Menanamkan Nilai Karakter Bernalar Kritis Lewat Darik

Selain 18 nilai dalam pendidikan karakter, masih banyak nilai lain sebagai bahan untuk memberikan pemahaman kepada anak. Nilai-nilai lain tersebut di antaranya termaktub dalam profil pelajar Pancasila. Beberapa ciri pelajar Pancasila adalah memiliki nilai karakter baik. Beberapa sudah termasuk dalam 18 nilai dalam pendidikan karakter, yaitu beriman, bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri, kreatif, dan kebhinekaan global. Sementara itu, karakter gotong royong dan bernalar kritis belum termasuk di dalamnya.

Sebagai salah satu ciri dari pelajar Pancasila yang digaungkan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikbud, anak juga harus memiliki karakter bernalar kritis. Anak yang memiliki nalar kritis akan terbiasa memproses terlebih dahulu informasi yang masuk. Selanjutnya akan menganalisis dan mengevaluasi informasi tersebut. Selain itu, dengan bernalar kritis, anak akan berusaha melakukan refleksi dan proses berpikir. Pada akhirnya anak akan dapat mengambil keputusan dengan tepat.

Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika orang tua memberikan contoh tentang bernalar kritis. Demikian juga halnya dengan guru di sekolah. Upaya menumbuhkan karakter bernalar kritis pada siswa bisa lewat proses pembelajaran. Selain itu juga dapat melalui kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah. Melalui kegiatan ini akan merangsang siswa untuk berdiskusi lebih lanjut mengolah, menganalisis, dan mengambil keputusan.

Nilai Karakter Bernalar Kritis Pada Anak

Pada anak usia dini, mengajaknya melakukan hal-hal sederhana bisa menjadi alternatif. Misalnya, dengan mengajak anak menonton berita di televisi. Melalui informasi orang tua bisa sambil mengajarkan teknik menyerap dan mengolah informasi. Selanjutnya orang tua bisa menjelaskan tentang cara mengambil keputusan. Selain itu, pemahaman tentang bernalar kritis bisa melalui media kreatif yang menarik. Contohnya, yaitu orang tua bisa mengenalkan karakter ini melalui buku cerita anak.

Selain orang tua, guru di sekolah juga memiliki peranan penting. Guru bisa menanamkannya lewat aktivitas langsung, misalnya melibatkan siswa dalam praktik atau diskusi kelas. Guru yang kreatif juga bisa mencoba mengenalkannya lewat media tulisan. Contohnya adalah buku pengayaan fiksi, baik itu cerita anak maupun puisi. Memanfaatkan media yang relevan ini bisa pada saat jam belajar di sekolah. Oleh karena itu menumbuhkan nilai-nilai tersebut dapat melalui beragam tulisan. Salah satu contohnya adalah puisi darik.

Seperti halnya cerita anak, puisi darik sebagai genre baru juga bisa dibuat dari berbagai tema. Lebih lanjut lagi tema-tema tersebut bisa menyesuaikan dengan target sasaran. Di sisi lain, bagi anak usia dini dan pendidikan dasar, tema nilai karakter sangat relevan. Oleh karena itu, dengan menanamkan lewat puisi mereka akan belajar mengeksplorasi banyak nilai dalam karakter pendidikan. Selanjutnya lewat membaca mereka akan bisa menemukan makna. Salah satu contohnya adalah makna nilai bernalar kritis dalam pendidikan karakter.

Berikut ini adalah contoh puisi darik tema nilai bernalar kritis dalam pendidikan karakter.

Contoh Darik Nilai Bernalar Kritis

Sejuta Data

Kisah

Tertata rapi
Menggetarkan hati

Terpana sebuah berita
Perihal kejadian bencana
Meluluhlantakkan yang ada

Otak bekerja sebagaimana mestinya
Mengolah kemudian menerjemahkan kata
Kejadian semoga lekas sirna
Lalu perlahan kembali sediakala

Mengeja data yang ada
Mengubahnya menjadi yang berharga
Aku tidak diam saja
Mengisahkan kembali pada bunda

Kamu bisa apa?
Tanya bunda padaku
Kusampaikan maksud tujuan

Turun tangan
Melakukan gerakan

Keputusan

Contoh Puisi Darik

Sehimpun Kata

Lembar demi lembar dibaca
Mengeja demi sebaris makna
Banyak hal tersimpan dalamnya
Menggali kata menjadi berita

Dalam hati mengeja
Mengolah per kata
Mereka-reka berupa duga

Perkiraan sementara
Modal mengira

Kesimpulan

Keputusan

Sehimpun kata
Menjelma suka

Berawal dari pertimbangan
Hingga berujung kesimpulan
Ujung sebuah perjuangan

Sedikit demi sedikit terbuka
Pemahaman dari yang dibaca
Jejak awal langkah selanjutnya
Bahagia hadir hingga nadir

Contoh-contoh puisi darik di atas adalah puisi tema bernalar kritis. Selanjutnya untuk contoh-contoh lain, orang tua atau guru bisa mengembangkan sendiri sesuai kreativitas. Orang tua dan guru bisa mengajak anak untuk membaca kemudian meminta mereka menemukan makna puisi darik tersebut. Selanjutnya orang tua atau guru memberikan pemahaman lebih mendalam tentang makna yang tersirat dalam puisi terkait bernalar kritis. Orang tua atau guru bisa memberikan penguatan tentang arti penting bernalar kritis dalam kehidupan. Lebih lanjut lagi, orang tua atau guru bisa memberikan bimbingan dan pendampingan kepada anak untuk membuat sendiri puisi darik tema bernalar kritis.

Di sisi lain, penulis juga masih membutuhkan masukan. Tujuannya adalah agar ke depannya bisa menghasilkan karya lebih baik. Selain itu, juga agar bisa terus mengasah kreativitas mengolah kata demi peningkatan kualitas pendidikan karakter anak. Contoh-contoh tersebut pastinya jauh dari kata sempurna. Kesimpulannya, mari saling menyempurnakan demi bersama-sama berjuang menanamkan karakter positif kepada anak sejak usia dini. Semoga dapat menjadi bahan referensi dalam menumbuhkan karakter bernalar kritis kepada anak. Juga sekaligus sebagai upaya mendukung pengembangan nilai dalam pendidikan karakter anak.

Baca Juga: Puisi Darik: Genre Baru Puisi yang Menarik

Salam Bloger Pembelajar

Sudomo
www.eigendomo.com

karakter bernalar kritis

Leave a Reply

Your email address will not be published.