Refleksi Hari Guru 2020

Hal besar yang saya rasakan di masa pandemi ini adalah semangat belajar yang semakin berkobar. Sebuah semangat mengembangkan diri agar lebih berkibar. Berbagai aktivitas positif telah saya lakukan membawa nama baik SMP Negeri 3 Lingsar. Bukan saja perihal prestasi sesuai hobi, tetapi juga pelatihan-pelatihan pembelajaran masa kini.

Sebagai guru pembelajar saya merasa selalu miskin ilmu. Perasaan itu yang mengantarkan saya untuk melangkah menuju lumbung ilmu. Entah berapa pelatihan sudah saya ikuti. Entah berapa kompetisi telah saya coba untuk mengukir prestasi. Kalah atau menang bagi saya tetaplah sebuah prestasi. Kenapa? Karena itu artinya saya berhasil menang atas kemalasan dalam mengembangkan diri melalui kompetisi.

Pencapaian selama masa pandemi bagi saya merupakan kebahagiaan. Tersingkir atau terus melaju tetaplah bahagia. Kenapa? Karena bahagia saya bisa menjalani semuanya. Atas dasar bahagia saya bisa menikmati hasilnya, apa pun juga.

Beberapa pencapaian yang saya rasa layak dirayakan dengan bersyukur pada-Nya selama tahun 2020 ini antara lain:

