Pahlawan Literasi: Takdir dari yang Terserak

“Bapak belum mengantuk?”

Aku menggelengkan kepala. Sambil mengusap kepala anak laki-laki semata wayangku, aku menyarankan padanya untuk tidur jika sudah mengantuk. Namun, baginya saranku adalah angin lalu. Dia pun menggelengkan kepala dan justru memilih duduk lebih dekat di sampingku. Aku memahaminya sebagai keingintahuan.

Setiap hari bersamanya, aku semakin paham tentang kebiasaannya. Seperti sebelum-sebelumnya, aku yakin anak berkulit bersih itu akan menanyakan sesuatu. Dan, benar saja. Belum selesai aku menuntaskan perkiraanku, gelombang suara memenuhi halaman belakang.

“Bapak … Opin tadi baca-baca blog Bapak,” katanya membuka jalan bagi pertanyaan lanjutan.

Aku tersenyum lalu bertanya, “Postingan yang mana, Mas?”

Opin pun meminta izin meminjam gawaiku. Dengan cekatan ujung harinya menari di layar pelindung gawaiku. Sampai di satu titik dia menghentikan tarian itu.

Baca juga: Inspirasi dari Berbagi

Lampu halaman belakang masih merona di sela-sela batang pohon buah naga. Terlihat semakin merona saat biasnya membalut buah naga yang merah warnanya. Sebagian cahaya lagi terlihat menyelinap di antara bunga putih berbentuk helaian panjang itu. Bias cahaya seolah membuat bakal buahnya meronta-ronta.

Seperti halnya isi kepala Opin. Aku bisa membacanya saat dia mengerutkan keningnya kemudian berkata, “Ini, Bapak.”

Tangan kurusku meraih gawai dari tangan kanannya. Aku memberikan kesempatan kepada sepasang mataku untuk menjelajah samudra kata. Perlahan aku pun membaca judul postingan yang ditunjukkan Opin, Naskah yang Mencari Jodohnya (1).

Sejenak ada hangat mengalir dan pecah dalam dadaku. Namun, aku berusaha menahannya agar kehangatan itu tidak menjelma air mata.

“Memangnya kenapa dengan postingan itu, Mas?” tanyaku sambil berusaha menyelami kedalaman rasa penasaran di mata elangnya.

Opin pun menyahut, “Sampai kapan Bapak akan membiarkannya?”

Aku menyembunyikan sesak lewat senyuman, “Maksudnya ditawarkan ke penerbit untuk diterbitkan?”

Opin menganggukkan kepala. Sesaat setelahnya dia pun kembali menciptakan gelombang suara untuk kesekian kalinya.

“Iya, Bapak.”

Aku terdiam untuk sementara waktu. Berusaha menata hati yang berserak terhadap naskah-naskah tertolak. Aku bukannya menyerah untuk menawarkan. Hanya saja sepertinya lebih memilih membiarkan naskah-naskah itu menemui ajalnya sendiri perlahan-lahan. Dengan begitu akan berharap bisa mengikhlaskan dengan menulis naskah-naskah baru sesuai permintaan penerbit, terutama penerbit mayor.

“Tidak ada alasan khusus, Mas. Selama Bapak menulis dengan ikhlas, diterima atau tidak oleh penerbit adalah hal biasa. Justru bisa menjadi pemacu bagi Bapak untuk belajar lebih maju. Juga sekaligus sebagai pemicu bagi Bapak melahirkan ide-ide baru,” jawabku panjang lebar sambil mengaktifkan kembali gawaiku.

“Oya, Bapak. Opin tadi juga sempat cari-cari informasi penerbit mayor,” kata Opin sesaat setelah menyandarkan tubuhnya di tembok pagar belakang.

Tembok belakang dari batako yang belum diplester itu terasa sedikit bergoyang. Aku pun berusaha menarik tubuhku dari permukaannya.

“Bagaimana hasil pencariannya, Mas?” tanyaku mengulik informasi yang diperolehnya.

