Pahlawan Literasi: Bergerak dari Komitmen

“Sejuta jurus tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak mau mempraktikkannya

“Itu tulisan Bapak semua?”

Pertanyaan singkat itu menarik sepasang bola mataku dari layar komputer. Selepasnya, tidak ada lagi keriuhan. Senyap menyergap. Sepi enggan menepi. Aku masih bergumul dengan angan-angan dan harapan. Mengubah segala yang maya menjadi nyata.

Apakah bisa?

“Bapak kenapa?”

Aku tersenyum ke arah sumber suara. Di titik asal itu aku pun menemukannya. Sepasang mata elang menatap penuh tanda tanya. Aku pun berusaha mengubah tanya menjadi jawaban penuh keyakinan.

“Tidak kenapa-napa, Mas. Bapak baik-baik saja, kok.”

Anak laki-laki itu masih menatapku. Seolah hendak menyelami kedalaman riak tanda tanya dalam sikapku sepagi itu.

“Bapak belum jawab pertanyaan Opin,” katanya sambil melangkah mendekatiku.

Aku menarik napas panjang kemudian berkata, “Iya, Mas.”

“Tulisan apa saja itu, Bapak?”

Aku tersenyum sambil menjawab, “Macam-macam, Mas. Ada naskah novel, kumpulan cerita anak, dan tulisan media massa.”

“Banyak juga, ya, Pak. Kenapa tidak diterbitkan saja?”

Aku merenung, seolah kata-kata memilih berdiam diri di ujung lidahku. Mendadak semua kaku untuk sementara waktu. Hingga akhirnya kebekuan menjelma cerita yang menganak sungai.

“Bukannya tidak mau, Mas. Sebagiannya ini adalah naskah yang ditolak penerbit. Beberapa juga naskah baru yang Bapak belum percaya diri untuk mempublikasikannya. Masih banyak hal yang harus diperbaiki agar layak publikasi. Beruntung semalam Bapak banyak belajar tentang tips menulis dari Bu Kanjeng, jadi tidak bingung lagi mau melangkah mengantarkan naskah-naskah ini ke takdirnya masing-masing,” jawabku penuh keyakinan.

“Bu Kanjeng itu siapa, Bapak?” tanyanya sambil ikut menatap layar komputer.

Dengan cekatan aku membuka aplikasi WhatsApp web. Aku pun menunjukkan obrolan di grup menulis yang aku ikuti. Dan, sepasang mata itu pun mengikuti setiap kata yang terpampang di sana.

Profil Narasumber

Tidak lama kemudian, dia pun menganggukkan kepala sambil berkata, “Wah! Dia hebat Bapak, ya. Di usia yang tidak lagi muda tetapi tetap semangat berkarya.”

“Itu yang harus kita teladani, Mas. Semangat, komitmen, dan inspirasinya. Bapak jadi tergerak untuk menyelesaikan naskah yang berhenti di tengah jalan,” kataku sambil menutup aplikasi WhatsApp web dan menggantinya dengan tampilan infografis.

Infografis Tips Menjadi Penulis

Dengan sabar, aku membuka satu per satu infografis itu dan menjelaskan padanya. Dia pun terlihat tertarik dengan tampilan infografis dan penjelasanku. Dia akhirnya menekuni setiap gambar yang ada. Tidak segan dia pun bertanya tentang materi yang belum dipahami.

Infografis Tips Disiplin Menulis

“Itu infografis tips menjadi penulis dan disiplin menulis, Mas. Ada yang mau ditanyakan?”

Opin menggelengkan kepala. Sesaat setelahnya dia kembali menatap layar komputer di depannya. Bayangan infografis tenggelam di retina matanya.

Infografis Tips Membuat Judul yang Menarik

“Ini kelanjutannya, Mas. Masih nyimak, kan?” tanyaku sedikit mengejutkan Opin.

“Masih, dong, Bapak!” jawabnya dengan semangat.

Aku pun kembali menggelar beberapa infografis sebagai bahan bacaan baginya.

Tips Mencari Ide
Tips Menulis Cepat

Opin terlihat menekuni infografis satu per satu. Sambil membaca poin-poin penting, sesekali dia bertanya tentang hal-hal yang ingin diketahuinya.

Tips Memenangkan Lomba

“Apa Bapak kemarin tidak mengikuti tips ini makanya kalah?” tanya Opin saat aku memberikan tips tentang memenangkan lomba.

Aku mencoba mengingat-ingat apa yang sudah ingin aku lupakan. Hingga akhirnya kata demi kata pun mengalir membuka kembali ingatan tentang kekalahan.

“Sebenarnya juga sudah seperti itu, Mas. Tapi … Entahlah. Bapak sendiri juga tidak paham,” kataku kemudian.

“Bapak kurang beruntung mungkin,” katanya sambil tersenyum.

Mendengar perkataan polos itu aku pun berusaha memberikan pemahaman, “Bagi Bapak, menang atau kalah dalam lomba itu bukan perihal keberuntungan, Mas. Tapi lebih pada tentang siapa yang berusaha lebih keras dan baik dalam menghasilkan karya. Kalau Bapak kalah, ya itu artinya harus segera berbenah memperbaiki sekaligus meningkatkan kapasitas diri. Begitu, Mas.”

Opin mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya dia sepakat dengan apa yang aku sampaikan. Bukan saja penjelasan, tetapi juha berderet-deret infografis yang aku sajikan.

Langkah-langkah Menulis Buku
Tips Mengirimkan Tulisan ke Media
Tips Membuat Pembaca Penasaran

Dan, pada akhirnya waktu pula yang menjemput kebersamaan itu. Opin pun memilih meninggalkanku sendirian. Aku tersenyum. Setidaknya ada proses transfer pengetahuan.

Dalam kesendirian, aku pun melanjutkan menyelesaikan tugas. Dan, aku pun perlahan bergerak dari komitmen untuk menuntaskan apa yang telah dimulai.

– mo –

Mataram, 15 Oktober 2020

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.