Pahlawan Literasi: Pengabdian dari Keikhlasan

“Bapak kenapa?” tanya anak laki-laki yang duduk di sampingku sambil memandangku penuh tanda tanya sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya, “dari tadi Opin lihat senyum-senyum terus.”

Jingga senja kian temaram ketika aku mengajaknya meninggalkan tempat itu. Dia tidak segera mengikutiku berdiri. Saat aku melihatnya, kutemukan sejuta tanda tanya di binar matanya. Tanda tanya yang bahkan menutup sisa semburat jingga yang jatuh di kelopak matanya.

Aku kembali melempar senyum ke arahnya. Sebuah senyuman yang akhirnya membuat tubuhnya berpindah dari kedudukannya semula. Setelah membersihkan sisa-sisa pasir hitam yang menempel di celana pendek cokelatnya, dia bergegas menyusulku.

Di kejauhan tiang-tiang bekas dermaga semakin menghilang. Pun keramaian yang semula memenuhi pantai Ampenan. Dan, temaram pun beranjak gulita ketika aku dan anak tunggalku itu benar-benar menginjakkan kaki di halaman rumah.

“Bapak kok tidak menjawab pertanyaan Opin, sih?”

Aku tetap membisu. Kuberikan padanya sebuah senyuman penuh arti.

“Apa Bapak ini. Setiap ditanya jawabannya hanya tersenyum. Memang senyum itu jawaban?”

Aku kembali tersenyum kemudian sesaat setelahnya, aku membuka suara, “Nanti malam, ya, Bapak cerita semuanya. Sekarang kita siap-siap dulu mandi, salat magrib sama makan. Bagaimana, Mas?”

Opin melipat wajahnya. Dengan bersedekap, dia mendelik ke arahku. Aku pun perlahan menghampirinya.

“Bapak janji nanti akan cerita semuanya agar Opin tidak penasaran lagi. Oke?!” kataku sambil mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Dalam senyuman tipis, dia pun melangkah mengikutiku. Di dalam rumah bercat biru itu, aku melepasnya masuk ke kamarnya. Sebelum masuk kamar terdengar suara ibunya menegurnya.

“Kenapa, Mas? Baru pulang jalan-jalan sama Bapak, kok, cemberut?”

Opin pun menjawab, “Hee … Sudah tidak apa-apa, kok, Mak.”

“Ya sudah. Ayo kita siap-siap salat jamaah,” kata Mamak Opin kemudian.

Dan, senja pun benar-benar hilang. Kini tugasnya mengawal hari digantikan oleh malam. Rutinitas kala petang menjelang malam itu pun usai.

Seperti biasa, aku bersama mereka diam beberapa saat di meja makan. Banyak hal yang diperbincangkan. Tidak sedikit kata yang hendak diucapkan.

“Jadi begini, Mak, Opin,” kataku mengawali bincang selepas petang itu, kemudian melanjutkan kata-kata sambil menumpukan dua siku di atas meja kayu, “Tadi itu Opin bertanya alasan Bapak senyum-senyum terus.”

Mamak Opin menyahut sambil merapikan sisa sambal pelecing yang dibuatnya, “Terus Bapak jawab apa?”

“Tidak tahu Bapak itu, Mak. Dari tadi tidak mau menjawab,” sahut Opin.

Mamak Opin sambil membereskan meja kembali menyahut, “Oh … Jadi itu alasannya Opin cemberut dari tadi?”

Opin hanya tertawa. Pun aku yang akhirnya terkekeh mendengarnya.

“Sudah, sudah, sudah … Ceritanya mau dilanjut tidak ini?” tanyaku kemudian.

Opin dan mamaknya menganggukkan kepala. Keduanya pun mengambil sikap sempurna dalam duduknya masing-masing. Seperti biasa.

Aku pun memutuskan melanjutkan cerita, “Jadi, tadi itu Bapak sedang menemukan sesuatu yang sangat menggembirakan.”

Mamak Opin sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Perempuan yang selalu mendukung hobi menulisku itu menunggu. Gurat ketidaksabaran terlukis nyata di wajah bulat dengan pipi penuhnya.

“Tadi itu, Bapak membaca sebuah tautan. Tautan itu tentang menerbitkan buku dengan ISBN gratis. Namanya Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan atau lebih dikenal dengan YPTD. Seru, kan?”

Mamak Opin bertepuk tangan pelan. Sementara Opin tanpa sadar mulutnya sedikit terbuka. Aku tahu kalau itu tandanya ada hal yang belum dipahaminya. Sebelas tahun bersamanya, aku tahu kebiasaan-kebiasaan kecil yang kadang tidak terbaca orang lain.

Dan, benar saja. Tidak lama kemudian, dia merangkai tanya.

“ISBN itu apa, Pak? Kenapa dengan ISBN?”

Aku pun menjelaskan kepanjangan ISBN, yaitu International Standard Book Number. Tak lupa aku menjelaskan bahwa ISBN adalah kode pengidentifikasian buku secara unik yang artinya masing-masing buku berbeda. Lebih lanjut aku menjelaskan tentang fungsi ISBN yang diterbitkan Perpustakaan Nasional sebagai identitas buku, memperlancar arus distribusi buku, dan sarana promosi.

“Terus hubungannya apa sama Bapak yang senyum-senyum dari tadi itu?”

Kali ini Mamak Opin yang berusaha menggali informasi lebih dalam lagi. Aku tidak segera menjawab. Sejenak aku terdiam menghirup udara dalam-dalam. Seketika keharuman aroma bumbu ayam taliwang yang masih tersisa menyapa ujung-ujung saraf indra penciumanku. Dengan cepat rangsang itu menggugah reseptor saraf di otakku. Dan, otakku pun menerjemahkannya sebagai rasa lapar, lagi.

