#FF2in1 – Lima Tahun Lalu

“Aku belum siap!”

“Aku tak memaksamu, Asha. Aku akan menunggu.”

Kulihat Asha menunduk. Ia hendak pergi saat aku mencengkeram lengannya. Sama sekali tak ada penolakan. Aku tahu itu. Sepuluh tahun mengenalnya cukup bagiku untuk mengetahui segala hal tentang dirinya. Ia pun tak beda jauh denganku. Sebenarnya. Aku tahu ia juga memiliki perasaan yang sama.

“Tolong kasih aku waktu, Ren.”

“Iya, Sha. Aku selalu nunggu sampai kamu benar-benar siap, kok.”

Aku pun akhirnya memilih untuk sementara menjauh darinya. Aku tahu persis rasanya kehilangan orang yang dicintai. Bukan tanpa alasan. Aku pernah merasakannya lima tahun lalu saat ayah meninggal karena sakit tua dan menjadikanku seorang yatim piatu. Sama persis dengan kematian orang yang paling dicintai Asha.

Beruntung di usia yang hampir sebaya dengan Asha, tiga puluh tahun, aku kuat. Terlebih aku juga telah memiliki pekerjaan tetap rasanya bisa membahagiakan Asha. Namun masalah hati tidaklah mudah. Apa pun yang terjadi aku bertekad menunggu Asha siap, meskipun sampai seribu tahun lamanya. Demi cintaku padanya, meskipun aku tahu kalau sebenarnya ia belum bisa melupakan almarhum suaminya — ayah kandungku.

– mo –

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.