Pahlawan Literasi: Prestasi dari Ekspektasi

“Sudah selesai, Mas?”

Opin tidak segera menjawab pertanyaanku. Dia masih menekuni papan ketik komputer di ruang kerjaku. Terdorong rasa penasaran, aku mendekatinya.

Sejenak anak laki-laki itu menoleh ke arahku. Sambil menggelengkan kepala, dia kembali memainkan ujung jemari mungilnya. Jemarinya sejenak terlihat menari lincah. Di lain waktu seperti kaku di atas papan ketik.

Aku hanya tersenyum melihat anak semata wayangku yang terlihat mengerutkan dahinya.

“Istirahat saja dulu, Mas,” kataku sambil membiarkan mata menjelajah setiap kata yang disusunnya.

Sebaris demi sebaris aku menuntaskan membaca. Senyum kecil menghiasi wajahku. Meskipun kesalahan ketik bertebaran di bagian tengah tulisan, tetapi dia sudah bisa menulis dengan runtut. Kali ini dia menceritakan tentang pengalamannya selama belajar di rumah.

“Kenapa berhenti, Mas? Capek?” tanyaku sambil duduk di sampingnya.

“Tidak bisa selesai-selesai juga ini, Bapak. Bantu Opin, dong.”

Aku mengusap-usap rambutnya. Sejenak dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Demi melihatnya pasrah aku pun berinisiatif membantunya.

Semburat senja mencuri pandang dari arah jendela ruang kerjaku. Sebagian sinarnya membias di wajah kusut Opin. Aku memahaminya sebagai kebingungan. Selanjutnya aku membiarkan mataku menjelajah apa yang telah ditulis Opin. Aku pun menemukan penyebabnya.

“Mas sudah selesai menulisnya belum?”

Opin pun menatap ke arahku dan menjawab, “Belum, Bapak.”

Aku lantas menyahutnya, “Lalu kenapa Mas malah sibuk mengedit?”

Opin menegakkan tubuhnya. Dia sepertinya tidak memperhatikan pertanyaanku. Tangan kanannya kembali meraih tetikus dan mulai menggerakkannya. Sampai di titik tertentu, dia menghentikannya. Di sana dia mengganti kata dari ‘bleajar’ menjadi ‘belajar’. Sejenak dia kembali menggerakkan tetikus. Kali ini di sebuah huruf dia kembali menghentikan gerakannya. Di bagian tersebut Opin mengganti kata ‘sebdri’ menjadi ‘sendiri’. Kali ini aku sengaja tidak menegurnya. Bahkan sampai beberapa salah ketik dia perbaiki. Aku masih membiarkannya. Hingga akhirnya dia pun berhenti sambil mengentakkan tetikus ke alasnya. Sejenak kemudian tubuhnya kembali rebah di sandaran kursi.

Untuk beberapa lama ruangan hanya dipenuhi bias sinar matahari senja. Aku memutuskan mengambil gawaiku. Dengan perlahan aku menyodorkan gawai itu ke arah Opin.

“Apa ini, Bapak?” Dia bertanya sambil meraih gawai yang kusodorkan.

Aku pun menjawab sambil berlalu meninggalkannya, “Baca saja dulu, Mas.”

Dan akhirnya aku pun benar-benar menghilang dari ruang kerjaku. Membiarkan Opin membaca materi kelas menulis yang kuikuti semalam. Perlahan aku menutup pintu. Sambil tersenyum melangkah menuju halaman depan.

Di sana seorang perempuan sedang menyiram tanaman. Aku menatap ke arahnya dalam senyuman. Sementara dia masih belum sadar juga aku sudah berdiri tidak jauh darinya. Selang biru di tangannya terlihat memuntahkan air dengan deras. Telunjuknya terlihat menutup sebagian ujung selang. Pancaran air pun menjadi menyebar. Tidak lama kemudian dia menghentikan aktivitasnya setelah dia menyadari aku sedang menatapnya.

“Bapak dari tadi di sini?”

Aku tertawa kecil.

“Bapak kenapa diam saja? Tahu begitu Mamak minta tolong bantu siram tadi. He he,” jawabnya sambil duduk di sampingku.

Aku dan Mamak Opin pun larut dalam tawa. Senja kian merona saat dia menanyakan keberadaan Opin. Aku pun menjelaskan padanya bahwa Opin sedang belajar materi kelas menulis yang aku ikuti.

“Kenapa Bapak tinggal dia sendirian?”

Aku menarik napas kemudian berkata, “Sekali-kali tidak apa-apa, Mak. Biar dia mandiri belajar,” jawabku sambil membetulkan letak posisi dudukku.

Mamak Opin pun bertanya tentang materi yang saya berikan kepada Opin. Aku pun menceritakan tentang materi dari narasumber yang bernama Jamila K. Baderan, M.Pd., seorang guru SD Negeri No. 30 Gorontalo. Mamak Opin terlihat menganggukkan kepala. Aku kemudian melanjutkan penjelasan tentang profil narasumber pada pertemuan ke-17 tersebut. Tentang karya-karya beliau yang luar biasa. Di antaranya yaitu buku berjudul Kwartet Media Bermain dan Belajar yang terbit tahun 2018 dan Ekspektasi VS Realita terbitan tahun 2019.
“Wah hebat sekali, ya, Pak. Sepertinya bukunya bagus,” kata Mamak Opin.

Aku pun tersenyum tipis, “Terus kenapa, Mak? Mamak mau membacanya?”

Mamak Opin tersenyum mendengar pertanyaanku. Demikian halnya dengan aku. Kami berdua pun akhirnya larut dalam obrolan panjang tentang banyak hal.

“Pak … Sebenarnya apa, sih, yang Bapak inginkan dari Opin?”

