Mengeja Waktu

Sejak seharian kemarin kepala saya terasa penuh. Saya sempat bertanya pada diri-sendiri ada apa gerangan. Namun, saya tak kunjung menemukan jawaban.

Hingga tadi pagi isi kepala masih dipenuhi tanda tanya. Jawaban pun akhirnya lahir dari beberapa pekerjaan yang telah berhasil diselesaikan. Tanda tanya itu pun perlahan memudar. Kepala pun menjadi lebih menerjemahkan keadaan sekitar sebagai kebahagiaan.

Terlebih ditambah pesan singkat yang mengabarkan kehadiran anggota baru. Kehadiran yang diharapkan untuk melengkapi kebahagiaan. Sebuah anugerah yang layak untuk dikabarkan. Bukan saja kepada orang-orang terdekat, tetapi ke seluruh dunia.

Betapa tidak, mendapatkan sesuatu dari yang sebelumnya sama sekali tidak berharap adalah kebahagiaan besar. Sebab ada kalanya yang diharap-harapkan justru hasilnya mengecewakan.

Terik matahari pun menjadi saksi sebuah perjalanan pulang dari tempat tugas. Pulang tidak harus ke rumah, tetapi tempat lain yang menyajikan kenyamanan dan menjanjikan kabar baru kebahagiaan.

Di tempat itu, aku pun menemukan kejutan yang membahagiakan. Bingkisan terindah yang dikirimkan atas izin Tuhan. Berselimut warna cokelat terlihat mungil di atas tempatnya terbaring. Tidak ada tangisan terdengar.

Perlahan aku membuka selimut cokelat yang dikenakannya. Sepasang mataku berbinar menatap anugerah kecantikan. Kulit putih bersih seolah sedang mengharapkan dekapan. Tidak butuh waktu lama, akhirnya aku pun memeluk kebahagiaan. Cukup lama kebahagiaan menyembuhkan segala kesah atas penantian selama ini.

Hingga tiba waktunya nanti, saya akan membawanya pulang. Kali ini benar-benar pulang ke tempatnya yang paling nyaman, rumah. Di rumah terindahnya, dia akan bersama dalam putaran waktu dengan yang lainnya. Di tempat ternyamannya dia akan menemani saya mengeja waktu selama liburan. Lalu setelahnya, kelak di suatu waktu saya akan menuliskan segala tentang dirinya. Tentang kecantikan paripurnanya. Pun perihal kekurangan yang mungkin dimilikinya.

Sekarang biarkan saja dulu dia meringkuk di tempat istirahatnya. Jangan merajuk dan merengek dulu! Tunggu sampai semua kerumitan dunia kecil saya menemukan muaranya. Lalu setelahnya saya akan menumpahkan kasih sayang sepenuhnya untuk dia, Aksi Literasi Guru Masa Kini.

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.