Catatan Kebahagiaan (1)

Sore tadi saya sedang disibukkan salah satu dengan tugas rutin di kantor LSM, yaitu membuat laporan kegiatan. Di sela-selanya saya menyempatkan diri menulis bab II novel kolaborasi. Sesekali saya juga melirik naskah nonfiksi tentang kerajinan dari kotak bekas yang membutuhkan banyak revisi dari editor nonfiksi Penerbit Gramedia Pustaka Utama agar nantinya bisa menjadi pertimbangan untuk diterbitkan. Tiba-tiba ada notifikasi surel masuk. Saya tidak bergegas membukanya karena masih berkutat dengan ide-ide di kepala. Hingga setelah ide-ide di kepala telah ditumpahkan menjadi deretan kata, saya mengecek email masuk.

Ada debar tak beraturan saat saya membaca pengirim surel tersebut. Di kolom pengirim tertera dengan jelas naskahandi@gmail.com. Saya baru ‘ngeh‘ kalau beberapa minggu sebelumnya, setelah mengikuti kuliah kelas menulis dengan narasumber Pak Edi dari Penerbit ANDI, saya langsung mengirimkan naskah lama yang mengendap di folder laptop. Naskah novel anak itu berjudul Tim Pencari Pesawat Sederhana.

Secara saksama saya pun membaca baris demi baris isi surel tersebut. Dari pembuka surel itu saya tahu kalau Tim Pencari Pesawat Sederhana telah selesai dinilai oleh Tim Penerbit ANDI. Tanpa pernah memiliki ekspektasi tinggi terhadap hasil penilaian naskah, saya meneruskan membaca isi surel hingga selesai. Setelahnya saya pun tahu bahwa naskah yang terpilih sebagai 10 Naskah Pilihan Sayembara Menulis Bahan Literasi Tingkat Mahir yang diselenggarakan Kantor Bahasa NTB tahun 2019 ini dinyatakan diterima oleh Penerbit ANDI. Selanjutnya setelah menambahkan kelengkapan naskah, maka buku akan diterbitkan secara digital dalam bentuk ebook.

Seketika otak pun memerintahkan bibir untuk mengucap kata syukur. Bagi saya diterbitkan secara digital ataupun cetak itu tidak ada bedanya. Keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Akhirnya saya semakin percaya bahwa pada dasarnya tidak ada karya yang sia-sia. Semua karya baik akan membawa ke arah kebaikan yang lebih baik.

Bagaimanapun juga ini merupakan pembuka jalan sekaligus awal yang baik untuk kerjasama ke depannya. Sekaligus juga sebagai motivasi diri untuk menjadi lebih baik dalam menciptakan karya.

Terima kasih tak terhingga untuk teman-teman kelas menulis gelombang ke-16. Berkat kalian semua saya sadar bahwa menulis adalah sesuatu yang harus terus-menerus dipelajari. Terima kasih juga kepada Omjay dan semua narasumber hebat atas ilmu, inspirasi, dan motivasi dalam menulis. Tidak lupa kepada Pak Edi dan Penerbit ANDI yang telah berkenan membukakan jalan bagi karya saya untuk memperkaya khasanah bacaan anak-anak Indonesia. Sekaligus sebagai sumbangsih bagi kemajuan literasi negeri ini.

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.