Denah Tanpa Arah

Sepasang mataku menatapmu nanar dan bergerak-gerak menyusuri bagian tubuh persegimu. Tubuh persegi yang akan mengantarkan aku pada sebuah kenyataan. Bagian tepimu sudah lusuh sebagian. Tetapi warna merah mudamu masih tampak menggoda mataku.

Pada satu titik aku belok kanan dan menyusuri tubuhmu di mataku. Garis mendatar lurus yang terangkai bersama anak panah di tubuhmu terlukis diantara sederet tulisan kartu undangan.

Di ujung denah mataku terpaku. Menatap wajah cantik yang namanya tertulis di sampulmu. Wajah cantik itu merona di kursi pelaminan. Wajah cantik kekasihku. Tidak sendiri tetapi bersama mempelai pria, sahabatku.

Di ujung tubuhmu aku membelokkan hatiku. Berlari ke arah yang seharusnya aku tuju. Jalan ke rumahku yang tidak terlukis di denah itu.

0 Comments

    1. Tengkiyu apresiasinya mbakyu..lagi ikutan Dekadies 111 Kata @jejakubikel..sori lom sempat berkunjung balik..soal’e wis langganan dadi tinggal baca di e’mail..:))

Leave a Reply

Your email address will not be published.