Pahlawan Literasi: Berwirausaha dari Suka

“Harus bagaimana lagi ini, Mak?”

Mamak Opin terlihat menggelengkan kepalanya. Sudah hampir delapan bulan ini aku berusaha menemukan solusi atas permasalahan yang terjadi. Bukan saja berdiskusi dengan belahan hati. Namun, juga dengan beberapa orang yang telah lebih dulu terjun menekuni.

Dan, sore ini adalah bulan kedelapan. Dalam keremangan malam teras rumah, dua suara mendadak sirna. Seolah senja lebih memilih menyembunyikan riuh dalam senyapnya. Aku menyandarkan tubuh lelahku. Sejenak aku membiarkan anganku mengembara. Satu demi satu peristiwa seolah terhampar di depan mata. Peristiwa awal mula kejadian hingga tadi menjelang senja. Sampai bulan kedelapan tidak ada pemberitahuan masuk ke gawaiku. Jauh berbeda seperti sebelumnya.

Sebelum pandemi setiap saat selalu saja ada yang pesan tiket pesawat terbang. Kebanyakan memang penerbangan domestik. Namun, demikian tetap saja bisa memberikan keuntungan. Laba yang bisa menjadi tambahan untuk menopang keuangan keluarga.

Meskipun hanya usaha sampingan, tetapi ada kenikmatan saat menggelutinya. Bukan saja perkara finansial, tetapi juga dalam menjalin hubungan. Sebuah jalinan yang berdampak lebih luas menjadi jaringan.

Baca juga: Mahakarya dari Usaha

“Bapak, kan, masih punya usaha juga jualan di marketplace. Kenapa tidak mengisi waktu fokus dulu di sana saja, Pak,” kata perempuan itu sambil membetulkan letak jilbab cokelatnya.

Pikiranku masih menjelajah isi kepala. Aku melihat produk demi produk yang terpajang di etalase sebuah marketplace. Bayangan produk yang akhirnya menguatkan niatku untuk kembali menekuninya.

Baca juga: Rasa dari Asa

“Bapak coba cari inspirasi dulu. Soalnya Mamak pernah baca ada wirausahawan sukses yang juga seorang guru. Kalau tidak salah namanya Ibu Betti siapa gitu, Pak,” kata Mamak Opin sambil berlalu meninggalkanku.

Sosok tangguh itu pun akhirnya benar-benar hilang dari pandangan. Berganti dengan sosok mungil belahan jiwaku, Opin. Mata elangnya menatapku penuh tanda tanya.

“Bapak lagi apa?”

“Ini, Mas. Bapak lagi mencari inspirasi wirausaha. Tentang seorang guru yang juga pengusaha,” jawabku sambil menggulirkan layar setelah sesaat sebelumnya menatap Opin.

Tak lama kemudian Opin pun bergabung denganku. Dengan bantuannya, aku pun mulai menggali sosok bernama Ibu Betty.

“Wah ini dia, Mas!” teriakku sambil menunjukkan laman berisi informasi perempuan pemilik bimbingan belajar Aritmatika itu.

“Informasi apa yang Bapak dapatkan?” tanya Opin sambil beradu tatap denganku.
Butuh waktu cukup lama aku menekuni kata demi kata di layar gawaiku. Akhirnya aku pun berusaha merangkai kata untuk menjelaskan pada Opin.

“Jadi, Mas. Ibu Betti ini bernama lengkap Betti Risnaleni. Beliau ini di sela-sela mengajar di TK/SD Insan Kamil telah membuka banyak usaha. Usaha-usaha itu meliputi kursus Aritmatika yang sudah memiliki 24 cabang di Bekasi. Selain itu, beliau ini juga memiliki usaha boga, dan sebuah kedai bernama Kedai Kreatif.”

Sumber: https://youtu.be/_txR-OhkTpA

Opin menganggukkan kepala pelan. Dari penjelasan pembuka itu, aku melihat ketertarikan di telaga matanya yang bening.

“Dari semua usaha itu, mana yang paling Bapak suka?”

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Pertanyaan Opin membuatku berpikir keras untuk menemukan jawabannya. Pertanyaan itu mengingatkanku pada usaha yang sampingan yang sedang kujalankan. Usaha penyedia layanan jasa perjalanan, pembelian pulsa, pembayaran PPOB, dan jualan daring di marketplace. Secara pribadi aku menyukai semua yang telah kukerjakan. Namun, bagaimanapun juga hidup adalah tentang pilihan. Selalu ada alternatif yang bisa dipilih sesuai keadaan.

