Pahlawan Literasi: Menulis dari Hati

“Sebab menulis adalah salah satu proses kreatif merayakan kegelisahan ide-ide di kepala”

Tik, tik, tik!

Di keremangan malam, bunyi hujan terdengar tak lelah mencumbu atap rumah. Sepoi angin basah mengantarkan ingatan tentang masa lalu yang enggan punah. Tentang awal menjelajah dunia baru. Sebuah dunia yang kuciptakan dari kata-kata.

“Rasanya aku tidak sanggup lagi, Mas. Ini terlalu berat bagiku. Jarak dan waktu seolah enggan bersekutu dengan temu.”

Klik!

Terdengar sambungan telepon ditutup. Seketika ada debar yang membuatku terkapar. Lebih dari setahun berjalan memendam kerinduan, tetapi pada akhirnya tuntas oleh kepasrahan. Awalnya kebingungan menyertai setiap langkahku. Selain munajat dan mendekat pada pemilik hidup, aku juga harus menumpahkan kegelisahan.

Namun, menceritakan perihal hati bukanlah hal mudah. Aku lebih memilih menyimpannya sendiri. Sesak? Iya. Lelah? Pasti. Hingga akhirnya ada dorongan dari hati untuk menumpahkan kegelisahan lewat tulisan.

Dan, segala gelisah pun akhirnya mendadak sirna perlahan.

“Bapak sudah makan?”

Suara seorang anak laki-laki itu menyeret kenanganku jauh ke tepi ingatan. Diiringi merdu rinai yang tak berkesudahan, aku merelakan kenangan bertahun-tahun lalu itu sebagai pembelajaran.

“Sudah, Mas. Kenapa?” tanyaku memintanya duduk di sampingku.

Anak laki-laki bernama Opin itu pun perlahan mendekat. Sesaat kemudian, teras rumah menjadi saksi bisu perbincangan dua hati.

“Opin lagi bingung ini, Bapak,” katanya sambil memeluk kedua kaki mungilnya.

Melihatnya seperti itu, membuatku mau tidak mau tersenyum. Waktu seolah membawaku kembali ke masa kecilku.

“Bingung kenapa, Mas? Tugas sekolah?” tanyaku sambil mengangkat wajahnya yang terlihat di sela-sela kedua kakinya.

Opin menganggukkan kepala kemudian berkata, “Opin disuruh membuat karangan tentang apa saja. Opin bingung mau menulis apa, Bapak.”

“He he he … Ini Bapak kasih tahu. Coba baca, Mas,” kataku sambil menunjukkan berderet-deret kata di layar gawaiku.

Dia pun menatap lekat ke arah layar. Bola matanya menari mengikuti deretan kata itu.

“Bagaimana, Mas? Sudah paham belum?” tanyaku setelah dia memalingkan wajah dari layar gawai.

Opin terlihat menggelengkan kepala. Menyadari tentang hal itu aku pun angkat bicara.

“Menurut narasumber malam ini, Bapak Ya’ Dedi Suhandi, topik tulisan bisa diawali dengan hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita, Mas,” jawabku sambil menonaktifkan gawai.

Ya’ Dedi Suhandi

Aku melihat Opin menerawang dalam remang. Aku mengenalinya sebagai upaya memahami jawaban.

Menyadari hal itu, aku pun melanjutkan penjelasan, “Contohnya begini. Mas bisa memilih topik atau tema tentang diri sendiri. Tulis apa yang Mas rasakan sehari-hari. Bisa kejadian yang sedih, bahagia atau kejadian apa saja. Kalau boleh Bapak tahu, seharian ini apa Mas ada kejadian menarik? Kejadian dengan Bapak atau Mamak, misalnya?”

Baca juga: Pahlawan Bahasa: Berawal dari Kata

“Ngg … Ada, Bapak,” jawab Opin bersemangat kemudian melanjutkan kembali kata-katanya, “tapi ini rahasia, Bapak. Ha ha ha …”

Tawa pun pecah menembus kelam malam. Perbincangan kian hangat terlebih saat seorang perempuan datang menghampiri.

“Kalian berdua sedang bahas apa, sih? Sepertinya seru sekali,” kata perempuan itu sambil menyodorkan dua gelas air putih hangat dan sepiring potongan ubi jalar ungu rebus.

