Pahlawan Literasi: Berawal dari Kata

“Sebab berawal dari kata adalah kunci menjadi pahlawan bahasa”

“Bapak belum istirahat?”

Suara yang sangat aku kenal itu terdengar mengejutkan. Sejenak aku memalingkan muka dari gawai. Seraut wajah polos menatapku penuh tanda tanya. Setelah meletakkan gawai di atas meja ruang tamu, aku berusaha meraih tangan lelaki berusia hampir 12 tahun itu.

“Sini, Mas!” kataku sambil menggerakkan tangan memanggilnya.

Dengan gontai dia bergerak perlahan mendekat. Tepat di sampingku dia juga ikut duduk di sofa berwarna cokelat tua itu.

“Bapak … Opin bosan ini,” katanya sambil mencuri pandang ke arah gawaiku yang masih menyala.

Tangan kananku meraihnya dalam pelukan sambil berkata, “Kamu kenapa? Ada kesulitan dalam mengerjakan tugas?”

Anak lelaki yang biasa dipanggil Opin itu menggelengkan kepala. Dia terlihat menunduk sambil memainkan jemari tangannya.

“Bagaimana kalau kamu ikut Bapak belajar. Mau?” tanyaku sambil melepaskan pelukan kemudian meraih gawai di atas meja.

Dengan pelan-pelan aku membuka obrolan di grup Whatsapp. Aku menunjukkan padanya beberapa poin penting yang disampaikan nara sumber. Dia terlihat menganggukkan kepala. Sesekali dia juga mengernyitkan dahinya. Aku bisa memahami itu sebagai sebuah keingintahuan. Benar saja, tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk bertanya.

“Bapak ikut kelas menulis lagi?” Opin bertanya sambil matanya tidak lepas dari gawaiku.

“Iya, Mas. Memangnya kenapa?” tanyaku sambil membetulkan letak duduk.

Opin pun kembali bertanya, “Apa Bapak tidak bosan?”

Aku menggelengkan kepala. Gelengan kepala yang membuat anak lelaki yang masih duduk di kelas VI Sekolah Dasar itu ikut menggeleng-gelengkan kepala sambil terus terpaku dengan kalimat demi kalimat yang berderet dalam obrolan grup Whatsapp. Dia bergeming meskipun aku berusaha untuk menyuruhnya agak geser sedikit. Sesaat kemudian, dia terlihat mengalihkan pandangan dari gawai. Sepasang mata bulatnya jatuh dan tenggelam di retina mataku. Aku memahaminya sebagai sebuah permintaan penjelasan.

Aku pun mulai berpikir keras berusaha menemukan dan merangkai kata yang mudah dipahaminya. Butuh waktu beberapa lama hingga akhirnya aku membuka suara.

“Mas … bagaimanapun juga hidup adalah tentang belajar. Mengerjakan sesuatu yang kita sukai akan membuat kita tidak lagi mengenal kata bosan. Mas percaya, kan, kalau hasil belajar kita hari ini akan bermanfaat di kemudian hari?”

“He he he. Opin percaya itu, kok, Pak. Boleh Opin ikut belajar?”

Sisa senyuman di bibirnya mau tidak mau membuatku menjawab, boleh. Dan, seperti sebelumnya akan banyak sekali pertanyaan meluncur dari bibir mungilnya.

“Bapak … Siapa yang memberikan materi malam ini?”

Aku pun membuka salah satu tautan yang ada di grup Whatsapp, yaitu tentang Daftar Nama Narasumber Pelatihan. Dengan saksama Opin membaca setiap detailnya. Sementara aku yang duduk di sampingnya berusaha menjelaskannya.

Sumber: https://www.gurupenggerakindonesia.com/

“Beliau ini bernama Abdul Hakim. Seorang guru Bahasa Indonesia di SMP Yayasan Pupuk Kaltim Bontang Kalimantan Timur,” kataku mengawali penjelasan.

“He he he. Iya, Pak. Opin juga sudah tahu dari membaca tadi. Oya, beliau sama seperti Bapak, ya? Sama-sama guru. Bedanya Bapak mengajar IPA. Dan, masih banyak sekali perbedaan lainnya, Pak. He he he,” kata Opin panjang lebar.

Aku hanya tersenyum mendengar celotehnya.

“Memang apa lagi, Mas?” tanyaku sambil mencondongkan tubuh ke arahnya.

“Janji Bapak tidak marah, ya? Ha ha ha.”

Dari tertawanya aku mencium hal yang sepertinya tidak akan mengenakkan. Namun, demi mendengar pendapatnya tentang narasumber, aku pun memutuskan menganggukkan kepala tanda berjanji untuk tidak marah.

“Perbedaan lainnya adalah Bapak Abdul Hakim ini memiliki suara merdu seperti penyiar radio. Ha ha ha …”

“Eh … Jangan salah. Suara Bapak juga tidak kalah merdu dibanding beliau, kok,” kataku berusaha membela diri.

“Ha ha ha. Mana buktinya, Pak? Tidak boleh sekadar ngomong, lo, Pak. Ha ha ha.”

Aku pun memberikan pembuktian sesuai keinginannya. Aku putarkan sebuah audio berisi rekaman suaraku.

Feature Audio – Menciptakan Bahagia dalam Pembelajaran

“Hmm … Boleh juga, Pak. Ha ha ha …”

Suara tawa pun menghangatkan kebersamaan di sela-sela pembelajaran.

