Sedih memang jika segala sesuatu didasarkan pada linieritas program studi. Selalu saja ada hambatan untuk sebuah kesetaraan. Namun, tidak demikian adanya dengan literasi. Dunia literasi memiliki pakemnya sendiri. Menjadi profesional di bidang literasi tidak memandang program studi. Lantas apakah mereka yang tidak berlatar belakang bahasa adalah orang-orang yang tidak kompeten di bidang literasi?

Eits! Jangan salah. Tidak sepenuhnya benar, tetapi tidak salah juga. Tergantung siapa dulu mereka itu. Profesionalisme di dunia literasi tidak tergantung pada latar belakang pendidikan. Berbeda 360° dengan dunia pendidikan. Kenapa? Hal ini karena literasi berbasis karya nyata. Memangnya dunia pendidikan tidak? Iya juga, ya. Lantas apa yang membedakan keduanya? Bisa jadi karena adanya anggapan literasi adalah salah satu bagian kecil dari pendidikan. Lo? Bukannya literasi berdiri sendiri? Dalam artian di luar dunia pendidikan pun tetap harus dikembangkan? Iya juga, ya.

Oh mungkin apa karena pendidikan melibatkan murid sebagai subjek pendidikan? Literasi juga, kok. Atau bisa jadi karena tujuan pendidikan adalah menciptakan generasi yang mumpuni di segala bidang, bukan literasi saja? Nah bisa jadi seperti ini. Menciptakan generasi dalam dunia pendidikan membutuhkan profesionalisme tinggi. Tidak heran linieritas menjadi syarat utama. Jika program studi linier otomatis profesional. Bahkan tanpa memedulikan masa kerja atau karya yang dihasilkan. Termasuk juga inovasi-inovasi yang telah dilakukan. Namun, ini hanya kemungkinan, lo, ya. Sekali lagi, kemungkinan.

Berbeda jauh dengan literasi. Profesionalisme pegiat literasi dilihat dari seberapa karya dan dampak terhadap pergerakan literasi. Siapa pun bisa menjadi profesional. Semakin banyak karya dan upaya akan melahirkan pengalaman yang pada akhirnya bisa mewujudkan profesionalisme literasi. Literasi saat ini hanya membutuhkan sosok pembelajar yang mau peduli terhadap kemajuan literasi. Siapa pun bisa menjadi profesional di bidang literasi, baik membaca maupun menulis. Tidak ada perbedaan latar belakang pendidikan untuk menjadi seorang pegiat literasi profesional. Asal ada kemauan dan komitmen tinggi terlibat dalam segala bentuk kegiatan literasi, rasanya sudah cukup. Pegiat literasi sifatnya relawan, tidak ada tuntutan tugas, tanggung jawab, dan kewajiban. Meskipun demikian, semua itu secara otomatis akan terangkum menjadi satu kesatuan saat seseorang memutuskan untuk berkomitmen memajukan literasi.

Literasi memiliki tujuan akhir yang lebih sederhana dibandingkan pendidikan,yaitu hanya sebatas kemampuan baca dan tulis. Kemampuan dasar yang menjadi segala dasar kompetensi seorang murid. Kemampuan yang akan berdampak besar saat menjadi sebuah kebiasaan atau budaya. Kemampuan yang pada akhirnya akan menjadi tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Setiap negara berlomba memajukan literasi di negaranya. Banyak cara dilakukan untuk mengembangkannya. Salah satunya melalui sayembara penulisan naskah literasi, penerjemahan naskah daerah sebagai bahan bacaan literasi, dan pelatihan-pelatihan peningkatan kompetensi pegiat literasi.

Pembukaan Diskusi Kelompok Terpumpun oleh Kepala Kantor Bahasa NTB
(Dok. Kantor Bahasa NTB)

Seperti halnya yang dilaksanakan oleh Kantor Bahasa NTB. Selama dua hari (15 – 16 Desember 2021), kantor yang terletak di kawasan Jalan Lingkar Selatan Mataram ini menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terpumpun dalam Rangka Pengawasan dan Evaluasi Bahan Literasi. Kegiatan yang bertujuan untuk menguji tingkat keterbacaan, kesesuaian, keterpahaman, dan keberterimaan naskah literasi. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari penerjemahan karya sastra daerah yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
(Dok. Kantor Bahasa NTB)

Dalam kegiatan ini, terdapat 14 naskah literasi yang dibedah oleh pegiat literasi selaku nara sumber dengan berbagai latar belakang, baik pekerjaan maupun pendidikan. Beragam latar belakang program pendidikan nara sumber selain jurusan pendidikan, seperti peternakan, hukum, dan sosial, setidaknya menunjukkan bahwa literasi tidak memandang program studi. Hal besar yang setidaknya membuktikan, bahwa semua layak dan berhak serta memiliki kesetaraan untuk menjadi profesional di dunia literasi.

