Potret Kemahiran Berbahasa Indonesia Murid SMP Negeri 3 Lingsar

Hari ini (11/10) berlangsung Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) bagi murid SMP Negeri 3 Lingsar. Dalam kegiatan ujian yang berlangsung selama dua jam mulai pukul 08.00 WIB tersebut, diikuti sebanyak 19 orang murid. Petugas dari Kantor Bahasa NTB mendampingi selama proses UKBI berlangsung. Selain itu, juga beberapa orang anggota tim yang terlibat dalam persiapan kegiatan berasal dari SMP Negeri 3 Lingsar.

UKBI sendiri merupakan sarana uji untuk mengukur kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia lisan atau tulis. Dalam tes tersebut, masing-masing peserta yang berasal dari kelas IX, mengerjakan soal dalam lima seksi. Kelima seksi, yaitu Seksi I (Mendengarkan), Seksi II (Merespons Kaidah), dan Seksi III (Membaca) dalam bentuk soal pilihan ganda serta Seksi IV (Menulis) dalam bentuk presentasi tulis dan Seksi V (Berbicara) dalam bentuk presentasi lisan.

Beberapa orang murid menghadapi kendala. Kendala-kendala tersebut meliputi pendaftaran dan pelaksanaan UKBI. Dalam tahap pendaftaran beberapa orang murid mengalami kendala, yaitu tidak bisa mengirim berkas pendaftaran. Hal ini pun menjadi masukan bagi pusat. Terkait kendala selama pelaksanaan secara garis besar tidak ada kendala berarti. Kendala yang dihadapi berupa kesulitan dalam menjawab soal Seksi I dan II. Hal ini karena keterbatasan perangkat komputer yang digunakan.

Pada akhir sesi, peserta ujian di ruang laboratorium bahasa itu pun bisa melihat nilai secara langsung. Dari 19 orang peserta, 1 orang dinyatakan Tidak Berpredikat, 8 orang dengan predikat Terbatas, 9 orang berpredikat Marginal, dan 1 orang dengan predikat Madya dengan nilai 500.

UKBI 2021

Predikat terbatas menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang sangat tidak memadai dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Predikat marjinal menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang tidak memadai dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Sedangkan predikat Madya menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang memadai dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dengan kemahiran ini yang bersangkutan mampu berkomunikasi untuk keperluan sintas dan kemasyarakatan dengan baik, tetapi masih mengalami kendala dalam hal keprofesian yang kompleks.

Berkaca dari hasil tersebut, secara umum bisa ditarik kesimpulan bahwa murid SMP Negeri 3 Lingsar memiliki kemahiran yang tidak memadai dalam berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Hal ini tentu menjadi PR besar bagi seluruh guru di sekolah bersangkutan. Sebuah PR untuk bisa membuat murid lebih meningkatkan kemahirannya berbahasa Indonesia. Melalui pembiasaan berbahasa Indonesia merupakan salah satu hal sederhana yang bisa dipraktikkan. Hal ini erat kaitannya dengan menumbuhkan literasi membaca dan menulis di kalangan murid.

Namun, hal tersebut tentu tidaklah mudah. Membutuhkan kolaborasi dan upaya lebih keras lagi oleh segenap warga sekolah. Hal ini juga membutuhkan adanya kebijakan pihak sekolah yang mendukung kegiatan berbahasa Indonesia di sekolah. Sebuah upaya yang tidak mudah, tetapi bukan berarti sulit dilakukan.

Sempurna berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulisan membuat seseorang tidak memiliki kendala dalam berkomunikasi untuk keperluan personal, sosial, keprofesian, dan keilmiahan

Leave a Reply

Your email address will not be published.