Tangan kananku berusaha menepis perintah otak untuk mengambil bagian sayap, kesukaanku. Ia memilih melakukan perintah lainnya yaitu mengambil segelas air putih hangat.

“Begini, Mak. Itu artinya Bapak tidak akan lagi bingung untuk menerbitkan buku. Bapak tinggal kirim naskah ke YPTD,” jawabku.

Kali ini Opin memberikan respons lebih cepat dari mamaknya yang memutuskan mengatupkan belahan bibirnya. Aku tahu dia sengaja membiarkan Opin untuk bertanya lebih dulu.

“Memang YPTD itu di mana, Bapak?”

Aku pun memutuskan mengambil gawai dengan persetujuan mereka berdua. Aku segera membuka laman terbitkanbukugratis.id dan menunjukkan pada mereka berdua. Dengan tekun Opin dan mamaknya membiarkan retina mata mereka melakukan tugasnya. Setiap kata mereka pindai sebagai kalimat. Semuanya masuk ke otak dan sebagiannya keluar sebagai gelombang suara.

“YPTD terbentuk tanggal 29 Juli 2019 berdasarkan Akta Notaris dan SK Kemenkumham. Sejak launching program menerbitkan buku gratis tanggal 19 Agustus 2020 telah menerbitkan 36 buku dengan ISBN dari Perpustakaan Nasional. Yayasan ini beralamat di Jalan Bumi Pratama VIII Blok A 23 Kelurahan Dukuh Jakarta Timur.”

Opin membiarkan udara memenuhi paru-parunya untuk sementara. Setelahnya dia bertanya, “Wah jauh dong, Bapak. Bagaimana cara kirim naskahnya?”

Aku hanya tersenyum kecil, “He he he … Kan Bapak bisa kirim naskah lewat surelnya, Mas. Alamat surelnya thamrindahlan@gmail.com. Gampang, kan?”

Opin dan mamaknya tersenyum sambil matanya tidak lepas dari gawaiku. Sesaat setelahnya Mamak Opin angkat bicara.

“Berarti nanti kalau Bapak mencetak buku, akan dapat bukti terbit berupa buku ber-ISBN, Pak?”

“Betul, Mak. Bapak sih sempat kepikiran, bagaimana kalau misalnya suatu saat Bapak pengin mengomersialkan buku itu,” jawabku panjang lebar.

Mamak Opin kembali merangkai kata, “Terus solusinya bagaimana, Pak?”

Kedua ujung bibirku tertarik ke arah yang berbeda kemudian berkata, “Syukurnya YPTD membebaskan penulis untuk mencetak bukunya di mana saja. Bapak sih berpikir yang penting sudah dapat ISBN. Masalah komersialisasi bisa diurus belakangan.”

Opin yang sedari tadi menyimak akhirnya memutuskan bertanya, “Komersialisasi itu maksudnya apa, Bapak?”

“Maksudnya diterbitkan untuk tujuan komersial atau dijual, Mas,” jawabku sambil tersenyum.

“Ohh … Gitu, ya,” jawab Opin sambil menganggukkan kepala.

Perbincangan di meja makan pun terus berlanjut. Sepertinya di antara kami bertiga tidak ada yang mau mengalah. Kami seakan berlomba untuk menjadi yang pertama belajar tentang usaha menerbitkan buku.

“Oya, menurut Bapak, bagaimana itu tentang naskah yang sudah siap bisa langsung diterbitkan?”

Aku mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Mamak Opin. Sebuah pertanyaan yang memenuhi benakku juga. Aku membayangkan semua naskah yang terendap di laptop bisa diterbitkan semua. Namun, dalam hati sebenarnya kurang yakin dengan kualitas isi bukunya kelak.

“Menurut Pak Haji Thamrin sih pada dasarnya semua buku berkualitas. Bapak setuju dengan pernyataan itu. Namun, menurut Bapak, sih, harus ada standar kualitas penulisan oleh pihak penerbit agar buku lebih berkualitas. Harus ada orang khusus yang memiliki keahlian untuk melakukannya,” jawabku panjang lebar.

Opin terlihat menatap mamaknya yang kembali bertanya, “Bapak tidak ada niat bergabung di YPTD mengabdikan diri menjadi penyunting? Bapak kan sudah biasa menjadi penyunting freelance?”

Mendengar pertanyaan itu, lidahku mendadak kelu. Butuh waktu lama memecah keheningan yang tiba-tiba melanda. Sebuah pertanyaan yang jawabannya masih jauh di angan-angan. Dan, kali ini aku benar-benar sedang diuji tentang pengabdian dari keikhlasan.

“Bapak belum berpikir ke arah sana, Mak. Rasanya masih jauh. Saat ini masih mau belajar dulu untuk melakukan swasunting sebelum naskah Bapak kirim ke Pak Haji. Setidaknya dengan swasunting, selain adanya ISBN buku juga akan lebih berkualitas dari segi penulisan.”

Dan, malam pun akhirnya benar-benar turut campur dalam perbincangan. Mamak pamit membereskan pekerjaan, Opin pamit hendak menyelesaikan tugas soal latihan, dan aku merenung sendirian. Perenungan yang dalam tentang upaya menanamkan lebih dalam lagi keikhlasan untuk mengabdikan diri di dunia literasi seperti Pak Haji.

Pengabdian bukan perkara pengharapan atas penghargaan, tetapi perihal keikhlasan

– mo –

Mataram, 20 Oktober 2020

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.