Membuat Biodata Narasi itu Mudah

Menulis biodata narasi diri-sendiri itu mudah. Yang sulit adalah menumbuhkan keinginan untuk mempelajarinya.

Sekadar biodata sendiri lebih mudah. Terlebih jika menulis biodata tinggal mengisi jawaban daftar pertanyaan pada format yang telah disediakan. Saat ini format biodata semakin beragam. Biodata bukan lagi berupa daftar isian yang terlihat kaku. Banyak format biodata lain yang terlihat simpel dan enak dilihat. Bahkan tidak jarang biodata dilengkapi icon-icon tertentu terkait data yang disajikan. Banyak juga yang sudah mulai membuat biodata dengan memanfaatkan infografis yang dibuat hanya dengan menggunakan smartphone.

Apa pun aplikasinya dan bagaimanapun formatnya, tujuan penulisan biodata adalah menyampaikan informasi diri pribadi kepada khalayak. Hal ini penting dilakukan terutama oleh pelaku industri kreatif kepenulisan. Termasuk di dalamnya adalah guru sebagai penulis. Pembuatan biodata yang menarik bisa membantu menaikkan posisi tawar seseorang. Tentunya diimbangi dengan isian yang berkualitas terutama menyangkut pengalaman yang relevan dengan bidang yang digelutinya.

Sedikit berbeda dengan pembuatan biodata narasi dalam naskah buku. Biodata dalam buku sengaja dibuat dalam bentuk narasi, selain menghemat halaman yang erat kaitannya dnegan biaya cetak, juga tentang sifat biodata itu sendiri.

Biodata narasi dalam naskah buku sebenarnya hanya pelengkap. Oleh karena itu, biasanya ada batasan kata dalam penulisannya. Hal ini karena sifat biodata penulis dalam buku adalah sebagai informasi tambahan saja. Bagian utama tetaplah pada isi naskah. Sehingga biodata dengan bentuk narasi akan selaras dengan tulisan pada isi naskah. Dengan kata lain antara isi naskah dengan biodata penulis tidak njomplang.

Untuk bisa membuat biodata narasi yang dibatasi jumlah kata atau paragraf tentu membutuhkan keterampilan sendiri mengolah data menjadi kata. Pastikan terlebih dahulu informasi/data apa saja yang akan dimasukkan. Misalnya, tempat tanggal lahir, pekerjaan, hobi, riwayat pekerjaan, karya yang sudah dipublikasikan, pengalaman pekerjaan, moto hidup, akun media sosial, dan informasi terkait lainnya.

Dari semua data itu selanjutnya dirangkai menjadi kalimat kemudian paragraf. Biodata narasi biasanya menggunakan sudut pandang orang ketiga. Artinya biodata dalam buku ini ‘tidak’ ditulis oleh penulis sendiri, tetapi seolah-olah ditulis oleh orang ketiga. Dalam hal ini adalah pihak penerbit buku.

Tidak ada aturan baku dalam penulisannya. Namun, beberapa penerbit biasanya meminta biodata penulis dalam bentuk narasi sesuai ketentuan mereka.

Penulisan biodata narasi pun tidak ada langkah-langkah baku. Keberhasilan penulisan biodata narasi ini terletak pada ‘rasa’ saat membacanya. Kuncinya adalah banyak membaca referensi biodata narasi yang ada di buku.

Berikut adalah contoh biodata narasi pribadi yang saya buat untuk dicantumkan di buku-buku saya.

Sudomo, S.Pt. Seorang pencinta formula fisika, gejala alam semesta, dan rangkaian kata yang cinta mati dengan serpihan surga di bumi — Pulau Lombok ini awalnya menulis hanya untuk menumpahkan kegelisahan ide-ide di kepala. Ia meyakini, bahwa pada akhirnya akan besar dengan belajar dari hal-hal kecil di sekitar. Karenanya ia berusaha terus menjadi manusia pembelajar melalui berbagai kompetisi menulis. Pemilik buku antologi bersama penulis lain The Coffeeshop Chronicles (Bypass, 2012), Dong Ayok ke Lombok! (Dimensi Publishing, 2012), Dear Mama (Gradien Mediatama, 2013), Hororis Causa (AGPressindo, 2016), dan banyak lagi lainnya; buku duet Di Penghujung Pelukan (Mediakita, 2017) serta buku solo Cermin (Nulisbuku, 2011) dan Pahlawan Antikorupsi: Sudah Adil, Kok! (Funtastic M&C Gramedia, 2018) ini bisa dikenali lewat kata di blog pribadinya http://bianglalakata.wordpress.com atau Twitter/Instagram @momo_DM.

Demikian, semoga bermanfaat!

Salam literasi!

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.