Cincin Mirah Delima

Di mana?

Aku mencari-cari cincin yang kuambil dari kekasihku setelah dia memutuskan memilih lelaki lain minggu lalu. Aku tidak punya pilihan selain membalas perlakuannya padaku yang telah rela menunggu.

Semalam, setelah merasa aman, aku meletakkannya di atas meja sebelum akhirnya ketiduran. Sampai pagi membangunkanku. Cincin itu hilang.

Jangan-jangan ibu?

Ah! Tidak mungkin. Apa urusannya. Toh ibu sudah menjadi orang asing bagiku sejak dia tidak menyetujui hubunganku dengan Sinta, setahun lalu saat kuputuskan bertunangan.

Sekarang, sepertinya ibu benar. Sinta bukan jodohku. Kesungguhanku bukan jaminan. Apalah aku yang hanya penulis serabutan.

Ciittt! Ciittt!

Suara itu tiba-tiba mengalihkan perhatianku dari meja. Aku mendekat, menelanjangi bawah lemari. Sekali dorong, kotak persegi dari plastik itu bergeser, bersamaan dengan seekor tikus berlari.

Cincin mirah delima itu berpindah ke tanganku. Kuperhatikan setiap sisinya. Tidak ada cacat. Beberapa bagian masih merah, termasuk bagian bekas gigitan tikus.

Ah! Semalam setelah membuang mayat Sinta, aku lupa langsung memasukkan jari manis kekasihku itu ke dalam toples berisi larutan formalin yang telah kusiapkan.

0 Comments

  1. Its such as you read my mind! You appear to understand a
    lot approximately this, such as you wrote the e book in it or
    something. I think that you could do with some percent to power the message
    home a bit, but instead of that, that is excellent blog.
    A fantastic read. I will certainly be back.

Leave a Reply

Your email address will not be published.