Guru Kok TikTokan?

http://gurupenggerakindonesia.com

“Guru kok Tiktokan?”

Entah sudah berapa kali saya mendengar kalimat itu. Sebuah kalimat yang justru datang dari rekan sejawat. Saya pribadi tidak peduli dengan kalimat yang mereka tujukan. Saya justru berterima kasih karena kalimat itu akhirnya memotivasi saya untuk berbuat lebih. Kalimat tersebut membuat saya bisa berkreasi menggunakan aplikasi TikTok untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Dan, secara luas justru membuat saya termotivasi menjadi guru penggerak bagi sejawat untuk menciptakan ide dan kreativitas pembelajaran yang menyenangkan berbasis teknologi.

Apa Peran Teknologi dalam Pembelajaran?

Pembelajaran menyenangkan dapat diciptakan dengan memanfaatkan teknologi terkini. Berbagai bentuk dan jenis teknologi memiliki kedudukan dan peran masing-masing dalam turut mendukung pembelajaran daring dan luring.

Kedudukan teknologi ditunjang oleh kemampuan dan kreativitas guru memanfaatkannya. Termasuk juga kemampuan siswa menggali potensi diri memanfaatkan teknologi pembelajaran dari sumber-sumber yang tidak terbatas. Selain dari dua kedudukan tersebut, menurut Deni Darmawan dalam bukunya berjudul Teknologi Pembelajaran ada tiga kedudukan lain teknologi yang mengarah pada teknik operasional yaitu: 1) Mempermudah kerja sama antara pakar dan peserta didik, menghilangkan batasan ruang, jarak, dan waktu. 2) Sharing Information, sehingga hasil penelitian dapat digunakan bersama-sama dan mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan. 3) Virtual University, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak.

Menurut Siahaan dalam jurnal yang diterbitkan RI’AYAH, Vol. 01, No. 02 Juli – Desember 2016 berjudul  E-Learning (Pembelajaran Elektronik) sebagai Salah Satu Alternatif, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memiliki tiga peranan, yaitu:

  1. Peran tambahan (suplemen). Peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran melalui TIK atau tidak. Sekalipun sifatnya hanya opsional, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.
  2. Peran pelengkap (komplemen). Materi pembelajaran melalui TIK diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran melalui TIK diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) yang bersifat enrichment atau remedial bagi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
  3. Peran pengganti (substitusi). Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/pembelajaran kepada para peserta didiknya. Tujuannya adalah untuk membantu mempermudah para peserta didik mengelola kegiatan pembelajaran/pembelajarannya sehingga para peserta didik dapat menyesuaikan waktu dan aktivitas lainnya dengan kegiatan pembelajarannya. Sehubungan dengan hal ini, ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih para peserta didik, yaitu apakah mereka akan mengikuti kegiatan pembelajaran yang disajikan secara (1) konvensional (tatap muka) saja, atau (2) sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan (3) sepenuhnya melalui internet.

Peran tersebut hanya dapat berjalan dengan baik jika guru, orang tua, dan siswa dapat dengan bijak menggunakannya. Sejauh ini guru telah melakukan berbagai inovasi pemanfaatan teknologi dalam menciptakan pembelajaran menyenangkan. Namun, sayangnya kenyataan di lapangan seringkali tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Kenapa Gagal Menciptakan Pembelajaran Menyenangkan?

Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan implementasi pembelajaran yang telah dirancang oleh guru. Sebaik apa pun rancangan tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua pihak terkait, baik itu siswa maupun orang tua. Meskipun apa yang telah dilakukan oleh guru tidaklah sia-sia, tetapi setidaknya ada ketidakpuasan setelah selesai proses pembelajaran.

