Pahlawan Literasi: Harapan Besar dari Hal Kecil

“Aha! Ketemu juga akhirnya!”

Teriakanku mengagetkan Opin yang duduk di sebelahku. Gawai yang dipegangnya hampir saja terlepas.

“Bapak cari apa, sih?”

Aku tidak segera menjawab pertanyaan Opin. Syaraf ujung telunjukku masih memilih menerima rangsang dari permukaan roda tetikus. Pergerakan roda yang membuat layar beegerak turun naik. Selembar kertas putih bertinta hitam dengan pinggiran motif berwarna emas terpampang di layar. Dengan menegakkan kepala, aku menunjukkannya pada Opin.

“Ini yang Bapak cari, Mas!”

“Apa itu, Bapak?”

Opin bertanya sambil menekuni setiap huruf yang tertulis di sana. Aku melihatnya tersenyum saat dia mengeja namaku pelan, “S u d o m o.”

Dia pun menunjukkan kekagumannya, “Wah sertifikat apa lagi itu, Bapak?”

Aku mulai membuka penjelasan tentang program Pembatik 2020 yang aku ikuti. Sebuah program peningkatan kompetensi guru dalam pembelajaran berbasis TIK. Aku juga menjelaskan langkahku yang terhenti hanya sampai tahap Literasi atau level 1.

“Kok bisa, Bapak?”

Aku tersenyum tipis, “Bisa saja, Mas. Meskipun Bapak lulus level satu, tetapi sertifikat keluarnya terlambat. Maksudnya Bapak terima sertifikat itu setelah level dua sudah tidak lagi dibuka. Salah Bapak juga sih ambil gelombang level satu di akhir-akhir. He he.”

Opin pun menguatkanku sesuai kemampuannya. Dia berkata bahwa aku bisa mencobanya lagi tahun depan.

“Betul, Mas. Setidaknya sudah ada sedikit pengalaman tahun ini,” jawabku menutup layar komputer.

“Memang apa manfaatnya, Bapak?”

Perlahan-lahan aku menjelaskan padanya bahwa apa pun hal positif yang dilakukan akan memberikan manfaat. Minimal bagi diri-sendiri dan juga orang lain.

“Manfaatnya itu seperti yang dirasakan oleh salah seorang narasumber kelas menulis Bapak, Mas. Namanya Ibu Eva Hariyati Israel, S.Kom. seorang Sahabat Rumah Belajar dari NTT. Menurut beliau dengan mengikuti program ini merupakan jalan yang penuh martabat dan manfaat untuk bisa melakukan transformasi pendidikan,” jelasku panjang lebar.

Opin pun mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya dia telah menyerap penjelasan awalku. Menyadari telah terbuka gerbang untuk menyerap pengetahuan tambahan, aku pun mengumpulkan informasi tambahan tentang sosok penulis buku Kelas Maya: Membangun Ekosistem E-Learning di Rumah Belajar.

“Wah bukunya sesuai sama keadaan sekarang ya, Bapak?”
Aku menganggukkan kepala kemudian menjelaskan padanya tentang proses menerbitkan buku yang beliau lalui.

“Jadi awalnya beliau ikut kelas menulis yang sama seperti Bapak, Mas. Terus ada salah seorang narasumber bernama Profesor Richardus Eko Indrajit yang memberikan tantangan menulis buku dalam seminggu,” kataku kemudian menarik napas panjang.

“Memang bisa, Bapak?” tanya Opin menatap kedalaman mataku.

Aku pun berusaha membalasnya dengan tatapan tajam. Sebuah tatapan yang kupercaya akan membuat segala penjelasan mudah diterima.

“He he he. Bisalah, Mas. Buktinya akhirnya buku duet beliau dengan Prof. Eko berhasil diterbitkan Penerbit Andi. Keren, kan?”

Opin menjawab singkat dan cepat, “Banget, Bapak!”

Sesaat setelahnya, aku menjelaskan padanya tentang pengalaman beliau selama menjalani tantangan seminggu menulis buku bersama Prof. Eko. Blog beliau www.evaman219.blogspot.com menjadi referensiku menjelaskan banyak hal padanya. Salah satunya yaitu tentang mind map yang selanjutnya beliau tuangkan menjadi outline.