“Begini, Mas. Dalam situasi seperti sekarang Bapak juga sedang berusaha menentukan pilihan. Beda memang dengan Ibu Betti yang telah pengalaman dalam mengelola banyak usaha. Dan semuanya sukses. Bapak pribadi sepertinya hanya sanggup menjalankan dua jenis usaha saja, jualan pulsa dan jualan daring di marketplace. Terkait pertanyaan Mas, Bapak sih paling suka dengan ide usaha Kedai Kreatif,” jawabku sambil membagikan sedikit pengalaman berwirausaha kepada Opin.

“Kenapa Bapak suka?”

Pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban. Menurutku suka adalah relatif. Dan, suka kadang tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaan alasan. Namun, demi merangsang lebih jauh keingintahuan Opin, aku pun berusaha merangkai penjelasan demi penjelasan.

“Alasannya adalah karena Kedai Kreatif itu memadukan antara tempat nongkrong dengan literasi, Mas. Jadi, bisa minum kopi sambil baca buku. Hmm … Pasti seru!”

Sumber: https://youtu.be/_txR-OhkTpA

Opin tersenyum lebar. Dia sepertinya ingin menyelam lebih dalam. Mengetahui itu, aku pun memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada ya untuk menggali.

“Bukankah sudah banyak kedai dengan konsep seperti itu?”

Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil berkata, “Iya juga, sih. Meskipun demikian tetap saja Bapak suka, Mas. Pasti Bapak betah berlama-lama di sana. He he he. Memang kalau konsepnya sama kenapa, Mas?”

Opin sejenak terdiam. Sepertinya dia belum menemukan jawaban yang pas atas pertanyaanku. Aku pun berusaha menggiringnya menuju jawaban yang kuinginkan.

“Kenapa konsepnya harus beda, Mas? Apa karena beda itu membuat usaha mudah diingat?” tanyaku berusaha memancingnya.

Baca juga: Ide dari Keluarga

Benar saja. Opin pun bergegas menyahut rentetan pertanyaanku.

“Betul itu, Bapak. Kalau konsepnya sama akan biasa. Kalau beda pasti akan menjadi nilai lebih.”

Aku bertepuk tangan setelah mendengar jawabannya. Dengan semangat aku memberikan penguatan.

“Itu artinya Ibu Betti harus berinovasi agar kesamaan konsep tersebut menjadi terlihat berbeda,” kataku sambil meluruskan kaki di lantai teras.

Opin terlihat mengangkat kepala kemudian bertanya, “Menurut Bapak apa?”

Deg!

Seketika pertanyaan itu menjelma anak panah yang melesat menembus hingga jantungku. Pertanyaan sederhana yang jawabannya selain sebagai masukan bagi Ibu Betti, juga sekaligus sebagai diriku sendiri. Pertanyaan yang bahkan aku sendiri belum menemukan jawabannya, untuk diriku sendiri. Namun, pertanyaan itu juga sekaligus mampu membuatku berpikir lebih keras lagi. Hingga akhirnya …

“Bapak tahu, Mas. Kebetulan Ibu Betti, kan, aktif bergerak di dunia literasi. Beliau memiliki banyak TBM. Nah dari situ untuk membuat kedai berbeda, Ibu Betti bisa mengintegrasikan konsep yang melibatkan pengunjung. Misalnya, mengatur jadwal pengunjung memberikan ulasan terhadap buku, menyelenggarakan kelas menulis atau boga gratis, mengadakan malam puisi, melibatkan tokoh untuk berdiskusi, melibatkan pengunjung dalam pembuatan sendiri kue yang ingin dibelinya, dan lain-lain. Kurang lebih seperti itu, Mas. Menurut Bapak, sih. He he ha …”

Opin tersenyum kemudian kembali merangkai tanya, “Kalau untuk usaha Bapak sendiri apa?”
Anak panah jelmaan pertanyaan kembali menghunjam jantungku. Berkali-kali hingga aku lupa bahwa ada yang harus kukuatkan terlebih dahulu, yaitu mental. Sesuai yang disampaikan oleh Ibu Betti bahwa modal utama membangun usaha adalah mental. Dan, sepertinya aku belum memiliki mental yang cukup bagus untuk maju dan bersaing. Namun, akhirnya aku belajar satu hal dari pertanyaan Opin, bahwa mental yang tangguh akan lebih memudahkan melakukan terobosan memajukan usaha.

“Bapak harus berpikir dulu, Mas. Doakan saja Bapak segera bisa menemukan terobosan mengembangkan usaha sampingan Bapak ini. Mas siap mendukung, kan?”

“Siap, Bapak!”

Dan, pernyataan kesiapan Opin adalah kekuatan tersendiri bagiku. Kekuatan untuk terus berjuang melakukan inovasi usaha sampingan jualan daring di marketplace. Hingga nanti pada akhirnya akan mampu mengembangkan diri sebagai teacherpreneur.

– mo –

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.