Pahlawan Literasi: Inovasi dari Strategi

“Beli beli siapa mau beli?”

Suara yang rasanya akrab di telingaku itu begitu menggoda rasa ingin tahuku. Sendirian di ruang tamu setelah Opin izin main bersama teman-temannya dan mamaknya masak, aku mengisi waktu dengan membungkus buku pesanan. Aku memilih membiarkan kertas cokelat berserakan. Pun buku berjudul Pahlawan Antikorupsi menumpuk di meja saat suara anak laki-laki itu semakin keras terdengar. Dari sofa cokelat ruang tamu, aku pun berdiri. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk tiba di pintu.

Di kejauhan aku melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun. Dia sedang duduk di bawah pohon mangga di pinggir jalan depan rumah. Di depannya berjejer buku tulis dengan berbagai macam corak sampul. Beberapa terlihat bertumpuk di sisi kiri depannya. Sementara tidak jauh darinya, beberapa anak perempuan datang mendekat. Mereka pun akhirnya menjelma kerumunan.

Samar aku mendengar seorang anak perempuan bertanya, “Ada buku cerita, Pak?”

“Ada, Bu. Ini,” jawab anak laki-laki penjual buku itu sambil menyodorkan sebuah buku tulis bergambar kancil.

Sementara aku menyaksikannya dalam senyuman. Senyuman yang hanya sekejap datang. Sesaat setelahnya menghilang bersamaan dengan sebuah teriakan.

“Bubar, bubar! Anak laki-laki, kok, main jual-jualan!”

Bersamaan dengan teriakan itu, semua buku tulis melayang. Beberapa di antaranya masuk selokan. Sebagian lagi berhamburan. Sementara anak-anak yang berkerumun lari tunggang langgang. Seketika kurasakan hangat di sudut mataku.

Mataku liar melihat ke sana kemari. Dalam hati bertanya, “Ke mana anak laki-laki itu?”

Belum sempat aku menemukan jawaban, sebuah tangan menepuk pundakku. Aku menoleh sambil berusaha menyembunyikan luka atas sebuah kenyataan.

“Bapak menangis? Kenapa?”

Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Mamak Opin yang tiba-tiba berdiri di belakangku. Setelah memastikan jalan depan rumah benar-benar kosong, aku membalikkan badanku. Di hadapanku telah berdiri seorang perempuan dengan tanda tanya di sorot matanya.

“Tidak, Mak. Bapak tidak menangis, kok. Cuma sedang terharu membayangkan Opin tumbuh besar menjadi orang yang mencintai literasi seperti kita,” jawabku menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya.

Mamak Opin pun percaya dengan apa yang kukatakan. Dia pun pamit melanjutkan pekerjaannya. Minggu pagi adalah saat terbaik baginya mengembangkan hobinya memasak. Sementara aku kembali membungkus buku pesanan sambil sesekali membaca materi kelas menulis di layar gawaiku.

Baru beberapa baris aku selesaikan, terdengar suara salam. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun melangkah masuk setelah aku memberikan jawaban atas salam. Tangan kanannya terlihat membawa sebuah buku.

“Dari mana, Mas?” tanyaku saat Opin menyandarkan tubuhnya di sampingku.

Opin menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab, “Dari rumah Rama, Bapak. Kebetulan tadi di sana ada orang jual buku keliling. Murah-murah tahu, Bapak. Cuma lima ribuan. Kebetulan Opin bawa uang, ya, Opin beli satu buku cerita. Kasihan penjual itu, Bapak.”

“Kasihan kenapa, Mas?” tanyaku penuh selidik saat kami bersitatap.

Opin tidak segera menjawab. Setelah meletakkan buku cerita yang dibelinya, dia pamit mengambil minuman. Anak laki-laki itu pun melangkah ke ruang belakang.

Sementara menunggu Opin kembali, pertanyaan muncul kembali di kepalaku.

