Catatan Aksi Nyata Nilai dan Peran Guru Penggerak

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain berbagi kebaikan. Bukan saja tentang materi, melainkan juga terkait ilmu pengetahuan. Sedikit berbagi akan memberikan banyak manfaat kepada yang membutuhkan. Tidak terkecuali berbagi dengan sesama rekan guru di SMP Negeri 3 Lingsar.

Sebuah Upaya

Berbagi hal yang menurut saya sebenarnya biasa, ternyata mampu memberikan hasil yang luar biasa. Betapa tidak. Menulis di blog adalah keseharian saya. Saya memanfaatkan sebagai kebiasaan positif diri sendiri. Namun, sayangnya belum menjadi budaya di sekolah saya. Bagi beberapa mungkin berbagi ilmu blog bukan hal istimewa. Bisa jadi ada yang beranggapan berbagi ilmu blog bukanlah sebuah inovasi baru.

Sebenarnya tidak sepenuhnya benar seperti itu. Menurut saya, setiap tempat tugas memiliki karakteristik kebaruan yang berbeda-beda. Biasa di tempat mengajar seorang guru, tidak berarti istimewa di tempat lain. Di satu tempat mungkin telah menjadi sebuah kebiasaan, bahkan budaya. Tidak salah jika tidak menganggapnya sebagai sebuah inovasi. Namun, bagaimana dengan di tempat lain yang belum menjadi budaya? Menurut saya itu tetaplah sebuah inovasi baru.

LMS Guru Penggerak Modul 1.2.

Guna mengimplementasikan nilai dan peran guru penggerak, saya pun memilih menjadikan menulis di blog sebagai budaya. Bukan tanpa alasan pastinya. Daya dukung perangkat keras dan lunak yang ada di sekolah adalah salah satunya. Antusiasme rekan guru dalam mempelajari hal baru juga merupakan dukungan nyata untuk belajar. Terlebih lagi adanya dukungan penuh dari pihak sekolah yang menjadi jaminan kelancaran pelaksanaan aksi nyata.

Hasil Nyata

Berlangsung selama hampir dua jam di laboratorium TIK sekolah setempat, saya berbagi dalam Pelatihan Membuat Blog. Tidak sampai dua jam, peserta telah berhasil membuat blog dan memublikasikan postingan pertama mereka. Pencapaian yang luar  biasa, bukan? Tentu ini adalah awal yang baik bagi tujuh orang guru mata pelajaran yang mengikuti pelatihan.

Lo kok cuma tujuh orang?

Mungkin ada sebagian yang bertanya demikian. Iya. Saya memang sengaja membatasi jumlah peserta pelatihan. Selain pertimbangan protokol kesehatan, juga terkait rencana saya ke depan. Tujuh orang peserta hari ini (10/5) adalah amunisi bagi saya ke depannya. Merekalah nantinya yang akan menemani saya berjuang menciptakan ekosistem digital di sekolah.

Saya atas persetujuan Kepala Sekolah memang merencanakan pelatihan ini berkelanjutan. Setelah ketujuh peserta ini mampu mengaktualisasikan diri dalam dunia menulis, tugas telah menanti. Mereka akan saya proyeksikan untuk memperluas jangkauan sasaran.

LMS Guru Penggerak Modul 1.2.a.10. Aksi Nyata

Upaya ke Depannya

Siapa saja sasaran berikutnya?

Sasaran berikutnya adalah guru lainnya. Dalam perluasan jangkauan sasaran ini, saya menerapkan sistem Multi Level Marketing (MLM) sesuai kesepakatan kelas pelatihan. Rencana ini muncul saat melakukan diskusi rencana tindak lanjut. Jadi nanti masing-masing guru di tahap pertama ini akan menggandeng dan mendampingi satu orang guru lain untuk belajar mengeblog. Selain itu, tidak lupa mulai membidik murid untuk belajar mengeblog sesuai potensi yang mereka miliki. Tentu dalam hal ini tidak ada paksaan. Tahap awal mungkin hanya menggaet murid yang benar-benar tertarik. Selanjutnya hasil praktik baik mereka akan menjadi pemicu bagi yang lain.

Lha kok enak? Yang akan jadi guru penggerak, kan, Anda, Pak? Masak yang lain juga ikut repot?

Tenang. Sabar dulu. Menurut saya sejatinya nilai dan peran penggerak itu ada pada setiap guru. Bukan hanya calon guru penggerak saja, melainkan setiap guru pada dasarnya adalah seorang penggerak. Melalui metode MLM ini, saya hanya mencoba menggerakkan guru lain agar tergerak juga untuk melakukan perubahan.

Kolaborasi

Apakah kolaborasi dengan rekan sejawat adalah nilai yang harus dimiliki guru penggerak saja? Tentu tidak. Terlalu sempit jika berpikiran bahwa itu hanya tugas guru penggerak saja. Menurut saya, sebuah gerakan tidak akan menghasilkan apa-apa jika kita enggan bergerak bersama-sama. Jika bersama-sama bisa menghasilkan perubahan besar, lantas kenapa seorang guru penggerak harus merasa lebih besar? Tentu bukan seperti itu. Guru penggerak atau bukan menggerakkan pendidikan ke arah perubahan yang lebih baik adalah tanggung jawab bersama semua guru. Benar, kan?

Berangkat dari hal itu, tentu sebagai guru penggerak tidak bisa lepas dari yang namanya kolaborasi. Bagaimanapun juga bentuknya, kolaborasi akan membuat gerakan perubahan menjadi lebih berarti. Jika bisa berkolaborasi, lantas kenapa harus bergerak sendiri-sendiri? Iya, kan?

Nah beruntunglah saya yang memperoleh dukungan dari semua pihak terutama di sekolah untuk bergerak bersama-sama. Mungkin tidak semua guru penggerak akan seberuntung saya. Namun, bukan alasan tidak terus tergerak untuk bergerak dan menggerakkan.

Guru Bergerak, Indonesia Maju!

Salam Bloger Pembelajar

Sudomo
www.eigendomo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.