LMS Modul 3.3.a.10. Aksi Nyata (Bagian 3)

Baca LMS Modul 3.3.a.10. Aksi Nyata (Bagian 1) di sini

Baca LMS Modul 3.3.a.10. Aksi Nyata (Bagian 2) di sini

Pelaksanaan Kegiatan Literasi Berdiferensiasi

Pelaksanaan Simulasi Kegiatan Literasi Berdiferensiasi di Kelas

Kegiatan ini merupakan rangkaian program peningkatan kepemimpinan murid dalam literasi berdiferensiasi di kelas. Tahap pelaksanaan terbagi menjadi dua, yaitu simulasi dan implementasi. Pada tahap simulasi, guru dan wali kelas mengarahkan koordinator tim pelaksana untuk memimpin kegiatan. Tahap ini diperlukan untuk mengenalkan tugas koordinator, penanggung jawab harian dan penyiapan buku serta murid sebagai anggota. Pada tahap ini juga melibatkan wali kelas dan sejawat lainnya sebagai pengamat. Melalui pelibatan sejak awal ada harapan wali kelas bisa mereplikasi kegiatan serupa di kelasnya masing-masing ke depannya.

Aksi ini dilakukan untuk memberikan gambaran teknis pelaksanaan literasi berdiferensiasi di kelas. Dengan adanya gambaran awal, murid di kelas dapat menjalankan perannya masing-masing pada saat implementasi. Tujuan lainnya juga untuk memberikan gambaran kepada warga sekolah tentang langkah-langkah yang akan dilakukan bersama-sama ke depannya.

  • Penjelasan Umum
  • Petunjuk Pengisian Buku
  • Pembagian Buku Jurnal Membaca
  • Pengisian data Buku Jurnal
Simulasi Literasi Berdiferensiasi di Kelas

Hasil utama dari aksi ini adalah sebagai berikut:

  1. Koordinator dan tim pelaksana memperoleh gambaran terkait pelaksanaan literasi berdiferensiasi di kelas;
  2. Koordinator dan tim pelaksana kegiatan dapat melakukan simulasi pelaksanaan literasi berdiferensiasi di kelas dengan baik sesuai kesepakatan;
  3. Koordinator mampu memimpin anggotanya melaksanakan simulasi literasi berdiferensiasi dengan baik.

Pelaksanaan Kegiatan Literasi Berdiferensiasi di Kelas

Pandemi telah mengubah banyak hal. Bukan saja terkait pembiasaan, melainkan juga pengetahuan. Proses pembelajaran secara daring menyebabkan terjadinya learning loss. Bukan saja pada pemahaman terkait materi pembelajaran. Melainkan juga pada kemampuan literasi membaca murid. Hal ini tentunya menjadi tugas besar bagi guru untuk mengembalikan apa yang telah hilang. Melalui penumbuhan kembali budaya positif, murid akan kembali menemukan apa yang selama ini hilang. Baik itu kemampuan membaca maupun memahami bacaan. Program kepemimpinan murid dalam literasi berdiferensiasi di kelas diharapkan menjadi salah satu langkah tepat untuk membantu murid. Melalui program kepemimpinan, murid akan kembali menemukan kepercayaan diri untuk terus belajar. Melalui literasi berdiferensiasi, murid akan memiliki kesempatan menentukan sendiri jenis bacaan sesuai minat. Kesesuaian bacaan dengan minat ini tentu akan mempercepat murid memahami isi bacaan.

Guna mempermudah pencapaian hal tersebut, koordinator tim pelaksana kegiatan dengan arahan guru dan wali kelas menyiapkan materi untuk monitoring dan evaluasi. Proses monitoring harian akan dilakukan oleh kordinator dan penanggung jawab harian melalui buku jurnal pelaksanaan literasi berdiferensiasi. Sedangkan proses evaluasi salah satunya akan dilihat melalui jurnal membaca yang dibagikan kepada seluruh murid. Dengan kedua buku ini, koordinator tim pelaksana akan berkoordinasi dengan guru dan wali kelas mendiskusikan capaian dan hambatan dalam pelaksanaan. Hasil diskusi akan digunakan sebagai dasar melaksanakan kegiatan ke depannya.

