.:. Ayunan Rapuh .:.

⌣·̵̭̌✽̤̥̈̊·̵̭̌⌣

Minggu pagi yang indah. Seperti biasanya Taman Kanak Kanak di dekat rumahku sepi karena libur. Ini berarti kesempatanku bermain sepuasnya. Tidak harus berebut dengan yang lainnya. Ini adalah surga.

Sebuah ayunan bergoyang pelan ditiup angin. Perosotan menunggu untuk dimainkan. Papan jungkat-jungkit masih belum bergerak. Aku bingung untuk memilih karena semua jenis permainan sudah aku mainkan.

Aku ingin main papan jungkat-jungkit, tetapi tak ada teman. Mereka tengah berlibur dengan keluarga masing-masing. Karena aku sendirian, aku memilih bermain ayunan.

Dengan senyum semangat, aku bermain ayunan. Maju-mundur. Semakin lama semakin cepat. Tiba-tiba aku terjatuh. Pingsan.

Saat sadar aku sudah berada di rumah sakit. Keluargaku tampak cemas.

“Maafkan Nina. Tadi Nina tidak bisa menemani bermain karena bangun kesiangan.”

“Tidak apa-apa,” kataku sambil mengelus kepala Nina, cucu kesayanganku.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎ @momo_DM ♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

0 Comments

  1. Endingnya meledak banget. Tapi kalo uraian di atasnya dipoles lagi, bakal lebih kece.
    Maksudnya fokus ke eksplorasi pengungkapan perasaan rasa senengnya si tokoh main di sekolahan. Eks: Hatinya Berbunga-bunga, si tokoh ngebayangin seolah-olah lagi main sama anak2 yang lain.. Suara ketawanya yang lepas. dll…
    Yang ini udah kece kok,…
    mantaab

    1. Terima kasih kunjungan dan masukannya, De. Bermanfaat banget. Ntar aku coba poles lagi. Masih harus belajar banyak dari para master nih soalnya. 🙂

  2. Endingnya bagus, tapi penuturan cerita di awal masih terlalu datar, ndak ada yang bikin penasaran. Sama seperti komentar kang aul, aku perlu membaca dua kali untuk memahami percakapan nina.
    Tapi, cerita ini sungguh menarik. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.