Dia menggelengkan kepala perlahan. Gelengan kepala itu perlahan menumbuhkan penasaranku. Mendadak aku ingat informasi dari teman kuliahku tentang salah satu penerbit mayor. Di laman pencarian aku mulai mengetikkan nama penerbit. Beberapa hasil pencarian terkait pun aku temukan. Pada salah satu hasil pencarian aku mengeklik tautan. Sederet informasi tentang buku-buku yang telah diterbitkan di etalase depan terasa memanjakan mata.

“Bapak kok senyum-senyum terus?”

Pertanyaan Opin membuat penjelajahanku seketika buyar. Aku memfokuskan penglihatan ke arah anak laki-laki yang sedang memakai kaus cokelat itu.

“Ini, Mas. Bapak sedang menjelajah laman sebuah penerbit mayor,” jawabku menunjukkan gawai yang berpendar ke arahnya.

Opin menganggukkan kepala. Sesaat kemudian dia pun ikut tersenyum.

“Bapak sedang menjelajah web milik penerbit Andi di www.andipublisher.com, Mas. Isinya mantap sekali,” kataku bersemangat.

Opin tidak tinggal diam. Dia pun melarutkan diri dalam kubangan aksara bersamaku. Terlebih saat aku mengeklik salah satu fitur yang ada, yaitu Jadi Penulis?. Sederet informasi muncul di layar gawaiku. Tentang prosedur penulisan naskah terpapar di sana. Salah satunya adalah penjelasan tentang hubungan antara penulis dan penerbit, bentuk royalti, bentuk kerjasama penerbitan, prosedur penerbitan buku, keputusan menerima/menolak naskah, keputusan naskah, pengiriman soft copy naskah, format naskah serta format buku dan area cetak.
Penjelasan panjang itu pun memancing Opin untuk membuka suara. Bukan saja tentang pertanyaan, tetapi juga usulan.

“Kenapa Bapak tidak coba mengirimkan naskah ke penerbit Andi?”

Aku hanya menggelengkan kepala. Bagiku naskah-naskah yang kumiliki masih belum mumpuni untuk berjuang menemukan jodohnya. Bukan perkara minder sebenarnya, tetapi lebih pada kekhawatiran naskah-naskah yang ada tidak sesuai dengan minat penerbit.

“Sepertinya belum dulu, Mas. Bapak masih butuh usaha lebih keras lagi agar naskah-naskah ini layak terbit,” jawabku sedikit menahan sesak.

Dari sudut mataku sekilas aku melihat Opin menerawang ke arah buah naga yang terlihat ranum. Aku tersenyum sambil ikut menikmati buah berwarna merah itu berayun-ayun diterpa angin malam.

Malam pun kian beranjak. Perlahan tetapi pasti untuk menuju setengahnya. Namun, malam masih butuh beberapa jam untuk bisa menujunya. Aku pun memutuskan mengabarkan tentang kelas menulis malam ini kepada Opin.

“Oya, Bapak malam ini kebetulan ada kelas menulis. Mas mau ikut gabung belajar juga?” tanyaku menatap sepasang mata elangnya.

Opin menggelengkan kepala sambil berkata, “Opin mau menemani Mamak membaca buku dulu, Bapak. Nanti saja Bapak cerita ke Opin materinya. He he he. Memang siapa narasumbernya malam ini, Bapak?”

Aku pun menyebutkan sebuah nama, Joko Irawan Mumpuni, direktur penerbit Andi. Opin terlihat mengukir senyuman di bibirnya.

“Wah! Nama yang bagus, ya, Bapak?”

Aku menganggukkan kepala.

“Bapak mengangguk memang tahu artinya? Ha ha ha,” sahut Opin sambil tertawa.

Aku kembali menganggukkan kepala kemudian berkata, “Tahu, dong, Mas. Dalam Bahasa Jawa, Joko itu bisa diartikan sebagai anak laki-laki. Seperti kamu, Mas. Terus kalau Irawan itu setahu Bapak adalah nama salah satu tokoh pewayangan. Dia adalah salah seorang anak Arjuna dari perempuan bernama Ulupi.”

