[Berani Cerita #12] ~ Sepatu Butut

Aku merasa tidak nyaman. Tidak seharusnya aku memaksakan diri untuk bisa terlihat ‘wah’ di depan tamu-tamu Ayah. Tapi, demi Ayah, orang tuaku satu-satunya, aku rela melakukannya.

Sepatu high heels merah yang kupakai membuatku tertatih-tatih. Ini benar-benar tidak biasa. Sebab aku lebih suka memakai sepatu bututku. Tidak ada alasan apa-apa, selain demi Ayah yang tak pernah bisa melupakan almarhumah Ibu.

Di pesta ini, aku benar-benar menjelma menjadi seorang putri. Ayah terlihat bangga mengenalkan aku pada calon pelanggan barunya. Sementara aku, tetap saja menebar senyum palsu. Kurasakan ada yang kurang saat itu. Kehadiran Ibu.

Pesta pun usai. Aku kembali ke kamar. Kulepas sepatu baruku. Tiba-tiba aku kembali menjadi diriku sendiri. Kulihat di cermin, wajahku kembali biasa saja dengan make up seadanya.

“Bagus, Anakku!”

Ayah yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar mengejutkanku. Dengan tubuh sedikit gemetar aku menoleh ke arahnya. Kutatap Ayah lekat-lekat.

“Dengan begini, sepatu baru Ayah akan laku keras. Dan, kita akan kembali kaya raya.”

Aku terdiam. Bukan ini yang kumau, karena aku bukanlah boneka ayahku. Pun saat aku harus menggunakan sepatu bututku. Sama saja. Aku juga menjadi boneka Ayah.

“Dasar tukang sihir!”

Aku merutuk dalam hati. Sejak menjadi pemuja iblis Ayah memang berubah. Banyak yang datang untuk meminta kekayaan padanya. Terlebih sekarang dengan produk sepatu barunya yang bisa membuat seseorang tampak cantik dari sebelumnya.

“Sekarang pakai sepatu bututmu, Ranti!”

Aku menurutinya. Pasrah. Kuambil sepasang sepatu butut berwarna merah yang mulai memudar. Seketika aku berubah menjadi seperti almarhumah Ibu yang meninggal saat melahirkanku. Sama persis. Dari dalam cermin, kulihat Ayah tersenyum buas ke arahku.

Mendadak airmataku kembali meleleh. “Ini waktunya untuk kembali melayani Ayah,” batinku.

***

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.