“Ke mana anak laki-laki tadi itu pergi?”

Dan, sesaat sebelum menyadari Opin benar-benar kembali duduk di sampingku, aku menemukan sebuah jawaban. Anak laki-laki itu ternyata memilih kembali masuk dan bersembunyi dalam ingatan di kepalaku. Anak laki-laki yang tidak pernah menyerah meskipun selalu dimarah saat bermain jual-jualan itu adalah aku di masa lalu.

“Bapak kok bengong?”

Aku gelagapan mendengar pertanyaannya. Ingatan masa lalu tentang aku yang dimarahi kakak pertamaku mendadak lindap. Sesaat setelahnya sama sekali sirna ditelan pertanyaan Opin.

“Eh, eh, tidak apa-apa, kok, Mas. Jadi, bagaimana tadi ceritanya? Kasihan kenapa?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.

“Tahu, Bapak. Di masa sekarang, toko buku kecil milik bapak itu terpaksa tutup sementara. Akhirnya dia jualan buku murah keliling ke kampung-kampung. Kasihan, kan?” Opin menjelaskan sekaligus meminta

“Iya, Mas. Kasihan Bapak itu. Tapi Bapak itu hebat, Mas. Dalam situasi seperti sekarang bisa menerapkan strategi pemasaran yang tepat. Sama seperti yang dipaparkan narasumber kelas menulis Bapak tadi malam,” jawabku menyatakan persetujuan atas pernyataan kasihannya.

Opin terlihat mengerutkan dahi. Aku yakin dia sedang menyusun kalimat tanya di kepalanya. Terbukti sesaat setelahnya dia membuka mulutnya.

“Memang siapa narasumbernya, Bapak?”

Sambil menunjukkan gawai ke arahnya aku berkata, “Namanya Bapak Agustinus Subardana. Ingat, Mas. Agustinus Subardana. Bukan Agustinus Wibowo. Kalau Agustinus Wibowo, kan, penulis cerita perjalanan. Nah kalau beliau ini adalah Direktur Pemasaran Penerbit ANDI, Mas. He he he.”

Sambil ikut tertawa kecil, Opin menganggukkan kepala tanda memahami penjelasanku. Dan, seperti biasa kebersamaan denganku akan melahirkan banyak tanya darinya.

“Materinya tentang apa, Bapak?”
Sambil menggulung layar gawai, aku menjelaskan pada Opin tentang strategi pemasaran di masa pandemi Covid-19 yang aku peroleh dari narasumber.

Aku mengawali penjelasan tentang kondisi pemasaran buku selama pandemi Covid-19. Dari beberapa referensi yang aku baca secara daring, aku menjelaskan kepada Opin tentang banyaknya penerbit yang menghentikan sementara operasionalnya. Selain itu aku juga menambahkan informasi dari Pak Agus mengenai beberapa jaringan toko buku modern yang terpaksa tidak beroperasi. Hal ini disebabkan karena kerumunan pengunjung dikhawatirkan akan memperluas penyebaran Covid-19.

Setelah mendengar penjelasanku, Opin pun kembali mengajukan pertanyaan. Kali ini terkait dampak lain yang dirasakan oleh penerbit. Berdasarkan materi dari Pak Agus aku pun menjelaskan panjang lebar.

“Jadi, Mas. Pandemi ini berdampak luas ke segala sektor kehidupan. Salah satunya usaha penerbitan. Menurut Pak Agus dampak ini juga dirasakan penerbit ANDI. Apa saja dampaknya? Banyak sekali, Mas. Selain sudah Bapak jelaskan tadi, masih banyak dampak lainnya. Di antaranya, yaitu menurunnya omset toko buku dari 60% hingga 90%. Mas bisa membayangkan kan betapa sulitnya bidang penerbitan buku?” tanyaku mengambil jeda penjelasan.

