingung dengan karakter tokoh. Semakin banyak tokoh yang digunakan akan membuat anak semakin membutuhkan ruang lebih besar untuk mengingat karakter. Dengan jumlah tokoh yang sedikit dalam cerita, akan membuat anak lebih mudah mengenal tokohnya. Terutama cerita anak untuk usia awal membaca.

Berbeda halnya dengan anak yang berada pada level membaca mahir. Penambahan jumlah tokoh tidak lagi menjadi masalah. Namun demikian bukan berarti penulis bisa semena-mena memperbanyak jumlah tokoh. Bukan seperti itu. Melainkan berpedoman pada efektivitas penyampaian karakter tokoh kepada anak.

Lalu bagaimana dengan cerita anak yang sifatnya kolosal? Tidak masalah tokohnya banyak, tetapi harus tetap membatasi jumlah tokoh sentral cerita. Tidak semua tokoh harus diceritakan secara utuh. Pilihlah tokoh yang berperan langsung pada jalannya cerita.

Terus apakah tokohnya harus anak-anak semua? Tentu tidak. Tergantung pada konteks yang ingin diceritakan. Selain itu, juga menyesuaikan dengan alur yang telah dibuat. Kita ambil contoh jika kita ingin menulis cerita tentang perjuangan nabi. Bisa saja kita mengambil tokoh nabi pada saat sudah dewasa. Kenapa boleh seperti itu? Sekali lagi, pada cerita anak penekanannya pada pesan moral dan pembelajaran. Tidak masalah menggunakan tokoh yang bukan anak-anak. Dengan catatan pesan moralnya cocok untuk anak-anak.

Kurun Waktu Peristiwa Terbatas

Anak-anak dengan orang dewasa memiliki tingkat nyaman yang berbeda. Tidak semua anak betah membaca. Oleh karena itu, sebagai penulis cerita anak harus berusaha menumbuhkan nyaman pada anak saat membaca. Memberikan selingan dengan gambar adalah alternatif yang bisa penulis pilih. Selain itu, membuat kurun waktu peristiwa terbatas adalah salah satunya.

Membatasi kurun waktu cerita ini penting. Bagaimanapun juga anak akan merasa bosan ketika membaca cerita dalam kurun waktu yang panjang. Memang tidak semua. Terutama ini adalah anak yang masih tahap membaca awal. Oleh karena itu, ada baiknya kurun waktu terbatas. Bisa ambil contoh kurun waktu sehari. Penulis juga bisa menyiasati dengan lompatan kurun waktu yang dipercepat. Hal ini merupakan strategi menjaga kurun waktu yang tidak terlalu panjang bagi anak.

Namun, ini bisa fleksibel. Penentuan kurun waktu ini menyesuaikan dengan tingkat usia dan pemahaman anak sebagai sasaran pembaca. Oleh karena itu, sebelum menulis penulis harus benar-benar memahami usia target pembacanya. Hal ini akan memudahkan nantinya dalam menentukan elemen-elemen dasar dalam penyusunan cerita anak.

Mengandung Elemen Cerita pada Umumnya

Cerita anak yang baik pada dasarnya memiliki elemen pembentuk yang sama dengan cerita pada umumnya. Elemen tersebut, yaitu tema, alur/plot, sudut pandang, tokoh, dialog, dan latar/setting. Masing-masing elemen menjadi faktor penentu kualitas cerita anak yang ditulis.

Tema cerita anak pada dasarnya tidak tergantung pada bentuk cerita, manusia atau dimanusiakan. Sejatinya tema cerita anak adalah yang mengandung pesan moral. Apa pun tema dan bentuk cerita yang dipilih, haruslah berpegangan pada nilai-nilai positif. Hal ini karena salah satu tujuan cerita anak adalah membentuk dan mengembangkan karakter positif pada anak.

Alur/plot sebaiknya tidak yang terlalu rumit. Khusus pada anak usia membaca mahir hingga tingkat SMP, alur/plot terutama bagian konflik bisa dibuat lebih dari satu dan agak rumit. Namun, ada syaratnya yaitu konflik yang dibangun tidak terlalu banyak dan rumit.

Sudut pandang dalam cerita anak sama seperti cerita pada umumnya. Tidak ada batasan khusus penggunaan sudut pandang dalam cerita anak. Hal penting dalam bagian ini adalah apa pun sudut pandang yang digunakan haruslah nyaman dibaca oleh anak.

Penokohan dalam cerita anak selalu ada tokoh baik dan jahat. Keduanya harus tergambar secara jelas. Penokohan dalam cerita anak sebaiknya tidak abu-abu. Dalam artian memberikan ruang pada anak untuk menerjemahkan sendiri tokohnya. Hal ini akan membahayakan jika justru akhirnya tokoh ini yang menjadi panutan bagi anak.

Dialog dalam cerita anak lebih apa adanya. Dalam artian lebih lugas tanpa majas. Sebaiknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan keseharian anak. Hal ini akan mendekatkan anak pada tokoh yang ada dalam cerita. Jika menggunakan kutipan, usahakan menggunakan kalimat yang mudah dipahami anak sesuai usianya. Selain itu, bisa juga menjelaskan dialog dalam narasi. Hal ini tidak wajib karena memang akan membuat cerita menjadi tidak efektif. Namun, bermanfaat memberikan penekanan atau penguatan. Ini akan membuat anak lebih memahami cerita.

Latar/Setting dalam cerita anak pada dasarnya sama dengan cerita pada umumnya. Penulis harus menuliskan latar/setting ini dengan detail. Tujuannya untuk merangsang imajinasi anak tentang suatu tempat maupun suasana. Penggambaran latar/setting dalam cerita anak tentu memiliki perbedaan dengan cerita untuk usia dewasa ke atas. Untuk menggambarkan latar tempat, penulis harus menjelaskan nama dan keadaan tempat tersebut. Penulis juga bisa menggambarkan latar tempat dengan melibatkan seluruh panca indra. Sedangkan untuk latar suasana, penulis tidak perlu repot-repot menggunakan teknik show don’t tell. Namun, penulis bebas memvariasikan teknik ini secara terbatas. Tujuannya agar anak sebagai pembaca bisa ikut merasakan suasana yang sama dengan tokoh.

Demikian dasar-dasar dalam menulis cerita anak. Mudah, bukan? Ayo menulis cerita anak!

Leave a Reply

Your email address will not be published.