Menulis Novel Kolaborasi? Berani! (Bagian 1)

Setiap bentuk tulisan memiliki tantangannya sendiri. Entah itu tulisan fiksi maupun nonfiksi. Bermacam-macam tulisan fiksi memiliki tantangan tersendiri. Pun tulisan nonfiksi.

Tantangan yang ada pada setiap bentuk tulisan, hadir untuk dihadapi. Hanya jika menganggap bahwa menaklukkan tantangan adalah sesuatu yang men(y)enangkan. Bagaimana jika menganggap tantangan adalah sebuah beban? Ya … Akibatnya tantangan akan semakin terasa semakin berat.

Tidak terkecuali menulis novel kolaborasi. Pasti banyak tantangan yang dihadapi. Menyelesaikan konflik dalam pikiran sendiri saja kadang butuh waktu lama. Apalagi beberapa kepala yang memiliki pemikiran berbeda-beda. Lantas apa itu berarti menulis novel kolaborasi tidak dapat dilakukan?

Tidak seperti itu tentunya. Pasti bisa dilakukan dengan syarat-syarat tertentu pastinya. Apa saja syarat-syaratnya?

  1. Memiliki kesepakatan serta kesamaan pemahaman tentang tema dan genre novel yang akan ditulis bersama;
  2. Menurunkan ego pribadi karena ini adalah kerja bersama dan sama-sama bekerja;
  3. Menganggap setara rekan kolaborasi dalam hal kemampuan menulis, sehingga tidak ada dominasi;
  4. Meminimalisir konflik di tengah perjalanan menulis melalui diskusi tentang proyek yang sedang dijalankan;
  5. Membuat segala sesuatu terkait novel yang akan ditulis secara bersama-sama dalam bentuk kesepakatan untuk menjaga ‘peran’ rekan kolaborasi menulis;
  6. Saling memahami dan membantu kesulitan rekan kolaborasi demi mencapai tujuan bersama;
  7. Menyepakati metode menulis novel kolaborasi yang akan ditulis bersama.

Apa Saja Metode Menulis Novel Kolaborasi?

Pertama, Satu Bab Bergantian.

Metode ini dilakukan secara bergantian dalam tiap bab. Pergantian menulis berdasarkan kesepakatan. Bisa saja penulis pertama menulis bagian awal, sedangkan penulis kedua menulis bagian akhir. Keduanya berpegangan pada sinopsis lengkap masing-masing bab yang telah disepakati sebelumnya.

Metode ini hanya disarankan jika kedua penulis atau lebih memiliki gaya penulisan yang sama atau sangat mirip. Termasuk di dalamnya adalah  perbendaharaan kata yang ditunjukkan lewat diksi.

Kesamaan ataupun kemiripan gaya penulisan ini sangat penting. Adanya kemiripan gaya penulisan akan membuat pembaca tidak menyadari di paragraf mana letak pergantiannya. Hal ini karena kemiripan gaya penulisan akan membuat tulisan menjadi menyatu. Bukan saja dari segi cerita, tetapi juga unsur-unsur lainnya.

Tidak salah jika satu bab tersebut seperti ditulis oleh satu orang penulis saja. Saya punya pengalaman menulis kolaborasi dengan teman saya menggunakan metode ini. Kebetulan kami berdua memiliki gaya penulisan yang sangat mirip. Kami pun memiliki kesamaan pemilihan tema dalam penulisan yang digarap.

Bukan novel memang. Hanya kumpulan cerpen. Dalam satu cerpen, saya dan teman saya membagi diri. Pada cerpen pertama saya menulis bagian awal kemudian teman saya melanjutkannya hingga akhir sesuai sinopsis yang telah saya buat. Selanjutnya, teman saya membuat sinopsis cerpen kedua dan menulis bagian awal cerpen kedua tersebut. Saya melanjutkan dan menyelesaikan cerpen kedua berdasarkan sinopsis yang dia buat.

Demikian seterusnya hingga sampai cerpen terakhir. Hasilnya, selama sebulan berkolaborasi menulis kami berhasil mengumpulkan dua belas cerpen duet. Setelah melalui penyuntingan dan pengendapan selama lebih dari tiga tahun, kumpulan cerpen duet bertema kehilangan itu menemukan jodohnya. Kumpulan cerpen yang akhirnya diberi judul Di Penghujung Pelukan itu pun menemukan jodohnya di penerbit Mediakita tahun 2017.

(Bersambung ke Bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published.