Tujuan utama program ini adalah menciptakan jiwa kepemimpinan murid dalam literasi berdiferensiasi untuk merencanakan dan mengelola program. Kemampuan ini akan memberikan dampak besar ke depannya. Murid akan lebih percaya diri untuk menjadi pemimpin dalam membaca. Bukan saja di sekolah, melainkan juga di rumah dan bahkan di mana pun. Murid juga secara tidak langsung akan belajar tentang cara mengelola waktu untuk membaca dalam kehidupan sehari-hari.

  • Aktivitas Membaca Kelompok Fiksi
  • Aktivitas Membaca Kelompok Pengetahuan
  • Aktivitas Membaca Kelompok Muatan Lokal Sasak
  • Aktivitas Membaca Kelompok Digital
  • Pengisian Buku Jurnal Membaca oleh Murid
  • Pengisian Jurnal Pelaksanaan oleh Penanggung Jawab Harian
Pelaksanaan Literasi Berdiferensiasi Dipimpin Koordinator Tim Pelaksana

Hasil utama dari program ini adalah sebagai berikut:

  1. Koordinator mampu memimpin tim dan anggotanya dalam melaksanakan literasi berdiferensiasi di kelas;
  2. Penanggung jawab harian mampu menuliskan hasil monitoring pelaksanaan kegiatan harian;
  3. Penanggung jawab penyediaan buku mampu bertanggung jawab terhadap penyiapan dan penyediaan buku bacaan;
  4. Murid di kelas mencatat hasil membacanya dalam jurnal membaca untuk mengetahui perkembangan kemajuan membaca bukunya.

Perasaan

Kekhawatiran adalah perasaan yang pertama kali muncul. Perasaan itu muncul ketika membayangkan tentang hambatan dan kendala yang mungkin muncul. Kekhawatiran paling utama terkait dengan partisipasi murid dalam program ini mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pembelajaran. Hal ini mengingat kepemimpinan dalam literasi berdiferensiasi di kelas merupakan program baru di sekolah. Ditambah lagi dengan belum pernah munculnya seorang pemimpin membaca di kalangan murid. Hal ini menimbulkan pertanyaan dalam benak, “Kira-kira ada tidak murid yang sanggup menjadi koordinator tim pelaksana tanpa ditunjuk?” Sebuah pertanyaan yang menjadi pembuka saat ide program hendak diwujudkan. Bukan tanpa alasan pertanyaan itu lahir. Salah satunya adalah pelibatan murid dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan yang belum menjadi budaya di sekolah. Ini menjadi tantangan tersendiri. Tantangan yang harus bisa ditundukkan. Belajar dari manajemen risiko, akhirnya tercetuslah langkah alternatif jika tidak ada murid yang mau mengajukan diri sebagai koordinator, yaitu pemilihan secara langsung oleh murid.

Berangkat dari kekhawatiran, akhirnya sedikit demi sedikit terkikis menjadi sebuah optimisme. Adanya alternatif sebagai pilihan untuk memilih koordinator adalah penyebabnya. Ide memancing murid untuk menggerakkan literasi berdiferensiasi di kelas adalah tercetus ketika melakukan pemetaan kebutuhan murid terhadap lingkungan kelas yang menyenangkan. Sebagian besar menginginkan adanya bahan bacaan selain buku pelajaran di kelas. Dari sanalah optimisme beradu dengan kekhawatiran. Keduanya berusaha menjadi pemenang. Namun, akhirnya optimisme menjadi pemenangnya saat di kelas contoh ada seorang murid yang mengajukan diri siap menjadi koordinator.

Seperti ada hangat mengalir dalam dada demi mendengarnya. Tanpa membuang kesempatan, strategi bimbingan pun dijalankan. Mulai dari meyakinkannya bisa melaksanakan tugas sebagai koordinator sampai pada mengarahkan membentuk tim pelaksana, penyusunan jadwal, dan teknik monitoring evaluasi. Awal yang bagus untuk implementasi setelah sebelumnya mereka mendapat cerita pengalaman baik dalam membaca dari komunitas literasi sekitar sekolah.