Penyampaian Evaluasi oleh Nara Sumber (Dr. Ilham, M.Pd.) dari Universitas Muhammadiyah Mataram
(Dok. Kantor Bahasa NTB)

Masing-masing nara sumber pun mendapat kesempatan melakukan pengujian terhadap satu naskah literasi. Keempat belas naskah tersebut dibedah untuk mengetahui kelayakannya sebagai bahan bacaan literasi. Berbagai aspek dipaparkan dengan jelas dan detail oleh nara sumber. Aspek pertama adalah keterbacaan. Dalam aspek ini nara sumber membedah tentang penggunaan diksi, frasa, dan klausa. Berdasarkan hal tersebut, nara sumber menyampaikan temuan dan menyimpulkan tingkat keterbacaan masing-masing naskah literasi.

Sementara terkait keterpahaman, hampir semua nara sumber yang hadir menyepakati bahwa naskah literasi cukup dipahami. Hanya saja membutuhkan perbaikan terutama terkait kalimat pembuka dan penutup pada naskah literasi. Masih banyak naskah literasi yang belum membuat pembuka dan penutup yang menarik. Hal ini menyangkut dengan keterpahaman pembaca anak tingkat membaca mahir terhadap naskah literasi. Ada kekhawatiran pembaca tidak tertarik membaca hingga tuntas.

Penyampaian Evaluasi oleh Nara Sumber (Nina Hardiyanti, M.Pd.) dari Pusat Bahasa Universitas Mataram
(Dok. Kantor Bahasa NTB)

Selanjutnya untuk aspek kesesuaian, nara sumber mengupas tentang keterkaitan antara narasi dengan ilustrasi. Banyak masukan dari nara sumber, di antaranya, yaitu kesesuaian ilustrasi dengan cara berpakaian masyarakat lokal NTB. Selain itu, juga ada hasil evaluasi berupa ketidaksesuaian ilustrasi dengan narasi. Ada ilustrasi dalam buku yang justru melahirkan miskonsepsi dalam penyampaiannya.

Sedangkan aspek keberterimaan mengupas tentang etika, estetika, dan logika. Dari segi etika masih ditemukan beberapa bagian naskah yang kurang etis. Terutama bagian naskah yang terlalu ‘dewasa’. Dalam artian bukan vulgar, melainkan isinya lebih cocok disampaikan untuk umum, bukan anak-anak. Selain itu dari segi tampilan tata letak, ada naskah yang menyerupai buku teks pelajaran. Tentu hal ini membuat naskah literasi keluar dari pakemnya sebagai buku nonteks pelajaran.

Penyampaian Evaluasi oleh Nara Sumber (Sudomo,S.Pt.) dari SMP Negeri 3 Lingsar
(Dok. Kantor Bahasa NTB)

Pada akhir paparan, masing-masing nara sumber menyampaikan kesimpulan terkait layak atau tidaknya naskah literasi untuk diterbitkan. Selain itu, nara sumber juga menyampaikan beberapa saran dan masukan perbaikan agar nantinya naskah layak untuk diterbitkan sebagai bahan bacaan literasi.

Penyampaian Pertanyaan, Masukan, dan Saran dari Peserta Diskusi Kelompok Terpumpun
(Dok. Kantor Bahasa NTB)

Sesi selanjutnya adalah diskusi dengan audiens. Salah satu hal menarik adalah audiens berasal dari berbagai program studi. Sebagian berasal dari jurusan bahasa. Ada juga yang dari hukum dan farmasi. Sungguh latar belakang yang membuat diskusi berlangsung kritis dan hangat. Hal ini semakin menguatkan, bahwa literasi tidak memandang latar belakang studi.

Jadi, apa pun latar belakang pendidikan, jangan pernah kecil hati untuk terus bersama-sama bergerak memajukan literasi negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.