Menjadi Guru Reflektif Bersama SatuGuru

Peristiwa apa saja yang terjadi selama tahun 2021? Bagaimana perasaan selama menjalani persitiwa tersebut? Pembelajaran apa yang diperoleh selama setahun itu dari peristiwa itu? Perubahan nyata apa yang dirasakan dan akan dilakukan ke depannya?

Sederet pertanyaan di atas merupakan salah satu metode yang bisa dilakukan guru untuk melakukan refleksi. Mengapa guru harus melakukan refleksi? Alasannya, yaitu untuk menemukan kekuatan sebagai dasar meningkatkan potensi dan kompetensi serta menemukan kelemahan untuk memperbaiki dan menjadikannya sebagai kekuatan diri ke depannya.

Mengenal Media SatuGuru

Tampilan Halaman Depan Media SatuGuru yang Menggoda

Media SatuGuru merupakan wadah bagi guru untuk menulis secara bersama-sama agar bisa saling belajar dan berbagi ide, pengalaman inspiratif, solusi, dan konten-konten positif lainnya. Media SatuGuru berkomitmen saling memotivasi anggota untuk berkarya melalui tulisan yang akan menjadi jejak digital yang mendukung terciptanya pembelajaran menyenangkan di sekolah.

Contoh Artikel Pengelolaan Kelas di Media SatuGuru (Sumber: satuguru.id)

Guna mencapai tujuan bersama, Media SatuGuru membuat program seru bernama Nguping SatuGuru yang ditayangkan di YouTube melalui KanalSatuGuru. Program ini merupakan ajang diskusi banyak hal terkait proses pembelajaran dan pendidikan.

Melalui Festival #SatuGuru Menulis, #SatuGuru juga memberikan ruang kepada guru untuk menemukan pembelajaran bagi diri sendiri khususnya dan pendidikan pada umumnya. Ruang positif ini pada akhirnya akan melahirkan guru-guru reflektif.

Festival SatuGuru Menulis

Hal ini selaras dengan tujuan dilahirkannya media #SatuGuru di Indonesia, yaitu menjadi arena bersenang-senang melalui pembelajaran yang menyenangkan. Seperti dalam tayangan video berikut ini.

Melalui refleksi diri, guru pun diajak untuk bersenang-senang lewat tamasya ingatan. Bersamanya guru-guru akan merdeka memilih ingatan mana sebagai peristiwa yang mengubah hidupnya. Guru-guru juga diberikan kebebasan menemukan pembelajarannya sendiri. Selanjutnya guru pun dipersilakan merumuskan resolusi untuk diwujudkan tahun depan sebagai bentuk implementasi harapan.

Berikut adalah refleksi 2021 dengan menggunakan metode 4P (peristiwa, perasaan, pembelajaran, perubahan) yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.

Peristiwa

Peristiwa merupakan paparan objektif berdasarkan pengalaman nyata yang dialami. Lantas apa saja peristiwa yang memberikan pembelajaran dalam kehidupan seorang guru seperti saya?

Banyak peristiwa terjadi selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak. Beberapa peristiwa mengingatkan saya, bahwa proses pembelajaran sejatinya harus berpusat pada murid sesuai kodrat alam dan zaman.

Merintis Budaya Positif Kepemimpinan Murid dalam Literasi Berdiferensiasi di Kelas

Peristiwa tersebut adalah belajar secara daring tentang Paradigma dan Visi Guru Penggerak, Praktik Pembelajaran yang Berpihak pada Murid, dan Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah. Mempelajari materi-materi ini, saya diingatkan kembali tentang proses pembelajaran berpusat pada murid dan pengelolaan program berdampak pada murid. Beberapa peristiwa aksi nyata pun saya tuangkan dalam video di kanal YouTube pribadi saya. Berikut ini salah satunya.

Selain belajar daring selama enam bulan, saya juga mengikuti pembelajaran secara luring. Pembelajaran luring Pendidikan Guru Penggerak, meliputi pendampingan oleh Pengajar Praktik dan Lokakarya selama sembilan bulan. Selama proses pendampingan saya memperoleh penguatan materi daring yang dipelajari secara mandiri. Melalui pendampingan saya bisa berdiskusi tentang banyak hal terkait implementasi.

Penyerahan Karya Kepada Penyelenggara Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2

Demikian halnya dengan lokakarya. Sebanyak sembilan kali lokakarya menjadi ajang belajar secara luring yang efektif. Diskusi demi diskusi terkait program berdampak pada murid tercipta di kelas. Semua proses selama sembilan kali lokakarya itu pun bermuara pada terpilihnya saya sebagai Ketua Komunitas Guru Penggerak Angkatan 2 Kabupaten Lombok Barat saat lokakarya 9 digelar.