“Awalnya beliau ini bingung mau menulis apa terkait tema E-Learning yang diajukannya, Mas. Tapi berkat keseriusan beliau akhirnya mulailah proses mencari referensi dari berbagai sumber di internet. Beruntung beliau punya modal pengalaman sebagai Sahabat Rumah Belajar. Jadi beliau pun lebih mudah menemukan topik tulisan. Beliau akhirnya memilih tema Kelas Maya. Hari kedua beliau pun menyusun outline yang disetujui oleh Prof. Eko. Hari ketiga sampai ketujuh ini paling menantang, Mas. Beliau benar-benar fokus menyelesaikan naskah bukunya,” jelasku sambil membuka fitur Kelas Maya di portal Rumah Belajar.

“Prosesnya itu saja, Bapak?”

Aku berusaha menjelaskan dengan bahasa semudah mungkin. Hal ini mengingat penjelasan selanjutnya dari Ibu Eva adalah terkait editing.

“Jadi setelah naskah beliau diterima penerbit tanpa revisi, naskah melewati proses editing, Mas. Proses ini meliputi editing sampul. Proses ini dilakukan untuk memperoleh sampul yang enak dilihat. Istilah kerennya eye catching. Selanjutnya adalah editing oleh pihak penerbit. Editing yang dilakukan meliputi atak atau tata letak dan juga menyesuaikan tulisan dengan konsep dan gaya bahasa beliau,” jelasku kemudian mengambil jeda.

“Proses selanjutnya adalah pengiriman kembali naskah yang sudah diedit ke penulis, Mas. Tahap ini disebut proof reading. Penulis diberi kesempatan mengecek kembali naskahnya. Siapa tahu ada kesalahan atau kekurangan yang terlewat. Tujuannya agar naskah benar-benar siap naik cetak. Selain itu juga dikirimkan perjanjian penerbitan buku,” lanjutku.

“Proses terakhir setelah proof reading adalah pengiriman naskah dari penulis ke penerbit untuk dicetak,” pungkasku.

Opin menganggukkan kepala kemudian berkata, “Wah panjang juga proses yang dilalui Bu Eva, ya, Bapak.”

“He he. Iya, Mas. Tapi menurut Bu Eva, proses panjang itu membuahkan hasil atau keuntungan yang sebanding. Apa saja keuntungannya? Pertama kepuasan batin. Jadi, dengan buku terbit di penerbit mayor itu rasanya seperti apa, ya? Rasanya seperti sebuah pencapaian luar biasa atas jerih payah, Mas,” kataku menjelaskan.

“Kedua, meningkatnya integritas, kredibilitas, dan kepercayaan diri. Dengan berhasil menerbitkan buku di penerbit mayor, akan membuat penulis semakin pede dengan tulisannya. Hal ini akan membuat penulis semakin produktif atau rajin menulis,” lanjutku.

“Selain itu juga akan menambah motivasi diri penulis untuk lebih maju. Kemudian keuntungan lainnya adalah semakin terbukanya peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman baik. Seperti Ibu Eva yang akhirnya berkesempatan menjadi narasumber dalam banyak kegiatan menulis. Salah satunya di kelas menulis yang Bapak ikuti,” jelasku sebelum akhirnya melanjutkan.

“Terakhir adalah bonus, yaitu royalti atau keuntungan penjualan buku. Royalti ini tergantung perjanjian, Mas. Ada tiga sistem yang biasa dipakai oleh penerbit mayor. Apa saja itu? Yaitu sistem jual putus, royalti, dan kontrak oplah. Jual putus artinya penulis menerima pembayaran langsung. Kalau royalti, penulis menerima pembayaran secara bertahap sesuai jumlah buku yang terjual. Sedangkan kontrak oplah adalah pembayaran penulis berdasarkan jumlah yang dicetak oleh penerbit. Masing-masing sistem ada kelebihan dan kekurangannya, Mas,” tambahku panjang lebar.

Setelah mendengar penjelasan panjangku, Opin pun mengalihkan pandangan ke layar komputer. Sementara aku, membiarkan anak laki-laki itu mengeksplor fitur-fitur lainnya. Pandangannya terpaku pada fitur Laboratorium Maya. Cukup lama Opin menjelajah fitur itu.

Sesaat setelahnya Opin pun berkata, “Bapak kenapa tidak mencoba menulis buku juga tentang Laboratorium Maya. Pas tuh sama pelajaran Bapak, IPA. He he.”

“Ha ha ha. Bisa bisa bisa, Mas. Tapi rasanya masih jauh untuk bisa berkolaborasi dengan Prof. Eko, Mas,” jawabku sambil menerawang.

