Pahlawan Literasi: Melejit dari Bangkit

“Mas … Bapak bingung ini.”

Opin yang duduk di hadapanku tidak menyahut. Dia memilih menatapku lekat-lekat. Sepasang matanya terjun bebas di kedalaman mataku. Seketika tenggelam dan berdiam menjadi embun. Sejuk dan menenangkan.

“Bapak kenapa?”

Aku mengalihkan pandangan. Kali ini aku menatap sepasang kaki yang mulai dipenuhi dengan kerutan. Aku mengenalinya sebagai sepasang kaki yang tak pernah lelah menapak jalan panjang kehidupan. Cukup lama bisu menjadi teman setiaku dan Opin. Hingga akhirnya kurasakan beban berat di punggungku. Dengan sekali gerakan pelan, aku berusaha membetulkan posisi tulang belulang penyusunnya. Setelah benar-benar tegak, kali ini giliranku menjelajah sepasang mata elang Opin.

Sambil membetulkan letak kacamata aku berkata, “Sampai kapan Bapak menulis buku?”

Tubuh Opin sedikit tersentak. Aku tahu dia tidak percaya dengan pertanyaanku. Dugaanku sama sekali tidak meleset.

“Kenapa Bapak bertanya seperti itu?”

Aku menggelengkan kepala. Dari lubuk hati paling dalam, aku menyadari pertanyaanku adalah pernyataan terbodoh yang pernah kulontarkan. Namun, aku bukanlah pemilik segala kuasa atas hatiku. Aku tidak mampu menahan gejolak yang ada. Gejolak yang lahir dari keinginan yang bertolak belakang dengan kenyataan.

“Bapak sendiri juga tidak tahu, Mas. Bapak sepertinya sedang berada di titik jenuh menulis buku,” jawabku meletakkan kedua tangan di atas lutut.

Aku tidak mendengar suara Opin. Hening menguasai malam yang kian merajam sepi. Desau angin menjadi pengisi ruang kosong di sela-sela senyap. Kesenyapan yang hanya berlaku sementara waktu. Gelombang longitudinal perlahan membelah malam di tepi kolam samping rumah. Rapatan dan renggangan mengantarkan suara Opin ke syaraf indra pendengaranku.

“Bapak bosan menulis?”

Pandanganku menerawang ke langit pekat. Bintang malam di kejauhan terlihat berkelip tersebab efek atmosfer bumi. Kerlip yang sepertinya sengaja menggodaku untuk tersenyum. Benar saja, tanpa kusadari aku membalas kerlipan bintang itu dengan senyuman. Mendadak kerlip yang jatuh di retina mataku merayap hingga labirin ingatan di kepalaku. Secercah asa pun berpendar dari salah satu sudut tersembunyinya. Pendar yang mengantarkanku pada jadwal Rabu malam.

“Oya, Bapak ada jadwal kelas menulis malam ini, Mas. Mas mau ikut belajar juga?”

Opin menggelengkan kepala kemudian pamit meninggalkanku. Di sudut sepi aku memutuskan menekuni gawaiku. Malam ini aku ketinggalan materi narasumber. Pun sesi tanya jawab. Banyak aktivitas lain harus kuselesaikan sejak sore tadi. Namun, belum sempat aku membuka grup WA, sebuah suara samar hinggap di telinga.

“Iya, Mak. Tadi bapak bilang seperti itu.”

“Lo, kok tumben, ya.”

“Opin juga tidak tahu,  Mamak.”

“Kita ke bapak saja ayo!”

Suara samar itu pun berubah menjadi dua sosok pemilik hatiku. Ada debar tak menentu saat mereka berdua duduk mengapitku.

“Kalian berdua kenapa?” tanyaku saat Opin dan mamaknya benar-benar duduk dalam posisinya.

Mamak Opin menjawab pertanyaanku, “Seharusnya kami yang bertanya sama Bapak. Bapak kenapa?”

Aku terdiam untuk sesaat. Aku sama sekali tidak menduga pada akhirnya harus mengungkap kenyataan yang ada.