“Wah seru, Bapak! Lanjut lagi, dong, ceritanya,” kata Opin sambil menarik-narik tanganku.

Aku pun melanjutkan cerita, “Menurut wikipedia, dalam versi pewayangan Jawa, Irawan ikut dalam perang Baratayudha. Di padang Kurusetra, dia tewas digigit raksasa bernama Kalasrenggi. Namun, dia juga berhasil membunuh sekutu Kurawa itu dengan menancapkan keris di jantungnya. Begitu, Mas.”

Opin tertawa kecil mendengar ceritaku. Gurat penasaran terlihat jelas di keningnya. Lebih lanjut dia pun bertanya tentang arti nama ‘Mumpuni’. Untuk menemukan jawabannya aku meminta Opin membuka aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia yang ada di gawaiku. Dia pun kegirangan saat menemukan arti kata mumpuni sebagai mampu melaksanakan tugas dengan baik atau menguasai keahlian. Setelah tahu arti nama narasumber malam ini, Opin pun memintaku untuk menceritakan profilnya.

“Sudah dulu, Mas. Nanti lagi, ya. Bapak mau belajar dulu. Nanti kalau terus-terusan ngobrol bisa-bisa tidak jadi menemani Mamak baca buku. He he he,” kataku kemudian berusaha meredam keingintahuannya lebih dalam.

“Oh iya ya,” jawab Opin sambil melangkah meninggalkanku di halaman belakang.

Sementara aku kembali menekuni grup WhatsApp untuk menyimak paparan narasumber. Malam ini Pak Joko Irawan Mumpuni memaparkan banyak hal terkait penerbitan buku. Hingga hampir tengah malam, beliau melayani pertanyaan dari peserta kelas menulis. Banyak pengalaman baru kudapatkan. Pun ilmu yang berasal dari jawaban-jawaban atas pertanyaan.

Sesaat setelah selesai mengikuti, terdengar suara Mamak Opin memanggilku. Aku pun bergegas menuju sumber suara. Di ruang baca, Opin sedang menyimpan buku yang baru saja dibacanya bersama Mamaknya.

“Bapak sudah selesai?” tanya Opin sambil merapikan beberapa buku yang berjejer di rak buku.

“Sudah, Mas. Mas sudah selesai juga, kan?”

Opin menganggukkan kepala sambil berjalan ke arahku. Sementara di sudut lain, Mamak Opin terlihat sedang menulis sesuatu.

Seperti biasa, sebelum lelap membuai keluargaku dalam mimpi indah, ada pengalaman yang dibagikan.

“Baca buku apa, Mas?” tanyaku sambil membetulkan posisi duduk di bantal yang ada.

Opin meluruskan kakinya sambil berkata, “Buku baru, Bapak. Judulnya apa tadi itu, Mamak?”
Mamak Opin menyahut, “Catch a Star atau Meraih Bintang. Buku anak yang ditulis oleh Arlinah I. Raharjo yang diterbitkan oleh Penerbit Andi.”

Sumber: www.andipublisher.com

“Lo … Mamak beli buku baru? Kenapa tidak memberitahu Bapak?” tanyaku menyambar penjelasan Mamak Opin.

Mamak Opin meletakkan pulpennya, kemudian berkata, “Maaf, Pak. Mamak lupa memberitahu. Buku itu baru datang tadi sore. Memangnya kenapa, Pak?”

Aku langsung menjawab pertanyaan Mamak Opin, “Kan, Bapak bisa sekalian titip beli buku di sana. Soalnya bukunya bagus-bagus.”

“Ha ha ha,” Mamak Opin tertawa kemudian melanjutkan kata-katanya, “Bapak, sih, ketinggalan informasi. Kenapa baru sekarang tahu? Ha ha ha.”

Aku membalas tawa Mamak Opin. Ruang baca itu pun mendadak riuh oleh tawa yang pecah. Terlebih saat Opin juga ikut-ikutan meleburkan tawa.

