“Bapak sudah selesai kelasnya?”

Suara yang telah sekian lama berdiam dalam sanggurdi telingaku itu membuat tubuhku sedikit tersentak. Dengan malas aku mengalihkan pandangan dari arah layar laptopku. Pandangan tipis yang mendadak menjelma senyuman saat retina mata membiaskan sesosok anak laki-laki. Tubuh kurusnya mematung di sampingku. Dagu lancipnya seolah tertarik ke bawah saat dia membuka mulutnya.

“Sudah, Mas. Ada apa?” tanyaku sambil menggerakkan layar laptop arah menutup hingga setengahnya.

Anak laki-laki berusia 12 tahun itu mengerjap. Seperti biasa dia menarik kursi dan duduk di sampingku. Sepasang mata tajamnya menyelam jauh ke dalam kolam mataku.

“Tidak ada apa-apa, Bapak. Opin cuma pengin tahu saja, kok. He he,” tawa kecil terdengar saat tangan kanannya menggerakkan layar laptop ke atas.

Layar laptop warna hitam berukuran 14 inci itu pun kembali tegak pada posisinya. Tak lama kemudian, telunjuknya menjelajah deretan kata yang ada di sana.

“Ini apa, Bapak?” Dia bertanya sambil menenggelamkan wajahnya di kelopak mataku.

Aku tidak segera menanggapi pertanyaan itu. Aku memilih meneguk segelas air putih hangat di samping laptop yang diamatinya dengan saksama. Sengaja kubiarkan dia menjelajah. Demikian dia akan menemukan pelajaran tanpa harus aku menyuruhnya mempelajari. Ruang kerjaku mendadak bisu. Detik jam dinding menjadi penguasanya saat itu.

“Oh… Ini daftar pertanyaan dari peserta Kelas Menulis, ya, Bapak?” Pertanyaan kembali meluncur dari sepasang bibir merahnya.

Aku hanya menganggukkan kepala. Dia menarik udara di sekitarnya dan sesaat kemudian mengembuskannya perlahan. Tidak butuh waktu lama baginya untuk kembali bertanya.

“Ini peserta kelas menulis yang Bapak ikuti dulu itu, ya?” Opin mengalihkan telunjuknya dari layar dan memindahkannya ke dagu lancipnya.

Sejenak kemudian dia terlihat mengangkat kepalanya. Aku tahu ingatan-ingatan sedang berpesta di kepalanya. Namun, aku tidak tahu ingatan tentang apa. Jawaban aku temukan saat dia kembali merangkai kata.

“Opin ingat. Bapak kan dulu juga ikut kelas menulis ini, kan. Terus Bapak sering cerita ke Opin apa saja yang sudah Bapak pelajari. Benar, kan, Bapak?”

Opin memegang kedua tanganku dan mulai mengguncang-guncangnya. Aku tahu dia sedang berusaha mengembalikan fokusku pada pertanyaannya.

“Benar sekali, Mas. Dulu Bapak jadi peserta. Sekarang jadi nara sumber,” jawabku sambil berusaha melepaskan tangan Opin.

Sepasang bibir itu kembali tertarik ke arah berbeda. Sederet gigi terlihat rapi di bawah benderang ruang kerjaku. Aku akhirnya menyadari saat ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan pelajaran baru padanya.

“Bantu Bapak jawab, yuk, Mas! Mau?” tanyaku sambil berusaha menyentuh papan ketik laptop.

Dengan sedikit tergesa, aku menyodorkan gawai berisi daftar pertanyaan kepada Opin. Sementara jemariku langsung menari di antara aksara yang bertebaran di bagian atasnya.

“Pertanyaan kelima ini, Bapak,” kata Opin sambil berusaha mencari jawaban lewat anggukan kepalaku.

Setelahnya dia kembali melanjutkan kata-katanya, “Dari Ibu Winda di Jambi. Bukan pertanyaan, sih, ini, tapi semacam permohonan kesediaan, nih, Bapak.”

“Apa kata Bu Winda, Mas?” tanyaku sambil bersiap mengetikkan jawaban di draf postingan blog yang sudah kubuka.

Opin pun kemudian membacakan permohonan Ibu Winda agar aku bersedia membimbingnya menyelesaikan novel yang sedang ditulisnya. Setelah itu aku pun mulai merangkai kata sebagai jawaban.

“Sudah, nih, Mas. Tolong dibaca siapa tahu ada tambahan,” kataku setelah beberapa kata terangkai di draf postinganku.

Opin pun mulai mengeja setiap kata dengan hati-hati, “Siap, Bu. Ibu Winda bisa japri naskahnya ke saya. Bisa melalui WA atau email. Ditunggu, ya, Bu.”

