Pahlawan Literasi: Tulisan dari Catatan

“Bapak, sih, tidak mengingatkan Opin tadi.”

Anak laki-laki yang duduk di bangku kelas V SD itu terlihat menekuk wajahnya. Aku tahu ini bukanlah murni kesalahanku. Namun, aku memilih untuk mengalah dan meminta maaf padanya.

“Soalnya tadi itu terburu-buru, Mas. Siapa coba yang tadi lama siap-siapnya?” tanyaku mengelus kepalanya.

Opin pun tersenyum kecil kemudian meminta maaf padaku. Setelah saling memaafkan, aku mengajak Opin melangkah dari area parkir tempat wisata itu. Dengan riang sambil memegang tas ransel cokelatnya, dia mengajakku menyeberang jalan.

Sumber: jejakpiknik.com

Pagi masih menyelimuti jalan aspal nan lebar itu. Aku menggandeng tangan Opin yang masih terpaku di depan bangunan penanda lokasi. Tulisan ‘Welcome to Sasak Village Sade Rambitan Lombok’ berwarna hitam dengan dasar putih itu terbaca jelas. Perlahan Opin melepaskan gandengan tanganku. Dia memutuskan meminjam gawaiku. Aku pun mengulurkannya dan dia pun langsung mengambil beberapa foto.

Sumber: investor.id

Setelah puas, dia menarik tanganku untuk segera menyeberang. Jalan lengang membuat aku dan Opin tidak memakan waktu lama tiba di dekat gapura. Di bawah gapura beratap jerami bertuliskan ‘Selamat Datang di Dusun Sasak Sade’ itu, Opin memintaku untuk mengabadikannya. Dari berbagai sudut, aku pun mulai mengambil foto.

Setelah beberapa kali mengambil foto, aku mengajak Opin memasuki kawasan dusun adat itu. Di area itu hanya terlihat beberapa pengunjung saja. Mereka terlihat asyik memilih dan memilah suvenir yang dijual di deretan kios di bagian depan. Ada yang terlihat tekun memilih suvenir kecil berbentuk rumah adat suku Sasak. Sebagian lagi memilih tenggelam dalam kerumunan kain tenun berbagai macam warna dan motif.

Sementara aku dan Opin bergantian mengambil foto.
Setelahnya aku mengajak Opin bergerak ke sisi kiri pintu masuk. Di sana ada beberapa alat musik tradisional tergeletak di dalam sebuah ruang terbuka. Tidak jauh dari alat musik itu ada sepasang tameng dan pemukul.

“Bapak … Kita main peresean, yuk!”

Aku pun mengikuti kemauannya. Aku dan Opin masing-masing memegang tameng dan pemukul dari rotan. Tanpa menunggu aba-aba, Opin berusaha memukul badanku. Aku berusaha menghindar dan menjaga diri dengan tameng. Demikian halnya saat aku berusaha membalasnya dengan pemukul dari rotan. Dengan cekatan dia pun menghindar.

Sumber: indonesia.go.id

Akhirnya tawa panjang pun mengakhiri pertarungan itu.
Aku memutuskan membeli air mineral untuk kami berdua. Sambil melepas lelah, aku menyandarkan tubuh di bawah pohon rindang yang tumbuh di salah satu sudutnya.

“Bagaimana, Mas? Sudah dicatat belum?” tanyaku meletakkan botol air mineral di dekat kakiku.

Opin hanya tersenyum sambil menunjukkan gawai ke arahku. Aku meraih gawaiku itu kemudian membaca sederet kalimat yang tertulis di fitur catatan. Beberapa kata membentuk kalimat sederhana yang enak dibaca. Aku tersenyum Dan menyerahkan gawaiku untuk disimpan di tas ransel cokelatnya.

“Ayo kita lanjut, Mas. Keburu siang nanti,” kataku sambil berdiri kemudian membersihkan kotoran yang menempel di celana panjang cokelatku.

