Ikut Program Guru Penggerak, Untuk Apa?

Berawal dari ketika sama-sama sedang menyelesaikan tugas Diklat Program Guru Belajar Kemendikbud RI. Setelah mengunduh sertifikat Diklat, mengisi jeda menunggu pelaksanaan Bimtek dengan membuka informasi tentang Program Guru Penggerak Angkatan II. Aku dan beberapa rekan sejawat sepakat tidak mengikutinya.

Waktu terus berjalan hingga tiba-tiba ada pesan masuk dari Ketua MGMP IPA Lombok Barat. Dan, entah kenapa aku langsung mengiyakan permintaan beliau. Sejak saat itu aku resmi menjadi peserta Sosialisasi Program Guru Penggerak Kemendikbud RI bagi guru wilayah kabupaten Lombok Barat. Aku pun mengikuti Zoom Meeting sosialisasi secara ‘biasa’ saja sekadar formalitas.

Sikap itu terbawa bahkan setelah masuk grup WA. Berada di antara orang-orang hebat yang siap menjadi agen perubahan belum mampu menggerakkan hatiku. Menghapus percakapan grup adalah aktivitas yang aku senangi, saat itu. Termasuk pesan masuk yang bahkan belum aku baca secara utuh. Terlebih diskusi yang terjadi di grup. Aku sama sekali tidak mengikutinya.

Sumber: Web Guru Penggerak

Namun, tepat tanggal 7 November 2020 semua berubah. Aku bergegas mengisi formulir izin kepala sekolah dan rekomendasi rekan sejawat. Dan, menjelang siang berkas-berkas pun telah siap. Aku segera masuk ke web Guru Penggerak. Setelah login akun, aku melengkapi bagian Curriculum Vitae, aku masuk ke bagian Esay.

Di bagian ini, keyakinanku benar-benar diuji. Saat membuka bagian Esay, aku cukup lama terdiam, menimbang. Kegamangan mendadak menyergap relung hati dan perasaan. Berbagai pertanyaan lahir dari ketidakyakinan.

“Ikut tidak, ya?”

“Lolos seleksi tidak, ya?”

“Kenapa harus ikut?”

“Bagaimana jika gagal?

Dan, masih banyak pertanyaan lainnya berkecamuk. Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya menyingkir, satu per satu. Tepat saat aku mulai membuka soal pertama bagian Esay. Saat itu langsung terlintas dalam benakku, “Aha! Ide tulisan!”

Sumber: Web Guru Penggerak

Kenapa tiba-tiba terbersit pikiran itu?

Bukan tidak lain karena soal-soal Esay ini membutuhkan jawaban berupa pengalaman pribadi selama mengajar. Semua pengalaman dalam berbagai aspek terangkum sebagai jawaban tiap pertanyaan. Dari jawaban-jawaban itu aku menyadari banyak sekali hal yang harus segera dibenahi. Bukan saja perihal pengembangan diri pribadi, tetapi juga upaya menginspirasi. Terlebih kondisi di sekitarku yang membutuhkan banyak sentuhan untuk bisa berubah. Dan, itu membutuhkan sosok yang bisa menjadi agen perubahan, guru penggerak.

Hal itulah yang membuatku kemudian berpikir untuk menjadikannya sebagai ide tulisan. Kalaupun pada akhirnya gagal lolos seleksi tahap selanjutnya (berharap, sih, bisa terus lolos), setidaknya aku memiliki tabungan ide menulis. Tidak rugi juga, kan?

Dan, akhirnya beberapa saat setelah azan Asar berkumandang aku memutuskan rehat sejenak. Sekadar memastikan semua telah selesai. Dan setelah benar-benar yakin, aku tidak lahi menekuni papan ketik komputer, Esay pun berhasil aku selesaikan. Hasilnya? Entahlah. Satu yang pasti, jawaban-jawaban itu adalah praktik baik yang aku lakukan selama 14 tahun mengabdikan dan berbagi pengetahuan.

Sebab sejatinya selalu ada jalan bagi yang mau berbagi kebaikan

Sumber: Web Guru Penggerak

Jika nantinya tidak bisa berbagi pengalaman melalui Program Guru Penggerak, setidaknya aku masih bisa berbagi inspirasi lewat tulisan. Baik itu berbagi pada diri-sendiri, juga rekan sejawat sebagai kelompok terdekat. Sama-sama bisa menjadi agen perubahan melalui berbagi bukan?

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.