“Tunggu dulu. Bapak jangan senang dulu, ya. Masih ada perbedaan lainnya. Perbedaan lainnya adalah beliau ini memiliki banyak prestasi. Beda dengan Bapak. Ha ha ha …”

Tawa kembali pecah. Aku menyadari betul dengan apa yang disampaikan oleh Opin. Sama sekali tidak salah. Lalu, apakah kemudian aku minder? Tentu saja tidak. Aku justru terpacu untuk juga bisa mengukir prestasi.

“Tunggu saja, Mas. Nanti pada waktunya Bapak juga akan menghasilkan banyak prestasi. Ha ha ha …”

Opin menimpali jawabanku, “Bapak yakin? Bapak, kan, sudah tua? He he he.”

Aku pun langsung menyambarnya, “Jangan salah, Mas. Usia bukan halangan untuk berprestasi. Mas tahu kenapa? Karena prestasi tidak tergantung pada usia, tetapi pada kemauan kita untuk menciptakannya. He he he.”

Sesaat setelahnya ruang tamu itu pun ditelan kesenyapan. Terlebih saat aku dan anak tunggalku kembali fokus menekuni materi yang telah dibagikan melalui grup Whatsapp. Hingga akhirnya kesunyian itu pecah oleh sebuah pertanyaan.

“Kenapa harus berawal dari kata, Pak?”

“Seperti penjelasan Pak Abdul Hakim, Mas. Untuk memulai menulis kita harus memperkaya perbendaharaan kata. Mas tahu caranya?” tanyaku berusaha memancing pemahamannya.

“Ngg … Apa, ya?”

Membaca kebingungan di wajahnya adalah keindahan tersendiri. Aku merasa bahagia saat menemukan di wajah polosnya. Bagiku kebingungan merupakan tanda sedang berpikir. Dan, seperti biasa aku akan memanfaatkannya sebagai pintu masuk menanamkan nilai-nilai baik.

“Coba pikir lagi, Mas. Apa kira-kira yang harus kita lakukan untuk memperkaya kata?”

“Banyak membaca, Pak!” jawabnya tiba-tiba.

“Betul sekali. Nah! Sekarang apakah setiap aktivitas membaca akan otomatis menambah perbendaharaan kata kita?” tanyaku berusaha memancing pemahamannya.

Dia sepertinya belum memahami topik yang sedang aku angkat. Hal ini ditandai dengan caranya mengangkat kedua tangan dan bertanya, “Kalau menurut Bapak sendiri?”

Aku pun memulai penjelasan, “Kalau menurut Bapak, tidak otomatis. Kenapa? Sebab membaca membutuhkan ketelatenan memahami setiap kata. Bagaimana caranya?”

Opin menggelengkan kepala. Gelengan yang membuatku memutuskan melanjutkan penjelasan.

“Caranya gampang, Mas. Saat membaca jangan lupa mencatat kata-kata baru atau yang belum Mas pahami artinya. Setelah itu, carilah arti kata-kata tersebut di Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI. Bisa unduh aplikasi di handphone melalui Play Store untuk android atau AppStore untuk pengguna iOS. Bisa juga daring di web. Begitu, Mas.”

Opin mengangguk-anggukkan kepala. Meskipun aku tahu dia belum paham betul, tetapi setidaknya aku telah berusaha menanamkan di benaknya tentang pentingnya memperkaya kosakata. Jika memang belum saat ini, aku percaya, kelak dia akan lebih mudah memahami tentang apa yang pernah dipelajari sebagai sebuah proses.

Proses belajar pun terus berlanjut hingga larut. Opin semakin tertarik ketika aku memutarkan video karya Pak Abdul Hakim di channel Youtube Guru Indonesia.

Sumber: channel Youtube Guru Indonesia

Dari video blog cerdas berbahasa tersebut, Opin pun memintaku melakukan permainan serupa. Aku pun mulai bertanya secara spontan tentang kata baku dan tidak baku.

“Baiklah. yang pertama, seksama atau saksama?”

Opin terlihat berpikir keras lalu menjawab dengan pasti, “Seksama!”

Dengan mengangkat kedua tangan ke hadapannya, aku menjawab, “Ah sayang sekali. Jawaban kamu salah! jawaban yang benar adalah saksama. Masih semangat, Mas?”

“Masih, Pak!” jawab Opin sambil mengangkat tangannya.

“Baiklah. Perhatikan baik-baik, Mas. Sekarang pertanyaan kedua, hutang atau utang, Mas?”

“Utang, Bapak!” jawab Opin sambil melonjak dari duduknya.

“Wah hebat! Jawaban kamu … betul!”

Sebuah usaha memperkaya perbendaharaan kata

Permainan pun terus berlanjut hingga kantuk tiba-tiba datang menjemput. Aku tahu di kepala Opin masih tersimpan banyak pertanyaan. Namun, keseruan pada akhirnya harus sejenak dilabuhkan. Dan, tersimpan harapan kelak dia bisa menyerap semua hal-hal baik terkait bahasa agar nantinya berawal dari kata dia bisa menjadi pahlawan bahasa.

– mo –

0 Comments

  1. Resume yang bagus pak, dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Belajar bersama anak lelakinya, wah..memang benar kata Om Jay, walaupun sama materi tetapi penulisan resumenya tidak ada satupun yang berbeda.

  2. Hem, boleh juga ini! Resume pelatihan menulis disajikan dalam sebuah cerpen yang mengalir lancar. Dan, terlihat natural.

    Percakapan yang akrab antara orang tua dan anak. Memang seharusnya begitu bukan? Sukses terus untuk tulisannya, Pak! Sip!

    1. Terima kasih, Pak Brian. Sengaja menyesuaikan dengan kebiasaan menulis fiksi juga sekaligus untuk tabungan naskah nantinya di akhir pelatihan. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.