Beberapa penyebab kegagalan tersebut di lapangan di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Guru seringkali lupa kalau orang tua dan terutama siswa memiliki standar ‘menyenangkan’ yang berbeda. Saat memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran, guru sejatinya hanya berusaha membuat pembelajaran yang menyenangkan. Guru tidak pernah tahu pasti apakah siswa senang dengan teknologi yang digunakan dalam proses pembelajaran ataukah tidak. Guru sebenarnya hanya ‘menduga-duga’ bahwa kreativitasnya memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran itu menyenangkan bagi siswa. Kenyataannya? Belum tentu.
  2. Pembelajaran menyenangkan masih didominasi peran guru dalam menciptakannya. Sampai saat ini seseorang dianggap guru berprestasi jika mampu berkreasi dalam melakukan inovasi pembelajaran. Sebagian inovasi yang dilakukan tidak lepas dari peran teknologi. Hanya saja dalam proses pemanfaatannya belum bisa diukir tingkat kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
  3. Belum adanya pelibatan langsung/kolaborasi murid dalam penciptaan pembelajaran yang menyenangkan. Hal ini yang belum banyak dilalakukan guru dalam pemanfaatan teknologi. Padahal sejatinya ini adalah kunci pembuka keberhasilan penciptaan pembelajaran yang menyenangkan dengan memanfaatkan peran teknologi, baik sebagai suplemen, komplemen atau substitusi. Pelibatan langsung dalam bentuk kolaborasi ini menjadi sangat vital karena bias sekaligus digunakan sebagai pengukur kebutuhan siswa dan orang tua terhadap pemanfaatan teknologi.

Apa yang Harus Dilakukan Guru?

  1. Melibatkan siswa dan orang tua dalam bentuk kolaborasi pemanfatan teknologi dalam proses pembelajaran yang menyenangkan. Hal ini dilakukan di awal proses pembelajaran daring dan luring serta sebelum guru melakukan penetrasi terhadap pelaksanaan proses pembelajaran. Kegiatan awal ini akan memberikan dampak positif terhadap ketertarikan siswa terhadap proses pembelajaran memanfaatkan teknologi yang akan dilaksanakan. Sedangkan bagi orang tua, hal ini akan memudahkan mereka dalam melakukan proses pendampingan.
  2. Melakukan trial and error atas inovasi memanfaatkan teknologi yang dilakukan. Aktivitas ini merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan untuk menemukan inovasi pembelajaran yang benar-benar sesuai kebutuhan siswa dan orang tua. Berbagai inovasi pembelajaran layak dicoba untuk mengetahui pemanfaatan teknologi yang mana yang diinginkan sesuai potensi dan kondisi siswa beserta orang tua.
  3. Menyusun penilaian tingkat kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Kegiatan dilaksanakan untuk memberikan gambaran terhadap pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Aktivitas bersama siswa dan ornag tua ini berupa refleksi pada akhir pembelajaran. Hasil refleksi dijadikan bahan perbaikan ke depannya.

Untuk dapat melakukan ketiga langkah tersebut guru harus menentukan terlebih dahulu jenis dan bentuk teknologi yang akan digunakan. Beragam pilihan bisa dicoba. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan aplikasi TikTok.

Kenapa Harus TikTok?

Teknologi audio visual berbasis media sosial ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat sekarang ini. Tidak heran jika TikTok mampu menjadi aplikasi dengan jumlah unduhan terbanyak. Setidaknya sudah diunduh sebanyak 104 juta kali, baik di Google Play Store maupun AppStore.

Diakui atau tidak, saat ini TikTok adalah raja media sosial bagi generasi milenial. Bahkan bisa dianggap platform fenomenal ini adalah milik mereka. Hal ini terlihat dari demografi pengguna TikTok yang didominasi oleh usia 16 – 24 tahun dengan berbagai kreativitasnya.

TikTok telah mendunia. Salah satunya adalah Indonesia. Bahkan Indonesia tercatat sebagai negara pengunduh TikTok terbanyak sepanjang Agustus 2020 sebesar 11 persen dari total unduhan. Menurut data dari Sensor Tower, total unduhan TikTok berjumlah lebih dari 63,3 juta meningkat 1,6 persen dari Agustus 2019.

Aplikasi hasil teknologi audio visual ini memiliki peran dalam perkembangan mereka. Terutama perkembangan dalam segi kreativitas pembuatan video. Kreativitas positif yang harus didukung. Namun, bukan berarti tanpa pengawasan dan bimbingan. Dibutuhkan kolaborasi antara guru dan orang tua dalam membimbing pemanfaatan media sosial ini. Selain itu, juga mampu menjadi pengusir stres saat siswa menjalani belajar di rumah.

Kehadiran dan kejayaan TikTok adalah peluang sekaligus tantangan bagi guru untuk memanfaatkan produk teknologi terkini ini. Fenomena TikTok yang bisa menjadi sarana berbagi informasi merupakan lahan baru untuk digarap oleh seorang guru. Hal ini juga sekaligus bisa digunakan sebagai kontra narasi bagi konten-konten TikTok yang negatif atau kurang bermanfaat.