Opin pun melakukan hal yang sama. Dia terlihat mengibas-ngibaskan tangannya di atas permukaan celana jin cokelatnya. Dengan beriringan aku dan Opin mulai menapaki tangga dari semen. Setelah melewati deretan pedagang kain tenun khas Sasak, aku dan Opin tiba di sebuah kampung.

Aku melihat Opin sedikit membelalakkan matanya. Dengan mulut terbuka lebar, dia memutar kepalanya ke berbagai arah. Melihatnya aku hanya tersenyum.

“Kenapa, Mas? Biasa sajalah caranya. Tidak usah kaget begitu. Ha ha ha,” kataku sambil menjawil pelan pipinya.

Opin masih ternganga sambil mengarahkan matanya ke segala penjuru kampung. Demikian halnya dengan aku.

Meskipun berbeda dengan Opin yang baru pertama kali ke tempat ini, aku tetap saja takjub. Mataku menembus udara menerima rangsang dari sebentuk bangunan. Bangunan dengan empat tiang penyangga itu berdiri kokoh di kejauhan. Dengan dinding anyaman bambu dan atap ilalang, rumah sederhana itu terlihat megah. Terlebih adanya tangga kayu menuju ruangan di rumah itu menambah bangunan terlihat semakin elegan.

Sumber: idea.grid.id

“Bapak … Apa nama rumah itu?”

Pertanyaan Opin sedikit mengagetkanku yang masih terpaku.

Perlahan aku pun mulai menjelaskan bahwa bangunan itu adalah rumah khas suku Sasak yang mendiami pulau Lombok. Rumah itu bernama Bale Lumbung. Mendengar penjelasanku, Opin pun menganggukkan kepala sambil mengeluarkan gawaiku dari dalam tasnya. Dengan cekatan dia pun memainkan jemarinya di layar gawai. Aku tahu dia sedang menulis apa yang ingin dia tulis.

“Bapak … Apa lagi yang harus Opin tulis ini?” tanya Opin padaku yang memutuskan duduk di bawah rumah lumbung.

Di tempat yang cukup teduh itu, aku pun memutuskan untuk menjelaskan padanya tentang menulis cerita perjalanan. Ilmu yang kudapatkan dari mentor kelas menulisku, Bapak Taufik Hidayat, S.E., S.Si., M.Si. yang memiliki nama pena Taufik Uieks.

“Menurut penulis buku Mengembara ke Masjid-Masjid di Pelosok Dunia, 1001 Masjid di 5 Benua, Jejak Langkah Menuju Baitullah Jilid 1 sampai 3, dan juga Tamasya ke Masa Depan Jilid 1 sampai 2 ini, untuk bisa menulis cerita perjalanan dengan baik ada beberapa hal yang harus dilakukan,” jawabku sambil menunggu respons Opin.

Opin menatapku dan bertanya, “Pak Taufik itu siapa, Bapak?”
Aku pun menjelaskan padanya tentang biodata Pak Taufik Uieks dan juga buku-buku perjalanan yang telah beliau terbitkan.

“Pak Taufik ini adalah seorang penulis buku perjalanan kelahiran tahun 1961. Beliau ini memiliki karir cemerlang di bidang penerbangan. Karir beliau inilah yang membuat beliau mendapat kesempatan keliling dunia dan menuliskannya,” kataku sebelum akhirnya meneguk air mineral dalam botol.

Aku pun melanjutkan penjelasan, “Mas tahu tidak kalau beliau ini sudah menjelajah hampir ke 70 negara. Hebat, ya, Mas?”

“Wuidih! Keren sekali itu, Bapak. Opin juga pengin bisa keliling dunia dan menuliskannya, Bapak,” kata Opin sambil tertawa kecil.

Aku menyahut perkataannya, “Serius, nih? Sebelum itu, kita keliling Lombok saja dulu. Baru kemudian menjelajah Indonesia. Bagaimana, Mas? Ha ha ha.”

Opin pun ikut menimpali tawaku. Tawa renyahnya hampir saja membuatku lupa melanjutkan penjelasan materi yang pernah disampaikan beliau.

