Sebuah dekonstruksi cerita dari pentigraf karya Rosminiyati berjudul Bawang Oh Bawang.

Rini akhirnya mau menonaktifkan gawainya juga saat mendengar seruan ibunya. Dia pun melangkahkan kakinya menuju sumber suara. Setelahnya dengan cekatan dia mengupas dan mengiris bawang. Sementara itu suara langkah kaki ibunya terdengar semakin lama kian menghilang. Sebilah pisau dalam genggamannya bergerak maju mundur teratur. Irama pun seolah tercipta dari pertemuan baja dan talenan kayu. Tanpa disadarinya, sesosok bayangan berkelebat di matanya. Dia mengenalinya sebagai temannya, Wati. Temannya itu duduk di hadapannya. Sedikit terisak dia menceritakan prahara kehidupannya. Sesekali dia menyeka air matanya. Sesekali pula dia terlihat menarik napasnya dalam-dalam.

Rini tersenyum saat teringat cerita temannya bukanlah sebuah kenyataan yang harus didramatisasi. Biasa saja, menurutnya. Dalam senyuman dia pun perlahan menyelesaikan tugasnya. Sambil menahan perih, dia melangkahkan kakinya menuju wastafel di sudut ruangan untuk mencuci tangan. Belum sempat menyalakan keran air, ibunya kembali memanggilnya. Rini pun membatalkan niatnya. Setengah berlari dia menuju ke ruang tamu. Demi mendengar sebuah nama, Rini memutuskan mengurangi laju jalannya. Dengan menahan rasa perih di mata dia membatin, “Ah! Dia lagi!”

Di ruang tamu, Rini melihat temannya sedang menghapus air mata dengan tisu yang ada di meja. Gadis berkulit bersih itu pun menghampirinya. Seperti biasa, cerita panjang lebar mengalir dari bibirnya. Seperti biasa akan ada adegan tambahan yang menguras air mata, menurutnya. Sayangnya, tidak demikian dengan Rini. Dia paham betul dengan apa yang dilakukan temannya itu. Namun, kali ini sungguh berbeda. Rini merasakan perih yang mendalam. Teman Rini terlihat terbata-bata mengucapkan terima kasih karena akhirnya Rini sampai menangis mendengar ceritanya. Rini semakin tak kuasa menahan air matanya. Bahkan sampai cerita itu selesai dan temannya pulang. Setelah semua usai, Rini pun mengucapkan terima kasih pada ibunya. Ibunya pun bertanya, untuk apa? Dengan senyum lebar Rini pun menjawab, “Karena Ibu sudah menyuruh saya mengiris bawang. Jadi saya bisa akting pura-pura ikut-ikutan nangis pas Wati ceritain kisah palsunya. Ha ha ha.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.