Galau Malam

Bias asa kala senja hadirkan putus asa kala malam menggoda. Binar di mata tak lagi sebening embun pagi. Meleleh dari ujung daun bersama hujan kepagian yang hadir menyapa bumi tadi pagi. Sayangnya kamu bukanlah hujan, dan tak akan mungkin menjadi hujan. Hujan yang selalu setia menyapa bumi kalau tiba saatnya, bahkan di pagi buta sekalipun. Hujan yang membuatku cemburu, karena telah berhasil merayumu dalam beku. Sementara aku, hanya bisa sekedar menatap senyummu sekedarnya saja. Itupun jauh di dunia mayaku yang entah kapan lagi akan kembali menjadi nyata. Semu yang semakin lama semakin membuatku terpuruk dalam kelu. Kelu yang sudah tak mampu lagi membuatku tersedu. Air mataku sudah habis kaucecap, saat kau memanggilku tidak seperti biasanya. Panggilan yang tidak akrab di hatiku, apalagi gendang telingaku. Tapi kau masih juga bersikukuh dengan teguh bahwa aku yang telah berubah dalam peluh. Aneh.

Apa benar semua karena aku yang mengawali? Kalaupun toh itu benar, apa kamu tidak pernah berupaya merangkai tautan hati kita yang terkoyak? Harus aku juga? Kenapa harus aku? Bukankah kita sama-sama punya hati? Bukankah kita sama-sama saling mencintai? Mungkin. Aku tak tahu pasti, yang aku tahu sampai saat kauberucap tak mencintaiku lagi, aku masih tetap mencintaimu. Salahkah aku mencintaimu? Kalau memang mencintaimu adalah sebuah kesalahan, mengapa Tuhan menciptakan cinta di hatiku? Ah entahlah. Yang aku tahu Tuhan Maha Cinta. Cinta yang takkan pernah terbantahkan oleh manusia.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎.m.a.z.m.o.♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Ujung Malam, 14 April 2011

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.