Opin pun menjawab, “Iya, Bapak. Pasti berat, ya. Oya, terus apa lagi, Bapak?”

Aku pun menjelaskan dampak lain bagi penerbit, yaitu tentang kurang maksimalnya penjualan secara langsung dan juga tentang pengalihan alokasi anggaran oleh masyarakat dari pembelian buku menjadi pembelian barang pokok maupun untuk kesehatan.

Aku mengambil jeda memberikan Opin kesempatan memahami setiap kata kemudian mengubahnya menjadi sebuah kalimat tanya.

“Terus bagaimana cara penerbit-penerbit itu, ya, Bapak?”

Aku menarik napas panjang kemudian berusaha menjawab pertanyaannya, “Menurut Pak Agus, yang harus dilakukan adalah melakukan pemetaan. Apa saja yang dipetakan? Salah satunya adalah jenis terbitan, Mas. Jenis buku yang diterbitkan mengikuti tren atau isu yang sedang berkembang. Misalnya, sekarang sedang hangat isu pandemi Covid-19, tentu tema ini yang akan lebih banyak diterbitkan. Begitu, Mas.”

Setelah penjelasan cukup panjang, aku meletakkan gawai kemudian meraih selembar kertas pembungkus berwarna cokelat. Dengan cekatan aku membungkus buku pesanan satu per satu. Tanpa diminta Opin pun ikut turun tangan membantuku. Sesekali dia meminta bantuanku untuk merapikan bungkusan. Di sela-sela proses membungkus pesanan, aku menyelipkan beberapa penjelasan.

“Yang Bapak lakukan ini adalah salah satu strategi pemasaran, Mas. Namanya strategi pemasaran online. Persis seperti yang dilakukan penerbit ANDI. Strategi ini memanfaatkan web maupun toko online. Bisa juga untuk meningkatkan penjualan, perlu melakukan promosi harga atau promo lewat media sosial dan juga komunitas. Tidak beda jauh dengan yang dilakukan oleh penerbit ANDI.”

Aku dan Opin kembali tenggelam dalam lautan hangat bernama kebersamaan. Bekerja sama menyelesaikan pekerjaan yang hasilnya akan dinikmati bersama-sama. Kebersamaan itu semakin hangat dengan berbagai tanya yang ada.

“Kalau offline bagaimana itu, Bapak?”

Sambil meletakkan bungkusan paket buku yang siap ditempel alamat pengirim dan penerima, aku melanjutkan penjelasan,

“Nah strategi pemasaran offline itu ya seperti yang dilakukan Bapak penjual buku tadi, Mas. Tapi beda dengan penerbit ANDI. Strategi penjualan offline yang dilakukan penerbit ANDI selain penjualan langsung juga melakukan interaksi intensif dengan melakukan kunjungan ke lembaga pendidikan menyesuaikan jenis buku yang diterbitkan. Nah selain itu untuk menggenjot penjualan, penerbit ANDI juga mengadakan event-event terkait dunia literasi, Mas.”

Opin menganggukkan kepala. Dan, tepat saat aku dan Opin menyelesaikan pekerjaan, Mamak Opin datang membawakan camilan. Kami bertiga pun menikmati hidangan dengan bahan dasar tepung dibentuk bundar kemudian digoreng itu. Tidak lupa kami menambahkan beberapa tetes madu ke permulaan jajan bernama roti maryam yang baru selesai dibuat oleh Mamak Opin.

Kehangatan kehidupan masa sekarang yang perlahan melunturkan ingatan tentang masa kecilku. Terlebih masa kecil saat aku suka bermain jual-jualan bersama teman-teman. Setidaknya itu menjadi pengalaman bagi kehidupanku sekarang. Sungguh bagian hidup yang mengajarkan bahwa untuk bisa bertahan harus bisa menemukan inovasi dari strategi terbaik dalam kondisi sesulit apa pun, termasuk bangkit dari keterpurukan tersebab pandemi.

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.