Hari ini, kurang lebih tiga belas ribu senja yang lalu, aku terlahir dari rahim seorang perempuan hebat. Satu-satunya perempuan yang sanggup membuatku meneteskan air mata. Air mata karena sampai saat ini aku belum bisa membuat beliau bangga pernah melahirkan aku.

Hari ini, hampir lima ratus purnama, aku mendesah dalam setiap titik semesta yang indah. Desah indah yang mungkin tak ada artinya bagi sebuah hati. Hati yang dititipkan di separuh hatiku.

Hari ini, hadir lagi, dengan sejuta tanya tentang siapa diri. Diri yang selama ini mendesah sendiri. Diri yang jauh dari kata berarti dalam hidup ini. Entah bagaimana lagi aku merajut hari. Yang pasti diri masih diselimuti tekad untuk berbenah diri.

Hari ini, mendesah kembali, mendesah dalam gundah untuk temukan makna terindah. Makna terindah atas karunia yang melimpah. Bersimpuh diri untuk menjadi lebih berarti. Bagi semesta dan seluruh isi bumi.

Mataram, 27 Maret 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published.