TikTok dan Pembelajaran Menyenangkan

Dari uraian di atas, salah satu produk teknologi yang dapat berperan dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan adalah aplikasi video singkat TikTok. Dengan memanfaatkan teknologi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa merupakan jaminan keberhasilan menciptakan proses pembelajaran daring dan luring yang menyenangkan.

Langkah-langkah pembelajaran menyenangkan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Membuat materi video pembelajaran dengan durasi 60 sekon sesuai standar TikTok dengan memanfaatkan aplikasi pembuat materi video berupa Canva dan aplikasi pengedit video, Power Director. Mungkin langkah ini akan sedikit ribet. Namun, tidak perlu khawatir karena proses pembuatan video materi pembelajaran dapat langsung dilakukan menggunakan aplikasi TikTok. Dalam aplikasi ini telah disediakan fitur perekam suara, penambahan gambar, penulisan teks, dan musik latar. Semua bisa digunakan sesuai kebutuhan;
  2. Membuat contoh soal dengan durasi 60 sekon. Langkah yang dilakukan sama dengan membuat materi video pembelajaran. Hal ini dilakukan secara terpisah mengingat keterbatasan durasi yang disediakan. Namun, tidak perlu khawatir, aplikasi TikTok menyediakan fitur menyimpan video, sehingga siswa dapat kembali mempelajarinya sewaktu-waktu;
  3. Membuat tugas dengan durasi 60 sekon. Mengingat keterbatasan durasi, pemberian tugas bisa dilakukan berkali-kali dalam beberapa video singkat. Kelebihan TikTok terkait pemberian tugas ini adalah guru bisa mengaktifkan fitur duet, sehingga memungkinkan siswa terlibat langsung dalam menjawab soal dan tugas. Demi kemudahan guru, video duet bisa diunduh dan dapat digunakan sebagai data dalam pemberian nilai, kapan saja.
Akun TikTok Penulis

Dari kondisi tersebut, rasanya wajar saja jika guru juga TikTokan. Sebab bagaimanapun setiap orang juga berhak menggunakan aplikasi video singkat ini. Tergantung pada kreativitas dan tujuan penggunaannya. Sebagai seorang guru tentu penggunaan TikTok disesuaikan dengan perannya sebagai seorang pendidik. Ingat! Segala bentuk teknologi terkini memiliki perannya masing-masing. Tergantung kreativitas guru dalam memanfaatkannya untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan. Dan, kita semua bisa menjadi penggerak bagi terciptanya pembelajaran daring dan luring yang menyenangkan.

Jadi, tidak perlu khawatir lagi dengan stigma negatif atas sebuah pertanyaan, “Guru kok Tiktokan?“.

“Untuk meyakinkan pembelajaran yang kita lakukan menyenangkan siswa, tidak ada salahnya sesekali kita ikut memasuki dunia kecilnya”

Simak: Contoh video materi pembelajaran menyenangkan dengan memanfaatkan aplikasi TikTok

Profil Penulis

Sudomo, S.Pt.

Pria kelahiran Sukoharjo tanggal 27 Maret 1975 ini adalah seorang pencinta formula fisika, gejala alam semesta, dan rangkaian kata. Alumni Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang dan Akta IV Kependidikan Universitas Mataram ini mengaku cinta mati dengan serpihan surga di bumi, pulau Lombok. Bagi pria yang aktif mengajar sebagai PNS sejak tahun 2006 di SMP Negeri 3 Lingsar Kabupaten Lombok Barat ini, menulis adalah sebuah proses belajar menumpahkan ide-ide di kepala. Selain mengajar, pemilik nama pena Momo DM ini juga aktif di kegiatan sosial perlindungan anak dan komunitas literasi perpustakaan jalanan ‘Buku Ini Aku Pinjam’ Mataram. Guru yang tidak bisa sertifikasi karena terkendala linearitas jurusan dan bidang studi ini memiliki semboyan hidup ‘pada
akhirnya akan menjadi besar dengan belajar dari hal-hal kecil di sekitar’. Pemilik akun Instagram @momo_DM dan Twitter @momo_DM ini percaya, bahwa menulis merupakan upaya mengenali dan menemukan jati diri. Pencarian jati dirinya berawal dari kegemarannya membaca sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kebiasaan yang pada akhirnya membuatnya begitu mencintai dunia literasi, baik lewat karya maupun kompetisi.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.