Guru Pembelajar Merdeka Mengajar

Guru pembelajar, merdeka mengajar.

Satu hal yang sangat menyenangkan, bukan? Tentu saja. Dengan merdeka mengajar, guru akan lebih nyaman dalam mengeksplorasi kompetensi diri. Selain itu, guru juga akan lebih leluasa mengembangkan pembelajaran sesuai kekuatan dan potensi yang dimiliki murid. Bagaimanapun juga di era merdeka belajar saat ini, murid bukan lagi objek pendidikan, melainkan subjek pendidikan.

Kenapa Guru Harus Merdeka Mengajar?

Diakui atau tidak hingga saat ini guru masih belum benar-benar merdeka mengajar. Faktanya adalah masih banyak guru yang mengajar hanya sekadar menunaikan kewajiban. Guru pun ada yang mengajar dalam tekanan jadwal mengajar. Belum lagi guru yang masih dijajah pembelajaran konvensional ceramah. Memangnya salah? Ya tentu saja tidak, dong. Asalkan tujuan pembelajaran tercapai. Toh pada akhirnya itu kembali kepada masing-masing individu. Mau merdeka mengajar atau tidak.

Hal ini berbeda dengan seorang guru pembelajar. Guru pembelajar menunaikan tugas mengajar sebagai sarana belajar. Baik itu belajar dari kelebihan maupun kekurangan saat melaksanakan proses pembelajaran. Belajar dari kelebihan, guru pembelajar akan berusaha meningkatkan kompetensi berdasarkan potensi diri. Belajar dari kekurangan, guru tidak segan melakukan perbaikan demi perbaikan ke depan. Guru pembelajar lebih terbuka terhadap kemajuan teknologi. Baginya belajar bisa dari mana saja dan siapa saja. Bahkan tidak ragu mencoba hal baru yang menurutnya menyenangkan dalam mengajar.

Menjadi guru pembelajar akan memiliki banyak persediaan ide dan gagasan dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Sosok ini akan mudah beradaptasi dalam segala situasi. Baginya mengajar bukan lagi tuntutan kewajiban, melainkan tuntunan kebaikan. Dengan demikian dia bisa merdeka mengajar. Merdeka mengajar akan membuat seorang guru lebih fleksibel menentukan sumber, media, strategi, model, dan metode mengajar. Selain itu, guru juga lebih mudah mengembangkannya di luar proses pembelajaran.

Lomba Blog SATUGURU

Dalam artian, merdeka mengajar sebenarnya tidak saja terpaku pada saat proses pembelajaran berlangsung. Namun, bisa sebelum atau setelah berlangsungnya proses pembelajaran. Artinya, mengajar bisa kapan saja dan di mana saja. Memanfaatkan lingkungan ataupun ekosistem sekolah setelah proses pembelajaran selesai menjadi salah satu pilihan untuk belajar. Mengadakan kegiatan belajar dengan memanfaatkan lingkungan kelas di luar jam pelajaran juga bisa menjadi pilihan. Kreativitas inilah yang menjadi ciri guru pembelajar yang merdeka mengajar.

Pengalaman Mengajar yang Menyenangkan

Mengajar sebenarnya bukan saja saat proses pembelajaran sesuai jadwal yang ada di sekolah. Melainkan juga di luar proses pembelajaran. Baik dalam ataupun di luar proses pembelajaran, mengajar yang menyenangkan adalah kunci keberhasilan. Agar bisa menyenangkan tentu guru harus merdeka mengajar.

Pengalaman di lapangan membuktikan, bahwa menjadi seorang guru pembelajar akan membuatnya merdeka mengajar. Sebagai salah satu contoh, yaitu belajar mengelola komunitas praktisi di sekolah. Dengan merdeka mengajar, seorang guru bisa bebas menentukan program kegiatan sesuai kebutuhan sejawat. Misalnya, pelatihan pemanfaatan blog sebagai media alternatif pembelajaran bagi guru di sekolah. Pelatihan ini pada akhirnya akan membuat guru lain memiliki alternatif dalam mengajar. Artinya, mereka juga akan merdeka mengajar.

Lomba Blog SATUGURU
Merdeka Mengajar Melalui Pelatihan Pemanfaatan Blog Bagi Komunitas Praktisi di Sekolah

Pengalaman lain yang menyenangkan adalah terkait kebebasan dalam menentukan sumber belajar. Dalam penentuan ini tentu menyesuaikan dengan lingkungan kelas impian murid. Melalui kegiatan pengelolaan lingkungan yang menyenangkan, guru memiliki alternatif sumber belajar, yaitu lingkungan sekolah. Dengan demikian guru merdeka mengajar di mana saja, baik di kelas maupun luar kelas.

Merdeka Mengajar dalam Pengelolaan Lingkungan Kelas yang Menyenangkan

Selain itu, pengalaman lain yang menyenangkan dalam merdeka mengajar adalah proses pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional. Kenapa demikian? Dalam proses pembelajaran ini, guru bisa menentukan beragam pendekatan berdasarkan kebutuhan belajar murid. Pendekatan yang dilakukan ini meliputi minat, kesiapan, dan profil belajar murid. Sedangkan terkait pembelajaran sosial dan emosional, guru memiliki banyak pilihan ruang lingkup dan kompetensi sosial emosional pada saat mengajar. Berbagai pilihan tersebut meliputi ruang lingkup integrasi dalam pembelajaran, kegiatan rutin di luar pembelajaran, dan budaya/protokol. Terkait kompetensi, bisa memilih kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, kemampuan berinteraksi sosial, dan keputusan yang bertanggung jawab. Guru akan menjadi merdeka mengajar dengan beragam pilihan tersebut. Tentu dengan syarat sesuai tujuan pembelajaran.

Merdeka Mengajar dalam Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional

Tidak kalah menyenangkan bagi guru pembelajar yang merdeka mengajar adalah bisa menentukan waktu pelaksanaan mengajar di luar mata pelajaran yang diajarkan. Proses mengajar ini bisa dilakukan kapan saja. Sebagai contoh, di lapangan adalah pelaksanaan kegiatan peningkatan kepemimpinan murid dalam literasi berdiferensiasi di kelas. Dalam program dengan murid sebagain perencana dan pelaksana ini, guru bersama murid memiliki kebebasan menentukan jenis bacaan sesuai minat murid. Guru bisa memilih mengajarkan karakter tanggung jawab, mandiri, kerjasama ataupun karakter-karakter utama dalam profil pelajar Pancasila kepada murid dalam kegiatan ini. Menyenangkan, bukan?

Merdeka Mengajar Melalui Program Kepemimpinan Murid dalam Literasi Berdiferensiasi di Kelas

Untuk bisa mewujudkan merdeka belajar bagi murid, terlebih dahulu guru harus memahami makna sesungguhnya dari merdeka mengajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.