Perasaan

Peristiwa demi peristiwa melahirkan perasaan yang berbeda-beda. Suka dan duka tercipta bahkan seringkali berjalan dalam rentang waktu yang singkat saja. Saat awal mengikuti Pendidikan Guru Penggerak masih belum paham betul dengan apa yang harus saya lakukan. Yang saya tahu hanya sekadar membuka Learning Management System (LMS) kemudian mengerjakan tugas sesuai instruksi. Namun, menuju modul selanjutnya saya telah menemukan irama dalam menyelesaikan tugas-tugas LMS. Hal ini pun pada akhirnya melahirkan penasaran terhadap materi belajar baru.

Mengembangkan Kompetensi Komunitas Praktisi di Sekolah

Penasaran berubah menjadi bahagia ketika berhasil menyelesaikan tugas-tugas LMS bahkan sebelum waktu akhir tiba. Terlebih saat bisa menyelesaikan aksi nyata pada setiap modulnya. Sayangnya, gelora bahagia perlahan terkikis oleh rutinitas yang monoton. Sedikit demi sedikit komitmen menyelesaikan tugas pun tergerus oleh kebosanan. Terlebih lagi dengan menumpuknya tugas-tugas kedinasan dan lainnya di luar tugas pendidikan. Hal ini memicu kebosanan semakin cepat mendekat.

Sebuah Upaya Menciptakan Lingkungan Kelas yang Menyenangkan

Namun, beruntung bisa menemukan strategi melumpuhkan kebosanan dengan mengalihkan pada mengelola blog. Dengan sendirinya kebosanan pun perlahan terpukul mundur. Berkat kekuatan hati dan kemantapan komitmen, kebosanan pun benar-benar pergi. Perlahan berubah menjadi sebuah kekhawatiran jika tugas-tugas tidak bisa terselesaikan. Kekhawatiran inilah yang akhirnya menyadarkan untuk bergegas menuntaskan apa yang telah dimulai.

Pembelajaran

Berkaca dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dan juga perasaan yang menyertai, saya memperoleh pembelajaran berharga selama satu tahun ini. Beberapa pembelajaran menjadi dasar untuk meningkatkan kekuatan dan memperbaiki kekurangan. Pembelajaran tersebut di antaranya, yaitu:

Mengembangkan Komunitas Praktisi di Luar Sekolah
  1. Memerlukan peningkatan komitmen diri untuk bisa menuntaskan apa yang telah dimulai;
  2. Mempelajari hal baru membutuhkan ketekunan untuk memperoleh hasil yang optimal;
  3. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan dalam melakukan perubahan bagi yang tekun mengubah diri sendiri ke arah yang lebih baik;
  4. Kolaborasi dengan sejawat dalam komunitas praktisi di dalam dan luar sekolah merupakan salah satu kunci sukses dalam mengelola program berdampak pada murid di sekolah;
  5. Filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dapat diteladani melalui penerapan proses pembelajaran menyenangkan berpusat pada murid sesuai kodrat alam dan zaman;
  6. Nilai dan peran guru penggerak masih harus terus ditingkatkan terutama terkait kompetensi manajerial sekolah;
  7. Menciptakan budaya positif dalam bentuk kesepakatan kelas dapat dilakukan di sekolah melalui kolaborasi dengan wali kelas sebagai bagian komunitas praktisi di sekolah;
  8. Proses pembelajaran yang menyenangkan dapat diawali dengan terlebih dahulu membuat pemetaan kebutuhan murid berdasarkan aspek konten, proses, dan produk;
  9. Lingkungan kelas yang menyenangkan merupakan salah satu syarat penting mewujudkan murid bahagia dalam proses pembelajaran;
  10. Murid dengan segala kekuatan dan potensinya adalah aset besar dalam pengelolaan program sekolah berdampak pada murid.

Perubahan

Berdasarkan pembelajaran yang diperoleh, ada upaya perubahan yang akan dilakukan ke depannya. Selain sebagai resolusi 2022, juga sekaligus sebagai rencana perubahan yang akan dilakukan. Adapun perubahan tersebut, yaitu:

  1. Meningkatkan nilai dan peran sebagai guru penggerak di dalam menggerakkan komunitas praktisi di sekolah melalui peningkatan kompetensi diri dan sejawat dalam pengelolaan proses pembelajaran dan program berdampak pada murid;
  2. Mengembangkan kompetensi diri dan sejawat dalam komunitas praktisi tingkat kabupaten melalui belajar dan berbagi praktik baik menuju merdeka belajar di Kabupaten Lombok Barat.

Demikian refleksi 2021 menuju resolusi 2022 yang menjadi dasar untuk terus tergerak, bergerak, dan menggerakkan. Bersama #SatuGuru wujudkan guru reflektif demi terwujudnya merdeka belajar dan mengajar.

Tulisan diikutkan dalam Festival #SatuGuru Menulis

Penulis:

Sudomo, S.Pt.

SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published.