“Yakin Bapak ada waktu. Bapak kan harus mengajar. Pulang sekolah, Bapak juga harus ke LSM. Malamnya Bapak bantu Opin mengerjakan tugas sekolah. Belum lagi Bapak sibuk ikut program gerak gerak apa itu, Bapak? Oh iya guru penggerak. Terus kapan Bapak akan membaca dan mengoreksinya?” kata Opin sambil memijat pundak kananku.

Opin terlihat menekuk wajahnya saat aku menoleh ke arahnya. Aku tahu dia memintaku untuk mempertimbangkan kembali kesanggupanku.

“Bapak yakin, Mas. Insyaallah niat baik akan selalu dimudahkan untuk mendapatkan jalan kebaikan. Ya asal Bu Winda sabar saja, sih. He he,” kataku sambil menambahkan beberapa kata di belakang jawabanku sebelumnya.

Opin pun lantas melanjutkan membaca pertanyaan dari Bu Winda. Aku bergegas menuliskan jawabannya. Inti jawaban yang aku tulis adalah bahwa jumlah minimal halaman novel adalah sesuai dengan syarat karya fiksi disebut novel, yaitu sebanyak minimal 40.000 kata atau setara dengan sekitar 150 halaman dengan huruf Times New Roman 12 spasi 1,5.

Sekilas aku melirik Opin menganggukkan kepala saat membaca jawaban yang kutulis. Dengan sigap dia melanjutkan membaca pertanyaan keenam.

“Pertanyaan keenam dari Bapak Ali Mustofa Sragen. Pertanyaannya adalah tentang langkah awal sederhana yang bisa dilakukan penulis pemula agar mudah menulis fiksi. Ayo jawab, Bapak!” kata Opin sambil meninju pelan bahu kananku.

“Oke siap, Mas! Sambil Bapak mengetik, ya. Jawabannya adalah menentukan ide atau tema yang populer. Tentu yang disukai dan dikuasai. Ini penting karena akan memudahkan saat menuliskannya. Tidak kalah penting juga harus menyiapkan outline atau kerangka yang matang. Kerangka ini selain memudahkan menguraikan tema, juga menjadi penjaga agar saat menulis kita tidak keluar jalur. Kerangka utama meliputi tema, premis, latar/setting, penokohan, sudut pandang, dan sinopsis lengkap. Dengan begitu menulis akan menjadi lebih mudah,” jawabku setelah akhirnya menoleh ke arah Opin.

Opin memahami hal itu sebagai sebuah kode untuk melanjutkan. Namun, dia tidak bergegas mengeja rangkaian kata di gawaiku. Dia lebih memilih menyodorkan gawai itu ke arahku.

“Masih banyak ini, Bapak? Bapak mau lanjut atau bagaimana?” tanya Opin setelah menarik kembali gawai yang disodorkannya padaku.

Anggukan kepalaku menjadi jawaban. Jawaban penuh keyakinan yang kemudian berubah menjadi kalimat-kalimat yang memenuhi ruang kerja. Kali ini Opin membacakan pertanyaan ketujuh dari Ibu Nurul Puji Bandung. Aku memahaminya sebagai pertanyaan terkait riset untuk penokohan dan tempat. Aku pun mulai membiarkan jemari kembali menari. Sementara di sampingku, Opin membiarkan sepasang matanya ikut bersamaku tenggelam dalam layar laptop.

Perlahan aku mulai mengetikkan kata demi kata. Akhirnya, satu paragraf utuh berhasil aku tuliskan sebagai jawaban. Ruang kerjaku lebih memilih perayaannya sendiri. Membiarkan tanpa suara sebagai pengiring pestanya. Aku berusaha mengeja kembali rangkaian kata yang telah aku tulis, dalam hati.

“Sama halnya menulis nonfiksi, menulis fiksi pun membutuhkan riset. Riset penokohan dan tempat bisa memanfaatkan internet sebagai sumber riset. Misalnya, tokoh penderita Alzheimer, maka carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang penyakit tersebut. Sedangkan terkait tempat, carilah informasi secara detail. Ciri khas tempatnya, budayanya, kondisi geografisnya, dan sebagainya. Jangan ragu untuk mengeksplorasi tempat tersebut. Namun, tetap tentukan fokus tempatnya agar lebih detail. Akan lebih bagus jika berusaha memperoleh informasi dari teman yang pernah mengunjungi tempat tersebut.”

Hanya ada suara jarum mendetik waktu di dinding ruang kerjaku. Sesekali suara cecak menimpali pada biru yang terhampar di dinding. Sesekali juga tarikan napasku menjadi melodi selepas Opin pergi. Dia izin hendak menyelesaikan tugasnya. Aku pun mengempaskan punggung ke arah bantalan kursi kerjaku. Gulita hadir saat kelopak mataku memilih mencumbu gelap. Di kedalaman penglihatan, samar cahaya menjelma benderang. Dua kata tertulis dengan jelas di bagian tengahnya.

“Istirahatlah dulu!”

Leave a Reply

Your email address will not be published.