“Eh … Mamak! Ayo ikut gabung sini. Kita belajar menulis bersama,” kataku sambil membantunya meletakkan makanan dan minimal di atas keramik hijau lantai teras rumah.

Perempuan itu sambil tersenyum berkata, “Sudah. Biar Bapak sama Opin saja yang jadi penulisan Biar Mamak cukup menjadi pembaca saja.”

“Tidak bisa begitu, Mamak. Mamak, kan, suka masak. Bisa, tuh, Mamak menulis tentang resep masalah,” kata Opin menimpali perkataan mamaknya.

Mamak Opin terlihat mengelus kepala anaknya kemudian berkata, “Mas … Sementara Mas sama Bapak yang belajar dulu, ya. Besok tinggal Mas sama Bapak menularkan ilmu menulis kepada Mamak. Kan, ilmu itu akan bermanfaat kalau dibagi. Bagaimana?”

Melodi hujan seolah menjadi saksi tertanamnya niat baik dalam diri. Sungguh suatu hal yang patut disyukuri. Ke depannya tinggal berbagi pengetahuan sekaligus menjaga konsistensi diri. Setidaknya akan bertambah lagi teman untuk berdiskusi. Dengan begitu akan tercinta karya yang bervariasi. Aku tetap mencintai dunia fiksi, Opin dengan cerita kehidupan sehari-hari, dan Mamak Opin dengan kesehariannya sebagai seorang pekerja sekaligus ibu rumah tangga.

“Mamak tinggal dulu, ya. Selamat menimba ilmu, Bapak dan Opin,” kata perempuan tercantik sedunia itu yang kemudian kembali masuk ke dalam rumah meneruskan pekerjaan rumahnya.

Aku dan Opin bertukar senyuman. Setelahnya satu per satu aku menjelaskan lebih detail pengetahuan yang dibagi oleh Bapak Ya’ Dedi Suhandi selaku narasumber.

“Jadi bagaimana, Mas? Sudah menemukan tema apa yang mau ditulis?”

Opin menganggukkan kepala. Dia kemudian menceritakan apa yang hendak ditulisnya. Aku sama sekali tidak menyelang cerita Opin. Sengaja aku lakukan untuk memberikan dia kesempatan seluas-luasnya. Aku menambahkan saat dia telah benar-benar selesai.

“Jangan lupa menulis pembuka cerita yang membuat pembaca penasaran untuk melanjutkan membaca, Mas. Begitu pesan Pak Dedi tadi, kan?”

Opin kembali menganggukkan kepala, kemudian berkata, “Contohnya apa, Bapak?”

Aku membetulkan posisi duduk kemudian berkata, “Misalnya langsung membuka cerita dengan dialog. Bisa juga dengan menulis suasana. Atau bisa juga langsung pada konflik yang terjadi.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepala, Opin bertanya, “Konflik cerita itu apa, Bapak?”

Baca juga: Pahlawan Bahasa: Belajar dari Pengalaman

Aku pun berusaha menjelaskan tentang konflik cerita dengan bahasa sederhana.

“Konflik cerita itu masalah yang ditimbulkan untuk membuat cerita tetap bergerak. Misalnya Mas ingin menulis tentang dimarahi Mamak, maka Mas bisa langsung menuliskan kemarahan Mamak seperti apa di awal cerita.”

“Oh … Begitu, ya, Bapak. Nanti Opin Coba, deh,” kata anak laki-laki berambut ikal itu sambil melanjutkan menikmati ubi rebus yang dihidangkan mamaknya.

Uap tipis masih melayang di atas piring berisi ubi rebus itu. Aromanya menguar dan menggodaku untuk bergegas menjamahnya. Dalam sekejap potongan demi potongan itu berpindah ke perutku dan Opin.

Malam pun seolah mempercepat dirinya menuju setengahnya. Masih banyak hal yang ingin dibincangkan. Namun, bukan saja raga, pikiran pun butuh diistirahatkan. Setidaknya dari Pak Ya’ Dedi Suhandi aku dan Opin bisa belajar banyak, bahwa menulis adalah perihal komitmen dari hati untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai.

– mo –

Mataram, 9 Oktober 2020

0 Comments

  1. Bagus resumenya. Selain bentuknya cerita, dari kata-kata hampir tidak ada yang salah.

    Penataan paragraf juga bagus. Jadi, paragraf tidak berisi begitu banyak kalimat.

    Boleh juga nih resume model begini. Mungkin bisa saya coba juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published.