“Ya sudah. Kalau begitu bulan depan saja pas Mamak membelikan Opin buku. Sekalian mengecek apakah buku tulisan Bapak sudah ada di web penerbit Andi atau belum,” jawab Mamak Opin enteng.

Aku hanya tertawa menanggapi perkataan Mamak Opin. Aku pun menjelaskan kalau yang Mamak Opin dengar dari Opin itu baru sebatas rencana.

“Kan, katanya Bapak punya banyak naskah buku anak. Bisa coba dikirim, kan, Pak. Namanya juga usaha. Anggap saja yang Bapak sampaikan ke Opin tadi sebagai doa, Pak. Setidaknya Bapak kan sudah berusaha. Mamak sama Opin tinggal ikut mendoakan saja,” jawab Mamak Opin menambah keyakinanku.

Dan, suara ‘Aamiin’ pun terdengar menggema memenuhi setiap sisi ruangan. Setelahnya tibalah giliranku untuk berbagi.

Aku pun mulai menceritakan pada mereka tentang hasil belajar di kelas menulis. Tentang produk buku di pasaran meliputi buku teks dan nonteks. Buku teks terkait pelajaran dari TK sampai perguruan tinggi. Sedangkan buku nonteks meliputi fiksi dan nonfiksi. Buku nonteks fiksi mencakup komik, sastra, novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, buku cerita anak, dan buku khusus. Sementara buku nonteks nonfiksi terdiri dari pengetahuan populer, buku anak, komputer, agama, hobi, dan buku khusus.

“Terus apa lagi, Bapak?”

Kali ini Opin yang mengajukan pertanyaan.

“Masih banyak lagi, Mas. Materi lainnya yaitu tentang penjelasan dari Pak Joko mengenai penulisan buku. Buku bisa ditulis sendiri atau bersama-sama penulis lain. Bahkan buku juga bisa ditulis dari kerjasama dengan beberapa lembaga atau kampus,” jawabku mengobati penasaran Opin.

Mamak Opin sepertinya tidak mau kalah. Dia pun berusaha mengulik ilmu yang baru saja kudapatkan.

“Apa lagi materinya, Pak?”

“He he he. Ada juga materi tentang seluk-beluk dunia penerbitan, Mak. Mamak sama Opin tahu tidak kalau dunia penerbitan itu sebenarnya sangat rumit. Banyak keterlibatan stakeholders di dalamnya. Masing-masing punya peran sendiri dalam memutar roda perekonomian khususnya di industri literasi. Termasuk di dalamnya adalah penghambat tumbuh kembang literasi. Beberapa di antaranya, yaitu minat baca, minat tulis, dan apresiasi hak cipta. Masing-masing faktor memberikan kontribusi terhadap kemajuan literasi,” jawabku panjang lebar.

Malam sejenak dilanda sepi. Riuh sejenak hilang terbawa angan. Hanya detik jam dinding yang terus mencetak waktu. Pelan tetapi pasti mengantarkan aku, Mamak Opin, dan Opin ke perbincangan yang lebih seru.

“Bukan itu saja, Mak, Opin. Pak Joko juga menjabarkan tentang proses naskah menjadi buku. Ternyata super ribet, lo. Banyak tahap-tahap yang harus dilewati untuk akhirnya buku bisa sampai di tangan pembaca,” lanjutku.

Aku melihat Opin dan mamaknya mengangguk-anggukkan kepala. Aku yakin banyak ilmu baru sedang menjejali kepala mereka. Bukan mereka saja sebenarnya. Namun, juga memenuhi isi otakku malam ini. Nutrisi otak yang sangat sayang jika tidak dibagikan.

“Dari materi Pak Joko yang menjelaskan tentang seluk-beluk penerbitan buku, apa Bapak masih berniat menerbitkan buku di penerbit Andi?” tanya Mamak Opin setelah aku menjelaskan tentang tahap-tahap penerbitan buku.