“Oya, Mas. Kembali ke obrolan kita tadi itu tentang menulis cerita perjalanan, beliau berpesan yang pertama adalah mengamati. Mas tahu apa yang harus diamati?”

Opin mengerutkan keningnya dan balik bertanya, “Ngg … Apa Bapak, ya?”

“He he. Banyak, Mas. Misalnya saja kejadian dan keunikan di sekitar lokasi yang kita kunjungi. Coba sekarang Mas amati sekitar sini, kemudian catat,” kataku memberikan Opin kesempatan untuk mengamati.

Opin pun berdiri dan melangkah menjauhiku. Tubuh mungilnya bergerak menuju ke arah pedagang kain tenun yang sedang menawarkan dagangannya pada seorang pembeli. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, aku melihat dia memainkan ujung jarinya di atas layar gawaiku.

Tidak lama kemudian aku melihatnya bergerak menuju sebuah bangunan. Di depan bangunan persegi berdinding anyaman bambu itu dia mematung. Dia terlihat mengambil foto kemudian terlihat menulis sesuatu di gawaiku.

Cukup lama aku menunggu sampai akhirnya dia kembali menemuiku. Aku segera bertanya apa saja yang telah ditulisnya.

“Dapat informasi apa, Mas?”
Opin membetulkan posisi duduknya kemudian berkata,

“Untung Bapak kasih Opin pinjam HP-nya. Kalau tidak, Opin tidak bisa menulis gara-gara buku catatan Opin ketinggalan di rumah. He he.”

“Yah malah curhat dia. Ha ha ha,” tawaku kemudian melanjutkan kata-kata, “apa saja yang Mas tulis?”

Opin pun membacakan hasil pengamatannya. Tentang proses tawar-menawar yang terjadi. Termasuk di dalamnya adalah terjadinya kesepakatan harga antara keduanya. Selain itu, Opin juga menuliskan tentang rumah adat masyarakat suku Sasak yang berlantai tanah. Mendengar ceritanya aku hanya tersenyum.

“Oya, Mas. Menurut Pak Taufik selain mengamati kita juga disarankan untuk membuat foto. Mas tahu tidak kenapa kita harus mengambil foto?”

Opin tertawa kemudian berkata, “Ha ha ha. Tahu, dong, Bapak. Biar kita terlihat eksis dan keren. Lihat ini, Bapak! Ha ha ha.”

Aku pun ikut larut dalam tawa renyahnya setelah melihat foto selfie- ya di layar gawaiku. Sesaat setelahnya aku mencoba menjelaskan kepadanya,”Bukan itu saja, Mas. Dalam menulis sebuah cerita perjalanan kita disarankan mengambil foto. Tujuannya adalah untuk memudahkan kita memutar ulang ingatan terkait kejadian menyangkut foto tersebut. Kenapa bisa? Karena pada dasarnya setiap foto itu punya cerita. Dari satu foto saja bisa dibuat tulisan sepanjang satu halaman. Hal ini karena foto bisa menjadi pemicu atau prompt tulisan. Begitu, Mas.”

“Apa lagi manfaatnya, Bapak?”

Aku pun menambahkan penjelasan tentang manfaat mengambil foto sebagai daya tarik bagi pembaca. Adanya ilustrasi berupa foto akan membuat pembaca merasa dekat dengan apa yang kita tuliskan.
Opin menganggukkan kepala kemudian bertanya lebih lanjut tentang langkah membuat artikel atau cerita perjalanan. Aku pun menyampaikan paparan dari Pak Taufik tentang diskusi wawancara.

“Nah! Mas punya ide mau wawancara dengan siapa untuk memperdalam tulisan?”

Opin menggelengkan kepala. Aku pun menjelaskan sedikit tentang perlunya diskusi wawancara. Opin mengangguk-anggukkan kepala ketika aku menjelaskan tentang salah satu perlunya diskusi wawancara yaitu untuk menggali informasi lebih dalam tentang objek. Misalnya sejarahnya, keunikannya, budayanya, tradisinya, dan lain-lain. Dengan berdiskusi dengan narasumber, kita akan memperoleh penjelasan dan keterangan yang valid terkait lokasi yang sedang kita kunjungi.