Aku melihat mata Mamak Opin menerawang jauh menembus senja yang beranjak layu. Dan, di bawah senja aku pun bertanya.

“Kenapa Mamak bertanya seperti itu?”

Mamak Opin mengalihkan pandangan dari semburat senja ke mataku.

“Mamak lihat Bapak sering memberikan materi menulis kepada Opin. Bapak tidak kasihan sama Opin?”

Pada temaram senja aku menitipkan segala kegelisahan atas jawaban. Hingga akhirnya senja mengabarkan padaku tentang jawaban yang tepat atas pertanyaan Mamak Opin.

“Mak … Selama ini Bapak tidak pernah memaksa Opin. Seringkali justru dia sendiri yang memintanya. Memang tidak semua materi dia pahami dengan baik. Bapak berusaha menjelaskan ulang agar dia bisa mengerti. Jadi, selama dia senang, ya, Bapak bisa bilang apa.”

Mamak Opin terlihat tersenyum kemudian berkata, “Iya juga, sih, Pak. Kita hanya bisa mendukung saja. He he.”

Obrolan menjelang senja yang kian tipis itu masih berlanjut. Aku pun menjelaskan tentang materi yang disampaikan narasumber.

“Jadi, Mak. Menurut Ibu Jamila, dalam menulis itu kita disarankan menulis saja apa yang ingin kita tulis. Maksudnya jangan sampai terpaku pada aturan dan ketentuan harus menulis apa, kita jadi terbatas dalam menulis. Padahal sejatinya, menulis membutuhkan keikhlasan. Jika tidak ikhlas melakukan bisa-bisa tulisan yang kita hasilkan tidak berkah nantinya. Sayang, kan, kalau sudah capek-capek menulis tetapi tidak berkah,” jelasku.

Mamak Opin terlihat khusyuk mendengarkan penjelasan yang aku sampaikan. Demi melihat keseriusannya, aku pun semakin tergerak menjelaskan lebih lanjut.
“Nah yang kedua menurut Ibu Jamila, menulislah apa adanya tanpa beban dan tekanan. Bagaimanapun juga menulis adalah tamasya. Mamak tahu, kan, apa tujuan tamasya? Bersenang-senang. Jadi, saat menulis, ya, kita seharusnya sedang bersenang-senang,” jawabku melanjutkan penjelasan.

Lebih lanjut aku pun menjabarkan tentang prinsip menulis tanpa beban dan tekanan.

“Dengan menerapkan prinsip ini, kita akan lebih leluasa mengeksplorasi dan mengembangkan ide tulisan. Prinsip ini juga akan membantu kita menyelesaikan tulisan dengan cepat,” kataku sambil menggandeng tangannya masuk ke rumah.

Aku dan Mamak Opin pun beriringan masuk ke rumah. Jejak langkah terdengar jelas menapak lantai ruang tamu. Selanjutnya dua pasang langkah itu tiba di depan pintu ruang kerjaku.

Dari arah pintu aku melihat Opin sedang menekuni gawaiku. Demi melihat kedatanganku dan mamaknya, dia meletakkan gawai di dekat komputer all in one berwarna metalik itu.

“Bagaimana, Mas. Sudah menemukan penyebab kenapa tulisan Mas tidak selesai-selesai?” tanyaku sambil melangkah menuju ke arahnya.

Opin tersenyum kemudian berkata, “He he. Sudah, Bapak.”
“Memang kenapa, Mas.”

Kali ini Mamak Opin yang bertanya.

Dengan semangat Opin menjelaskan penyebabnya, “Soalnya itu Opin suka mengedit tulisan yang belum selesai. Sambil nulis sambil mengedit juga. Itu makanya lama Opin menulisnya.”

Mamak Opin yang sudah berdiri di sebelah kanan Opin kembali bertanya, “Terus seharusnya bagaimana, dong, Mas?”

Opin kemudian menjawab, “Dari yang Opin baca, kata Ibu Jamila, jika sedang menulis maka harus dituntaskan. Jangan mengedit jika tulisan belum selesai. Begitu, Mamak. He he.”

Tawa pun akhirnya pecah di ruang kerjaku. Senja menjadi saksi tiga hati yang saling melengkapi.

“Selain itu apa lagi pesan penting dari materi narasumber tadi? Ada yang tidak Mas pahami?” tanyaku sambil meraih gawai yang ada di meja.

Sejenak Opin terlihat berpikir keras. Sesaat kemudian dia pun membuka suara. Dia menjelaskan tentang saran saat menulis adalah tidak pernah berpikir baik buruknya tulisan karena yang bertugas menilai adalah pembaca. Opin kemudian membuka mulutnya dan bertanya.

“Maksud dari menjadikan menulis sebagai kebutuhan itu apa, Bapak?”

Aku pun menjelaskan padanya bahwa jika kita menjadikan menulis sebagai kebutuhan maka kita akan merasa ada yang kurang jika tidak menulis. Dengan berpegang pada prinsip itu, maka kita akan berusaha untuk terus menulis.
Dan pada akhirnya waktu juga yang membatasi perbincangan. Senja perlahan merayap menuju temaram. Hingga akhirnya benar-benar hilang bersama datangnya suara azan.

“Ayo kita bersiap-siap,” kataku menutup kehangatan senja.

Penjelasan Opin tentang prinsip menulis merupakan prestasi atas ekpektasiku selama ini. Ekspektasi yang tidak berlebihan. Setidaknya menurutku. Rasanya jalan bagiku akan lebih mudah untuk kelak menjadikannya seorang pahlawan literasi. Namun, tetap saja semua kembali pada dirinya sendiri mau jadi apa kelak.

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.