“Begini, Mak, Opin. Bapak tadi membaca berita tentang dampak pandemi terhadap industri penerbitan buku. Banyak penerbit yang harus berhenti beroperasi sementara waktu hingga entah kapan. Ada juga yang tetap bergerak tetapi terbatas,” kataku membuka suara.

Mendengar penjelasanku Mamak Opin segera menyahutnya, “Lalu apa hubungannya sama hobi menulis Bapak?”

Sepasang mataku jatuh di wajah keduanya secara bergantian. Kerutan di kening mereka adalah asa atas jawaban. Dan, aku pun memilih memberikan penjelasan.

“Secara langsung memang tidak ada, Mak. Cuma apa, ya. Macetnya industri penerbitan membuat Bapak seolah kehilangan tujuan menulis buku,” jawabku kemudian.

Hening menyergap tiga hati yang sedang bercengkrama dengan pikiran masing-masing. Tidak terkecuali aku yang membiarkan isi kepala tercerai-berai ke segala penjuru. Termasuk sudut-sudut sepi tempat tulisanku berdiam diri. Hingga sepi pun kembali dipenuhi gelombang suara.

“Memangnya menulis hanya untuk menerbitkan buku saja, Bapak?” tanya Opin berusaha menyelam di kedalaman mataku.

Aku menggelengkan kepala mendengar pertanyaannya. Sejatinya aku tahu kalau dia belum paham betul dengan industri penerbitan buku. Namun, aku tidak pernah meremehkan kemampuan analisisnya terhadap suatu hal. Termasuk topik obrolan malam ini.

“Bukan begitu, Mas. Maksud Bapak itu berhenti menulis naskah buku. Alasannya, ya, karena tadi itu. Kalau menulis, sih, insyaallah Bapak akan tetap terus menulis, Mas. He he he,” jawabku berusaha nemadamkan kobar penasaran di dadanya.

Opin dan mamaknya terlihat tersenyum membalas senyumanku. Ada hangat mengalir memenuhi rongga dadaku. Terlebih saat Mamak Opin membuka suara.

“Kan, bisa menabung tulisan untuk naskah buku, Bapak. Ditawarkan kalau situasi dan kondisi sudah membaik.”

Aku mencerna setiap kata yang diucapkannya. Pengetahuannya yang semakin luas tentang dunia literasi membuatku merasa tidak sia-sia mengembangkan literasi di keluarga.

“Iya juga, sih, Mak. Setidaknya dengan menulis dan mengirimkan naskah yang bagus akan membuat roda penerbitan akan tetap bergerak. Terutama naskah yang diminati oleh pembaca sebagai pasar,” kataku berusaha menambahkan.

Mamak Opin pun menyahut jawabanku sebagai sebuah tantangan. Perempuan pemilik rambut sebahu itu memberikan sebuah tantangan padaku. Membuat naskah buku dengan tema populer untuk membantu menggerakkan roda perekonomian.

“Bagaimana, Bapak? Sanggup tidak menulis buku dengan tema pandemi?”

Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban atas tantangan itu. Sebuah tantangan yang tidak mudah. Hal ini karena aku harus bisa memaksa diriku keluar dari zona nyaman, menulis fiksi.

“Sepertinya akan berat bagi Bapak, Mak. Tapi Bapak akan coba, ya,” jawabku kemudian

“Semangat, Bapak!”

Teriakan Opin menyulut lagi kobar gairah yang hampir padam. Sungguh sebuah kalimat sederhana yang memiliki arti istimewa. Dan, kobar itu pun akhirnya melahap kemalasanku untuk menimba ilmu.

“Kebetulan Bapak lagi baca materi dari Bapak Edi S. Mulyanta,” kataku sambil menyodorkan gawai ke arah Opin dan mamaknya.

Dengan tekun Opin membuka dan membaca profil narasumber. Sedangkan Mamak Opin memutuskan meninggalkan aku dan Opin berdua.

“Bagaimana menurut Mas narasumber malam ini?” tanyaku meraih gawai yang disodorkan Opin.

