Berbincang dengan Petang

“Hai, Petang!”

“Hai juga! Ah! Rasanya lama sekali kau tak membuka suara. Ke mana saja?”

“Tidak ada, Petang. Aku tak ke mana-mana. Hanya berputar-putar saja dengan bahagia sebagai pusatnya.”

“Yakin?”

“Tentu saja. Kenapa harus meragukannya?”

“Aku tak meragukanmu. Hanya penasaran saja. Tentang apa yang membuatmu bahagia. Tentang apa yang membuatmu enggan beranjak dari sekitarnya.”

“Adalah aku. Dirimu yang tak pernah mengeluh saat seharusnya cakrawala menyentuh.”

“Jelaskan padaku, wahai pemilik bahagia. Mau?”

“Begini, Petang. Sebelumnya izinkan aku bertanya. Kenapa kau tak pernah menolak untuk diganti gulita?”

“Karena memang seperti itu seharusnya. Lalu apa hubungannya dengan bahagiamu?”

“Aku pun demikian adanya, Petang. Aku tak pernah mengeluh untuk hari-hari yang berat. Sebab ada malam yang meringankan beban seharian”

“Lalu… Siapakah malammu? Bolehkah kutahu?”

“Malamku adalah kekasihku. Pemilik hati, pemeluk pilu.”

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.