#KamisMenulis – Teruslah Cintai Literasi, Anakku!

Halo, Ayah Hebat!

Tahun ini terasa lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya. Meskipun secara matematis sebenarnya sama saja, tetapi tidak secara rasa. Banyak hal yang membuat waktu seolah terseok-seok menuju penghujung tahunnya. Banyak kejadian dan perkara tak terduga. Mau tidak mau manusia harus bisa bergegas menyesuaikan diri dengan segala yang terjadi. Tidak terkecuali sebagai orang tua termasuk di dalamnya seorang ayah.

Kenangan

Selama setahun berjalan, pasti ayah menyimpan banyak kenangan tentang buah hati. Terutama yang memiliki buah hati usia balita. Setiap detik bersamanya adalah pengalaman baru. Namun, kadang kita tanpa sadar melewatkannya begitu saja. Memilih menenggelamkan diri dalam pekerjaan sepertinya penyebab kehilangan detik bersama balita.

Tidak terkecuali saya yang memiliki dua tempat kerja. Mau tidak mau harus fokus pada keduanya tanpa mengesampingkan kehadiran balita. Namun, ternyata itu tidak mudah. Setidaknya saya telah berusaha mencoba mengatur waktu sebaik-baiknya. Salah satunya adalah dengan mendekatkan buah hati pada literasi saat menghabiskan waktu bersama.

Tentang upaya mendekatkan literasi pada buah hati, saya tidak melulu tentang mengenalkan pada buku. Banyak kenangan usaha yang saya lakukan. Salah satunya adalah lewat cerita. Saya sering bercerita tentang apa saja dan sesekali memintanya menceritakan kembali pada kesempatan lainnya. Dari sebuah cerita yang sudah dikenalnya, saya melanjutkan mengenalkan sumber cerita. Saya ingat betul, sejak lama saya sering menceritakan padanya tentang cerita rakyat Timun Mas.

Ketika telah mengetahui dia tertarik dengan cerita tersebut, saya pun tidak menyia-nyiakannya. Saya mulai menyisir toko buku mencari buku cerita rakyat. Setelah menemukan, saya pun bercerita padanya bahwa buku tersebut adalah sumber cerita yang sering didengarnya.

Kenyataan

Kenyataan yang ada, dia pun semakin tertarik membuka buku cerita yang saya belikan untuknya. Pada awalnya dia hanya tertarik pada gambarnya saja. Lambat laun dia pun mulai nyaman saat saya membacakan lembar demi lembarnya. Seringkali saat dia jenuh dan memilih melihat gambar tanpa diceritakan, saya justru memintanya menceritakan gambar dalam buku tersebut.

Dengan keterbatasan kemampuan penguasaan bahasa yang dimilikinya, dia pun bisa menceritakan. Meskipun sedikit terseok-seok, tetapi dia bisa menceritakan gambar dengan alur yang runut. Untuk Menjaga agar tetap runut, saya seringkali memotong ceritanya atau memancing dengan pertanyaan untuk membetulkan alurnya. Perlahan-lahan dia pun mengulang cerita dengan alur yang lebih runut.

Terkadang saya memilih membiarkan dia menceritakan gambar suka-suka dia sesuai imajinasinya. Menurut saya ini sah-sah saja. Toh pada dasarnya tidak ada perihal benar atau salah tentang cerita rakyat atau legenda yang beredar. Yang terpenting adalah pada pembelajaran positif di dalamnya. Bagi saya setidaknya pembiasaan seperti itu merupakan awal yang bagus menumbuhkan kecintaannya pada buku.

Harapan

Dari pembiasaan baik yang meskipun kadang terlewat, terbersit asa dari usaha. Asa untuk diri sendiri pun buah hati. Pada diri semoga tetap istikamah mencintai dan menyebarkan virus literasi. Bukan saja pada buah hati, tetapi seluruh yang dekat di hati. Asa pada buah hati, semoga kelak tumbuh menjadi pribadi yang mencintai literasi. Aamiin.

mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.