Optimisme pun semakin tumbuh menjadi bunga-bunga kebahagiaan yang bermekaran. Dukungan demi dukungan dari Kepala Sekolah dan sejawat terus mengalir. Bermodalkan kekuatan sumber daya yang ada, program percontohan ini pun berhasil dijalankan. Seiring perjalanan waktu, rasa bahagia tumbuh menjadi tertantang. Melebarkan sayap untuk bisa menjadikan program sebagai prioritas untuk dikembangkan. Terutama untuk lingkup komunal sekolah. Perasaan ini lahir setelah melihat keberhasilan pelaksanaan di tingkat contoh untuk bisa diterapkan di setiap kelas. Hingga akhirnya akan bisa menjadi jawaban ketika ada yang mempertanyakan program unggulan di sekolah.

Pembelajaran

Banyak peristiwa terjadi. Beragam perasaan campur aduk menjadi satu. Semua mewarnai sebuah perjalanan program baru. Dari setiap langkah yang dilalui, ada pembelajaran positif menyertai. Tentang kesalahan seorang guru yang kadang terlalu menganggap remeh kemampuan murid untuk menjadi seorang pemimpin. Tidak seharusnya guru memiliki pemikiran seperti itu. Pemikiran itu harus mulai dikikis. Selanjutnya menggantinya dengan pikiran positif, bahwa sejatinya setiap murid memiliki potensinya masing-masing. Tugas guru adalah menemukannya melalui proses pendekatan dan coaching berkelanjutan. Dengan demikian guru akan memperoleh gambaran terkait potensi melalui pemetaan kebutuhan murid. Sebab demikian cara terbaik untuk memberikan murid ruang yang luas bertumbuh sesuai kodrat alam dan zaman melalui kreativitas.

Selain itu, pembelajaran lainnya adalah tentang arti penting koordinasi dan kolaborasi. Koordinasi internal dengan Kepala Sekolah dan sejawat guru merupakan kunci sukses agar program diterima dengan baik. Penerimaan program merupakan kunci keberlangsungan dan keberlanjutan program ke depannya. Tidak terkecuali kolaborasi optimal juga merupakan kunci keberhasilan lainnya. Optimalisasi kolaborasi dengan semua pihak internal maupun eksternal sekolah menjadi jaminan program akan berjalan. Kolaborasi dengan sejawat dalam komunitas praktisi di sekolah, komunitas sekitar sekolah, dan orang tua merupakan pilihan yang harus dijalankan.

Kuncinya adalah kepercayaan terhadap semua pihak terkait bisa melakukan tugasnya dengan baik. Hal ini akan membentuk tim yang solid. Tim dalam komunitas praktisi yang siap jatuh bangun bersama-sama untuk kemudian bangkit dan maju bersama.

Perubahan

Perubahan dalam diri ke depannya adalah menjaga semangat untuk terus menumbuhkan dan mengembangkan literasi berdiferensiasi di sekolah. Perubahan lainnya adalah meningkatnya komitmen untuk terus berkolaborasi dengan komunitas praktisi di sekolah. Selain itu, komitmen untuk bisa melahirkan ide-ide baru untuk memajukan sekolah. Tidak terkecuali adanya keinginan untuk terus bisa berbagi praktik baik selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak melalui integrasi dengan pelatihan blog bagi guru.

Ke depannya juga perlu menyusun rencana perbaikan berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan. Masukan-masukan dari pihak terlibat sangat dibutuhkan. Terutama terkait dengan upaya menjadikannya sebagai program komunal sekolah. Masih membutuhkan perjuangan dan perjalanan panjang untuk menciptakan ekosistem literasi berdiferensiasi yang menyenangkan di sekolah. Perjuangan dan perjalanan yang hanya akan bisa mendapatkan hasil terbaik dengan adanya dukungan dari semua warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah.

– Tamat

Peningkatan Kepemimpinan Murid dalam Literasi Berdiferensiasi di Kelas

Rencana ke Depan:

  1. Pelaksanaan diskusi internal tim pelaksana kegiatan dengan arahan guru dan wali kelas pada akhir minggu;
  2. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi program oleh tim pelaksana kegiatan dengan arahan guru dan wali kelas pada akhir bulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.