Sekilas aku melihat Opin menatap ke arahku. Aku tahu dia juga ikut menenggelamkan diri dalam lamunanku. Benar saja. Tidak butuh waktu lama dia pun angkat bicara.

“Bapak tidak tertarik berkolaborasi dengan Prof. Eko?”

Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Namun, di balik tawa itu aku menyiapkan jawaban yang serius tentang siapa yang tidak tertarik berkolaborasi dengan seorang profesor.

“Kan Prof. Eko belum menjadi narasumber di kelas Bapak, Mas. Lagian Prof. Eko juga belum mengumumkan tantangan baru menulis dalam seminggu lagi,” jawabku diplomatis.

“Ha ha ha. Bapak ini lucu. Masak menulis saja harus menunggu ada tantangan. Ha ha ha,” jawab Opin sambil tertawa lebar.

Seolah ada pedang menancap di jantungku demi mendengar perkataan Opin. Aku mengakui ada benarnya juga. Namun, selalu ada alasan untuk apa yang kita lakukan.

“Mas … Adakalanya dalam menulis itu harus ada pemicunya. Tantangan menulis adalah salah satunya. Keinginan menaklukkan tantangan bisa menjadi pemicu untuk fokus menulis. Seperti kapan itu, Mas. Sekitar tahun 2014, ada event Bulan Narasi yaitu tantangan menulis novel selama sebulan yang diadakan oleh Penerbit PlotPoint. Waktu itu Bapak tertantang dan berusaha menaklukkannya. Selama sebulan Bapak menulis akhirnya jadilah sebuah novel berjudul Kidung Kinanti. Alhamdulillah bisa dapat juara III. Seandainya Bapak tidak ikut ambil bagian waktu itu, mungkin sampai sekarang Bapak tidak akan pernah bisa menulis novel. He he he.”

Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari bibir Opin. Sementara jawaban demi jawaban aku berikan untuk mengobati rasa penasarannya. Bukan saja tentang kepenulisan, tetapi juga terkait tantangan-tantangan pemicu untuk menulis.

“Jadi, kalau misalnya ada tantangan dari Prof. Eko, Bapak siap ikutan?”

Aku menggelengkan kepala kemudian berkata, “Bapak akan membalikkan tantangan itu pada Prof. Eko, Mas.”

“Ngg … Maksudnya bagaimana, Bapak?”

Aku tertawa kemudian berkata, “Maksudnya gantian Bapak yang menantang Prof. Eko untuk menulis novel selama sebulan. Ha ha ha.”

Opin pun ikut tertawa, “Ha ha ha. Mana mungkin Prof. Eko mau, Bapak. Bapak Bapak. Ada-ada saja.”

“Kita, kan, tidak tahu, Mas. Siapa tahu Pak Prof berkenan berkolaborasi dengan Bapak. Soalnya beliau sedang punya target menulis sebuah novel,” kataku menjelaskan.

Opin menyahut singkat dengan pertanyaan tentang tema novel apa yang akan aku angkat seandainya Profesor Eko berkenan menerima tantangan.

“Tentu saja tema novelnya pendidikan dari materi di Ekoji Channel. He he he. Kan, seru, Mas. Bisa kolaborasi dengan Prof. Eko sekaligus mengikuti jejak Ibu Eva yang super hebat,” jawabku menutup penjelasan bersamaan dengan Opin yang menutup layar komputer.

Pandangannya tertuju pada gambar latar layar komputer. Gambar latar itu berupa kolase beberapa sertifikat elektronik yang aku miliki. Sengaja kulakukan sebagai semangat untuk menjadi lebih baik.

Aku memang tidak tahu sertifikat-serifikat itu untuk apa kelak. Satu yang aku tahu, banyak ilmu berharga dari setiap lembarnya. Mungkin tidak saat ini. Bisa jadi akan bermanfaat pada waktu yang tepat.

Bayangan tentang sertifikat-sertifikat lainnya menjadi motivasi sendiri bagiku untuk terus berbenah untuk berubah. Termasuk sertifikat kelas menulis yang aku ikuti. Selembar kertas yang menjadi prasasti diri atas tugas yang harus diselesaikan sesuai tenggat.

Pada akhirnya kebersamaan itu pun bermuara pada pada sebuah titik harapan. Harapan besar atas hal-hal kecil yang telah dilakukan. Menanamkan benih-benih cinta literasi di dada anak laki-laki berusia hampir 12 tahun agar kelak dia bisa menumbuhkannya sendiri hingga benar-benar menjadi pahlawan literasi.

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.