Opin terdiam sementara waktu. Dalam remang cahaya lampu, aku melihat adanya kerutan di dahi Opin. Dahi agak lebar itu menjadi penanda bahwa Opin sedang berusaha menyusun kata-kata.

Hingga akhirnya …

“Keren, Bapak,” jawabnya sambil tersenyum.

Aku langsung menyahutnya, “Tahu dari mana, Mas?”

“He he he. Opin baca tadi Pak Edi adalah Manajer Operasional PBU ANDI. Betul, kan, Bapak?”

Aku menganggukkan kepala kemudian berusaha menggali kedalaman informasi yang diserap olehnya. Usahaku sepertinya membuahkan hasil. Beberapa pertanyaan terkait profil narasumber berhasil dia jawab dengan baik. Mulai dari data pribadi pria kelahiran Yogyakarta tanggal 24 Mei 1969 hingga hobi menulis, membaca, olahraga, dan musik yang digeluti beliau. Selanjutnya aku pun memberikan penguatan tentang karya tulis buku yang telah beliau tulis. Karya tulis tersebut di antaranya, yaitu Lebih Mahir dengan Microsoft Word 2019, Lebih Kreatif dengan Adobe Photoshop CS4 2008, dan buku komputer/internet lainnya. Untuk meyakinkan Opin, aku pun memintanya untuk membuka tautan karya tulis buku Pak Edi di https://scholar.google.co.id/citations?user=tYwUNqsAAAAJ&hI=en&oi=ao.

Malam terasa lebih hangat ketika Mamak Opin kembali membawa nampan. Di atasnya terdapat tiga gelas berisi minuman. Aku tersenyum saat menerima gelas yang disodorkan oleh Mamak Opin. Asap tipis terlihat mengepul dari permukaannya. Aku mengangkat sedikit jari-jariku ketika menyentuh bagian luar gelas kaca bermotif bunga warna-warni itu. Setelah kulit bagian dalam jariku tidak lagi memberikan efek berlebihan terhadap permukaan gelas, aku mulai mengamati gelas berisi cairan berwarna merah itu. Aku mendekatkan ujung hidung ke bibir gelas. Aroma kuat tiba-tiba menusuk hidungku. Otakku menerjemahkan rangsang bau itu sebagai aroma empon-empon. Dengan tersenyum aku pun menghirup aroma itu dalam-dalam. Seketika ada yang menggelegak dalam dadaku. Terlebih ketika sepasang bibirku mencumbui tepi gelas kaca itu. Tetes demi tetes cairan merah melahirkan kehangatan bagi tubuh. Kehangatan yang menguatkan gelora. Aku mengenalinya sebagai semangat melanjutkan apa yang telah kumulai.

Saat Opin dan mamaknya menikmati minuman hangat itu, aku melanjutkan cerita tentang materi yang telah kudapatkan dari Pak Edi. Dari pria yang telah berpengalaman selama 20 tahun mengelola penerbitan ini, aku menerima banyak sekali informasi berharga.

“Menurut Pak Edi, tugas penerbit berawal dari mengamati tren konten buku yang disenangi masyarakat. Tugas pihak penerbit selanjutnya adalah memberikan ringkasan tema yang menarik di pasar. Selain itu, penerbit juga melakukan pemetaan pesaing dan target penulis yang menjadi sasaran. Langkah selanjutnya adalah mencari prospek penulis yang mempunyai kemampuan seperti tren yang sedang ada,” jelasku pada mereka berdua sambil meraih kembali gelas kaca yang isinya tinggal setengah itu.   

“Wah! Ternyata berat juga tugas penerbit, ya, Pak?” tanya Mamak Opin sambil meletakkan gelasnya di atas nampan.

Aku menyahut, “Ya begitulah, Mak. Oya, Opin ada yang mau ditanyakan, Mas?”

“Ngg … Tanya apa, ya? Oya, Bapak … Bapak … Terus tugas penulis apa?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaan sederhananya itu. Sederhana memang, tetapi bukan berarti kita sebagai orang tua akan mudah untuk menjelaskannya. Dibutuhkan penjelasan yang sederhana juga, tetapi mengena. Di situlah seninya.