Setelah merasa cukup memberikan penjelasan poin tentang diskusi wawancara, aku melanjutkan penjelasan tentang mencari informasi tambahan.

“Misalnya apa, Bapak?”

“Misalnya kita belum puas dengan informasi dari narasumber utama, kita bisa buka Google Search mencari penjelasan tambahan. Adanya informasi tambahan ini akan memperrkuat tulisan kita,” jawabku sambil menggerak-gerakkan kaki.

Opin kembali bertanya tentang kelanjutan langkah menulis, yaitu mencari keunikan.

“Mas tahu apa keunikan desa Sade ini?” tanyaku sekadar memancing pemahaman Opin terhadap sebuah lokasi.

Opin meletakkan ujung jari telunjuk kanannya di bawah dagunya sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. Sesaat setelahnya, dia pun tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“He he. Salah satu keunikannya adalah sekitar 150 Kepala Keluarga di desa ini masih merawat rumah sederhananya dengan mengepel menggunakan kotoran kerbau,” jelasku kemudian.

Opin pun menyahut,

“Memangnya tidak bau, Bapak?”

“Lha kan tadi Mas ke rumah itu. Bau tidak?” tanyaku sambil menunjuk sebuah rumah tradisional yang didatangi Opin sebelumnya.

Opin menggelengkan kepala sebagai jawaban. Kemudian dia pun terlihat menekuni gawainya. Aku tahu dia pasti sedang menuliskan penjelasanku.

“Oya, Bapak. Masih ada lagi langkah lainnya?”

Aku pun menjelaskan langkah terakhir yang bisa dilakukan, yaitu merangkum dalam tulisan. Aku juga menambahkan penjelasan bahwa merangkum dalam tulisan akan memudahkan kita dalam menjabarkan tulisan. Aku juga menambahkan bahwa rangkuman ini bisa berguna sebagai acuan pembaca menemukan inti cerita perjalanan.

“Jadi, apa Mas sudah membuat rangkuman dalam tulisan yang Mas buat?”

Opin menyahut, “Kan tulisan Opin belum jadi, Bapak. He he.”

Aku menimpali tawa kecil itu dan mulai mengajak Opin berdiri melanjutkan perjalanan. Awalnya dia menolak karena ingin langsung melakukan wawancara dengan narasumber. Namun, aku mengingakan tentang catatan pertanyaan yang ketinggalan.

“Tuh kan. Gara-gara ketinggalan Opin jadi tidak bisa melakukan wawancara.”

Wajah Opin tertekuk dalam. Melihatnya seperti itu, aku pun menawarkan diri membantunya membuat poin pertanyaan. Dia pun tersenyum dan menyatakan persetujuan. Sebuah persetujuan yang akhirnya membuat aku dan Opin terlibat dalam kerjasama yang kuat menyusun daftar pertanyaan. Setelahnya aku pun mendampingi Opin melakukan wawancara mendalam dengan narasumber. Dengan cekatan Opin mencatat garis besar jawaban narasumber terkait sejarah desa Sade. Selain itu dia juga mencatat tentang keunikan tradisi di desa Sade yang masih berjalan hingga sekarang.

Akhirnya pertanyaan pun tuntas diajukan. Aku mengajak Opin berpamitan setelah mengucapkan terima kasih. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu karena sudah siang, Opin berinisiatif membelikan mamaknya sebuah selendang tenun ikat sebagai oleh-oleh. Hingga kemudian deru sepeda motor tua yang aku kendarai bersama Opin melaju membelah jalanan. Jalanan panjang Lombok Tengah pun perlahan kutinggalkan saat beranjak pulang ke Mataram. Sementara Opin di belakang, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Satu hal yang pasti aku yakin dia akan menuliskan cerita perjalanan dari catatan.

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.