Pahlawan Literasi: Berkarya dari Rasa

“Sebab berkarya bukan perihal kalah atau menang, tetapi komitmen meningkatkan kompetensi diri”

“Tetap semangat mencoba lagi tahun depan ya, Pak.”

Sepasang mataku mendadak kosong setelah membaca pesan WhatsApp dari panitia lomba itu. Sesaat setelahnya tanpa terasa mataku berubah menjadi sebuah perigi hangat. Aku enggan menghapusnya, sebab aku memilih menenggelamkan kesedihan di kedalamannya.

“Di mana letak kekurangannya?”

Sebuah pertanyaan yang berkali-kali melintas dalam pikiran. Sebuah pertanyaan yang harus aku temukan jawabannya.

Dan, malam ini aku menemukan kembali kekuatan diri untuk melakukan introspeksi. Pun refleksi atas jerih payah yang telah dilalui. Kekuatan itu berasal dari darah dagingku yang tanpa kusadari memperhatikanku sedari tadi.

“Bapak kenapa?”

Aku berusaha menyembunyikan kesedihan. Dengan susah payah, senyuman pun berhasil menggantikannya.

“Tidak apa-apa, Mas,” jawabku singkat.

Anak laki-laki itu menatap tajam ke arahku. Dia sepertinya bisa membaca kesedihan dari perubahan nada suara. Aku pun menyerah dan memilih terbuka.

“Bapak tidak lolos lomba video pembelajaran, Mas,” jawabku pelan sambil mengalihkan pandangan dari sepasang mata elangnya.

Tak lama kemudian aku mendengar tawa tertahan. Meskipun aku tahu kekalahan bukan untuk ditertawakan, tetapi aku memilih membiarkan Opin. Aku tahu dia sama sekali tidak ada niat menertawakan kekalahan. Namun, aku juga tidak tahu pasti apa yang membuatnya tertawa.

“Bapak ini lucu. Kalau sama Opin bilangnya jangan menyerah. Giliran Bapak kalah eh langsung pasrah. Ha ha ha …”

Menyadari alasan Opin tertawa, aku pun segera membela diri, “Enak saja. Siapa yang menyerah dan pasrah, Mas. Tidak ada dalam kamus Bapak itu. Ha ha ha …”

Seketika kesedihan sirna ditelan tawa bahagia. Aku dan Opin pun larut dalam usaha bangkit dari kekalahan.

“Tapi tenang, Mas. Bapak sudah dapat ilmu tambahan baru dari ahlinya,” kataku setelah suasana benar-benar nyaman untuk bercerita.

Malam yang larut tidak mampu memupus keingintahuan Opin. Dengan mencondongkan kepala, dia menodongku dengan banyak pertanyaan, seperti biasanya.

“Siapa dia, Bapak?” tanya Opin sambil mencuri pandang ke arah gawaiku.

“Ini dia, Mas. Namanya Hamzah Ramdhani. Beliau ini mengajar IPA di SMP Negeri 2 Bumi Raya Morowali Sulawesi Tengah,” jawabku berusaha mengobati penasarannya.

“Wah sama seperti Bapak, dong! Guru IPA SMP,” kata Opin.

Ternyata tidak sampai di situ saja. Opin pun memutuskan bertanya.

“Oya, Bapak tahu dari mana kalau beliau memang ahlinya?”

Aku menggulirkan layar gawai. Berderet-deret kalimat tentang prestasi aku sodorkan padanya.

“Ini buktinya, Mas!”

Tubuh Opin setengah terlonjak saat dia bertepuk tangan. Aku hanya tertawa menyaksikan anak semata wayangku menikmati rasa salut dan penghormatannya.

“Oya, memang Bapak dapat tambahan ilmu apa dari beliau?”

Opin bertanya sambil menatap lurus ke arah sederet piala lomba menulis di meja kerjaku. Sementara aku memilih untuk kembali menekuni obrolan di grup WhatsApp kelas menulis yang aku ikuti.

Beberapa saat lamanya ruang kerja berukuran kecil itu senyap. Hanya suara detik di dinding sibuk sendirian mendetak waktu. Hingga sebuah suara salam dari luar berhasil memecahkannya.

“Bapak, Opin, sudah jam berapa ini? Kok belum istirahat?”

Suara perempuan hebat itu mengalihkan dunia kecil yang kubangun bersama Opin malam ini.

“Masih seru ini, Mamak,” jawab Opin sambil menggeser duduknya mendekatiku.

Perempuan itu pun memutuskan meninggalkan ruangan setelah sebelumnya berkata, “Ya sudah. Kalau begitu Mamak istirahat duluan, ya. Ingat jangan begadang!”

“Siap, Mamak!” jawab Opin sambil mengambil sikap hormat.

Sementara aku hanya tersenyum melihat tingkah Opin sekaligus melepas kepergian Mamak Opin ke kamar tidur.

“Jadi, apa jawabannya, Bapak?”

Aku menarik napas panjang kemudian berkata, “Banyak, Mas. Salah satunya adalah tentang langkah-langkah membuat video pembelajaran yang meliputi analisis KI-KD, memilih indikator yang akan dibuatkan video pembelajaran, mengumpulkan aset video, proses perekaman, editing video pembelajaran serta review dan revisi, Mas.”

Opin terlihat mengangguk-anggukkan kepala. Aku tahu banyak pertanyaan masih menggunung di kepalanya. Dengan bahasa sesederhana mungkin aku pun menjelaskan padanya. Aku yakin dia belum seratus persen paham. Masih banyak hal yang harus dipelajari sendiri olehnya. Tidak terkecuali olehku.

“Bapak juga masih harus belajar banyak, Mas. Tentang hal-hal penting terkait pembuatan video pembelajaran yang menarik. Tentang naskah, teknik pengambilan gambar, editing, pencahayaan, animasi, dan narator video.”

“Semangat, Bapak! Bapak pasti bisa!” teriak Opin sambil menghambur ke pelukanku.

Sungguh tenaga kecil yang sanggup menjadi kekuatan besar membangkitkan semangat untuk berkarya dari rasa. Kekuatan yang mengajarkan bahwa setidaknya kegagalan membuktikan bahwa kita tidak pernah takut mencoba melakukan yang terbaik.

Dan, perlahan lampu di ruangan kerjaku mulai lindap kemudian gelap saat aku dan Opin meninggalkannya.

Ceklek!

Terdengar suara ruangan terkunci. Seperti itu aku mengunci ilmu sepenuh perasaan. Tersimpan dalam sunyi hingga waktu yang tepat dibuka untuk dibagi.

Simak juga: Resume Materi Pertemuan Ke-4 Versi Video

– mo –

Mataram, 13 Oktober 2020

0 Comments

  1. Mazmo memang ahlinya bercerita…resume pun dikemas dlm dialog. Dan saya suka…suka dengan Mazmo’s style….good luck

Leave a Reply

Your email address will not be published.