“Mas … Tugas calon penulis tentu saja menulis naskah. Tapi bukan itu saja, lo. Menurut Pak Edi, tugas penulis antara lain yaitu menjalin komunikasi dengan calon penerbit. Tujuannya apa? Untuk menyamakan cara pandang yang berbeda. Misalnya, penulis biasanya menulis tentang tema yang memang dikuasainya. Lalu bagaimana dengan penerbit? Masih menurut Pak Edi, penerbit lebih mengutamakan ke pertimbangan pemasarannya. Begitu, Mas,” kataku sambil memandang ke arahnya.

Opin terlihat mengacungkan jempol tangan kanannya ke arahku. Aku membalasnya dengan senyuman tipis.

“Tugasnya apa lagi, Bapak?” tanya Opin kemudian.

Aku kembali menekuni materi dari narasumber. Dengan lantang aku pun mulai membaca dengan meringkas materi yang diberikan oleh Pak Edi.

“Menurut Pak Edi banyak tugas calon penulis, Mas. Bukan tugas, sih, sebenarnya. Tepatnya tentang langkah apa yang harus dilakukan oleh seorang calon penulis. Apa sajakah itu? Pertama adalah membuat proposal untuk pengenalan awal penawaran tulisan. Proposal meliputi judul utama buku, subjudul, outline lengkap per bab, target pasar, dan biodata penulis. Selain itu, beliau juga menyarankan untuk menyertakan contoh satu bab dalam buku. Kira-kira untuk apa, Mas?”

Opin menggelengkan kepala. Aku pun tersenyum padanya sambil melanjutkan penjelasan.

“Contoh bab itu sebagai bahan untuk telaah penyunting naskah. Dari bab tersebut penyunting bisa mengetahui pemilihan kata atau diksi dan gaya penulisan. Begitu kurang lebihnya, Mas,” jawabku sambil menyandarkan tubuh ke dinding rumah.

Sejenak aku membiarkan Opin mencerna kalimat demi kalimat yang kuucapkan. Juga sekaligus menunggu respons atas penjelasanku.

“Proposal itu akan diapakan oleh penerbit, Bapak?”

“Tentu akan dibaca, Mas,” jawabku sambil tersenyum tipis sebelum akhirnya melanjutkan kata-kataku, “selanjutnya penyunting akan menelaah proposal itu. Menelaah artinya mengkaji atau memeriksa. Mas tahu apa saja yang diperiksa?”

Sekali lagi Opin menggelengkan kepalanya. Aku pun memutuskan melanjutkan kembali penjelasanku.

“Penyunting memeriksa isi maupun cek plagiasi. Cek plagiasi ini tujuannya untuk mengetahui seberapa besar plagiasi yang dilakukan calon penulis. Penerbit memiliki ambang batas diperbolehkan adanya plagiasi. Jika melebihi ambang batas, maka naskah akan dikembalikan untuk diperbaiki. Mas tahu tidak cara menghindari plagiasi?”

Opin menggelengkan kepala sambil berkata, “Tidak tahu, Bapak.”

“Caranya yaitu dengan mencamtumkan sumber saat menulis naskah nonfiksi. Kalau sudah tertulis sumber tidak akan kena pasal plagiasi. Begitu menurut Pak Edi, Mas,” jawabku menutup obrolan.

Dan, obrolan panjang malam itu terus berlanjut hingga larut. Banyak hal telah kubagikan. Sebagian sengaja kusimpan agar Opin ada kesempatan untuk menggali lebih dalam. Sedangkan bagiku pribadi akan menjadi simpanan untuk bisa menulis naskah yang lebih bagus lagi. Sekaligus juga tabungan api semangat bagi diri yang akhirnya memutuskan untuk kembali bangkit memperjuangkan naskah-naskah buku hingga melejit agar layak dinikmati pembacanya.

Malam hampir setengahnya ketika samping rumah itu hanya tersisa gemericik air dari kolam. Dengan irama teratur gemercik air itu menjadi melodi pengantar tidur.

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.