.:. Hilang untuk Kembali .:.

⌣·̵̭̌✽̤̥̈̊·̵̭̌⌣

“Kenapa, Nak? Kok menangis.”

“Ayah saya hilang, Bu.”

Usianya belum enam tahun. Menangis di pinggir jalan. Sendirian. Saat itu aku baru pulang dari dokter kandungan. Memeriksakan kehamilan pertamaku setelah sepuluh tahun menikah.

“Bagaimana ceritanya?”

“Seminggu yang lalu Ayah dan Ibu bertengkar. Lalu ayah meninggalkan ibu dan saya begitu saja.”

“Begitu ya, pasti kamu lapar kan. Ayo ikut Ibu ke rumah. Setelah itu baru kita lapor polisi. Bagaimana?”

“Iya, Bu.”

Tak lama, aku sudah akrab dengannya. Anak itu sekarang terlihat lebih ceria. Sesampai di rumah aku mengajak anak itu makan. Suasana begitu akrab. Aku pun bahagia bisa merasakan menjadi seorang Ibu.

Sesaat kemudian, suamiku datang. Suamiku terkejut ada anggota baru di meja makan. Dia memperhatikan baik-baik.

“Erik?”

Anak itu menoleh.

“Ayah!”

Aku seketika lemas.

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̈♡̬̩̃̊‎ @momo_DM ♡̬̩̃̊‎✽̤̈·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.