Aku menganggukkan kepala pelan. Anggukan kepala ini sekaligus sebagai tanda setuju atas saran Pak Joko memilih penerbit yang baik. Dan, aku yakin kalau penerbit Andi adalah penerbit yang termasuk kategori baik. Hal ini didasarkan atas fakta bahwa penerbit Andi adalah penerbit yang memiliki visi dan misi jelas, memiliki business core lini produk tertentu, pengalaman penerbit, jaringan pemasaran, memiliki mesin cetak sendiri, keberanian mencetak jumlah eksemplar dan kejujuran dalam pembayaran royalti.

“Asyik! Bapak semangat mau menerbitkan buku lagi!”

Setengah berteriak Opin pun sedikit meloncat. Namun, aku berhasil menenangkannya. Kali ini aku harus bicara berdasarkan realita.

“Tunggu dulu, Mak, Opin. Sepertinya Bapak berubah pikiran,” kataku kemudian.

Opin dan mamaknya terlihat membelakkan matanya. Keduanya saling bersitatap sejenak sebelum akhirnya serempak menatap ke arahku.

“Kenapa begitu, Pak. Tadi bilangnya yakin. Kok sekarang berubah?” tanya Mamak Opin kemudian.

Aku pun menjelaskan kepada mereka tentang penggunaan Google Trends sesuai yang disarankan Pak Joko. Tidak lupa aku menjelaskan kepada mereka alasanku menunda mengirimkan naskah. Aku hanya ingin memastikan melalui Google Trends bahwa naskahku diminati pasar. Hal ini karena peluang potensi pasar memiliki penilaian terbesar dalam penilaian naskah buku. Saking besarnya kadang bisa mengabaikan penilaian lain seperti editorial serta rekam jejak dan tingkat keilmuan penulis.

“Begitu, Mak, Opin. Makanya Bapak tidak mau terburu-buru mengirimkan naskah. Bukan apa-apa, sih. Karena sepertinya naskah Bapak termasuk naskah dengan kualifikasi terakhir menurut pihak penerbit Andi, yaitu tema dan penulis tak populer. He he he,” jawabku.

“Memang seperti apa yang bisa diterbitkan, Bapak?” tanya Opin setelah sebelumnya beradu pandang denganku.

Aku pun menjelaskan tingkat naskah yang akan diterbitkan oleh penerbit sesuai paparan Pak Joko, yaitu tema dan penulis populer sebagai peringkat paling atas. Selanjutnya adalah tema tak populer, tetapi penulis populer. Kemudian di tingkat di bawahnya adalah tema populer, penulis tak populer.

Opin seolah telah menangkap semua yang kubagikan. Terlihat tidak ada lagi gurat penuh tanda tanya di kening mereka. Namun tidak demikian adanya dengan Mamak Opin. Pemilik suara merdu itu berhasil menghentikan niatku meninggalkan mereka berdua.

“Kenapa Bapak tidak coba dulu mengecek naskah Bapak dengan Google Trends?”

Aku benar-benar membatalkan niat berdiri dan melangkah keluar. Aku justru memilih mengikuti saran dari Mamak Opin. Perlahan tetapi pasti, laman Google Trends pun terbuka. Aku mengetikkan beberapa kata kunci terkait naskah yang kumiliki, yaitu dongeng anak dan novel anak.

dongeng-anak

dongeng-anak2

Ada sedikit kelegaan demi mengetahui hasil penelusuran. Setidaknya ada harapan naskah-naskah yang tersimpan memiliki kesempatan menemukan jodohnya di penerbitan.

Aku pun tersenyum sambil berdiri hendak meninggalkan mereka berdua. Masih ada banyak hal yang harus kuselesaikan malam ini. Salah satunya adalah berdamai dengan keinginan diri-sendiri membuka kembali tabungan ide. Dan, memilih memilah naskah-naskah lama untuk menentukan popularitas tema masing-masing. Terakhir, mengikhlaskan naskah-naskah terserak, bisa atau tidak menemui takdirnya di tangan pembacanya.

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.