Belajar dari Bubur Ayam

Hingga saat ini bubur ayam selalu menjadi ide yang seksi untuk memulai sebuah perdebatan. Perbedabatan panjang yang sepetinya takkan pernah berkesudahan. Padahal sejatinya yang diperbedatkan hanyalah hal sepele, teknik sebelum menyantapnya.

Sumber: WAG Belajar Menulis Omjay

Perkara diaduk atau tidak diaduk sudah menjadi pertentangan yang mengancam persatuan umat manusia sebangsa setanah air. Masing-masing beranggapan pendapatnya yang paling benar. Di linimasa sosial media, perdebatan itu terasa nyata. Betapa penganut bubur ayam diaduk selalu menganggap remeh penganut bubur ayam tidak diaduk. Demikian halnya sebaliknya. Memanglah, ya, jika berdebat dengan menganggap pendapatnya paling benar itu sesungguhnya tidak sehat.

Lantas bagaimana kita menyikapinya? Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kehadiran semangkok bubur ayam? Tentu kita harus menyikapi perbedaan pendapat dengan bijak. Tidak usah merasa paling benar dengan pendapat kita. Menghargai setiap perbedaan pendapat. Sebab sejatinya tidak ada pendapat yang paling salah ataupun paling benar. Dari bubur ayam kita belajar menerima perbedaan pendapat sebagai bagian kehidupan umat. Toh, diaduk atau tidak namanya tetap bubur ayam, bukan?

(mo)

Leave a Reply

Your email address will not be published.