  • Lomba Menulis Cerita Rakyat Sasak. Dalam lomba yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Lombok Barat ini saya berhasil menjadi Juara II. Prestasi yang menurut saya luar biasa, karena sebagai seorang keturunan Jawa tulen bisa menuliskan cerita rakyat Sasak merupakan sebuah keajaiban. Untuk bisa menuliskannya saya benar-benar membutuhkan waktu untuk melakukan riset dan menyatu menanggalkan kejawaan saya. Saya berusaha keras menjadi seorang Sasak untuk bisa menghasilkan tulisan yang sesuai kultur masyarakatnya.
  • Lomba Menulis Opini #SuratCintadariGuru Kemenkeu. Dalam lomba ini saya menulis tentang profesi saya sebagai guru nonsertifikasi. Suka duka sebagai seorang guru yang telah mengabdi selama 14 tahun, tetapi tetap tidak dianggap profesional. Hal ini karena saya adalah lulusan Sarjana Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Sesuai peraturan pemerintah saya tidak berhak memperoleh tunjangan sertifikasi karena terkendala linieritas pendidikan. Seorang sarjana peternakan dianggap tidak bisa mengajar IPA di jenjang SMP. Ijazah Akta IV Kependidikan Universitas Mataram pun tidak cukup membantu menjadikan saya seorang guru profesional. Bahkan predikat lulus UKG tahun 2015 dan menjadi satu-satunya guru IPA yang lulus UKG di antara guru-guru IPA Kependidikan juga bukan jaminan. Dalam surat cinta ini saya juga menuliskan tentang optimisme saya mengajar dan mengabdi meskipun status guru nonsertifikasi. Sebab bagi saya itu hanyalah status administratif saja. Kenyataannya tidak pernah ada yang mengucapkan kepada saya, “Selamat Hari Guru, Pak Guru Nonsertifikasi.” Yang ada ucapan salam dari mereka adalah, “Selamat Hari Guru, Pak Guru.” Itu saja. Tidak ada embel-embel apa pun. Sebab sejatinya guru ya guru. Sertifikasi atau tidak tetap memiliki tugas yang sama sebagai guru dalam mengajar, mendidik, dan mentransformasi ilmu dan pengetahuan. Meskipun saya tidak terpilih dalam 10 surat cinta terbaik, tetapi setidaknya saya berani menceritakan apa yang selama ini saya pendam.
  • Festival Video Edukasi 2020. Dalam lomba yang diselenggarakan oleh LPMP Sidoarjo ini merupakan pengalaman pertama saya membuat video pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia. Lho kok guru IPA membuat video pembelajaran Bahasa Indonesia? Kenapa? Tidak ada salahnya, kan? Apalagi materi yang saya buat adalah yang saya kuasai, yaitu menulis puisi. Meskipun gagal masuk 10 besar, tetapi setidaknya saya telah berhasil membuat video pembelajaran Bahasa Indonesia. Karya yang belum tentu sudah pernah dilakukan oleh bahkan guru Bahasa Indonesia sendiri. Benar bukan?
  • Guru Berani Menginspirasi. Lomba ini diselenggarakan oleh Penerbit Erlangga. Saya memberanikan diri mengikuti lomba ini karena melalui tulisan dalam lomba ini ingin menginspirasi banyak orang. Saya juga ingin mematahkan anggapan bahwa gerakan literasi sekolah adalah tugas guru Bahasa Indonesia. Lewat tulisan tentang kiprah saya memajukan literasi sekolah bersama Tim Majalah Dinding ‘STIL Media’ yang saya bina, saya menegaskan bahwa guru IPA juga bisa berkontribusi pada gerakan literasi. Sebab bagaimanapun juga gerakan literasi adalah perihal kerja bersama-sama dan sama-sama bekerja. Tentu sesuai porsi dan kompetensi masing-masing guru. Berharap banyak tulisan saya dalam lomba ini bisa mneginspirasi yang lain untuk bersama-sama bergerak demi kemajuan literasi.
  • Lomba Menulis Cerpen Mataram Cemerlang. Lomba ini diselenggarakan oleh salah satu pasangan calon walikota Mataram. Saya mengikuti lomba ini bukan karena tergiur oleh hadiahnya. Namun, karena ada satu hal terkait upaya perlindungan anak yang ingin saya sampaikan kepada pasangan calon melalui cerita pendek. Dalam lomba yang sempat memancing polemik di media sosial terkait ketidaksesuaian hadiah lomba ini, cerpen saya berjudul Bintang untuk Bintang berhasil menjadi Juara V. Juara terakhir memang. Namun, merupakan pencapaian terbesar dalam karir kepenulisan saya. Betapa tidak. Meskipun berada di posisi juru kunci, tetapi tulisan saya bisa bersanding dengan nama-nama besar di kancah kepenulisan NTB.
  • Lomba Membuat Video Mataram Cemerlang. Lomba ini juga diadakan oleh pasangan calon walikota Mataram yang sama. Bedanya dalam ajang ini saya tidak berhasil menjadi juara. Namun demikian tetap saja kekutsertaan saya menjadi pencapaian besar bagi saya. Kenapa? Lewat lomba ini akhirnya pasangan calon walikota bisa melihat kondisi nyata yang ada di Mataram selama 24 Jam. Terlebih saat membaca berita pasangan calon walikota melakukan pendekatan dan gerakan perbaikan atas kritik yang saya sampaikan lewat video.
  • Lomba Blog Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda. Keikutsertaan saya dalam lomba yang diprakarsai oleh PGRI dan KOGTIK ini bukan sekadar memperoleh pengakuan. Sebab saya sudah seringkali menang dalam lomba. Pun kekalahan yang tak terhitung. Jiwa kompetisi saya yang akhirnya membuat saya mengikuti lomba ini. Terlebih dorongan untuk tetap rutin update tulisan di blog. Mengangkat topik tentang penggunaan aplikasi TikTok sebagai teknologi masa kini dalam pembelajaran belum mampu menyentuh hati juri. Saya pun harus puas denga hasilnya dengan tidak masuk sebagai 10 besar. Namun, tetap saja ini adalah pencapaian saya. Lewat tulisan ini saya bisa rutin menulis selama 35 hari di blog. Bahkan lebih jika dihitung sampai hari ini.
  • Membatik 2020. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Kemdikbud ini adalah yang terberat. Saya benar-benar harus menguras tenaga dan pikiran saat mengikuti lomba ini. Mulai dari pemilihan topik mata pelajaran IPA, menulis naskah video hingga eksekusi pembuatan bahan ajar berbasis TIK. Dalam bahan ajar berbasis TIK berjudul Tulang Kuat Hingga Tua ini saya berhasil mengalahkan keenggananku diri untuk berkarya. Saya pribadi tidak pernah berharap lebih sebab pencapaian dalam lomba ini menciptakan video pembelajaran IPA telah berhasil saya tuntaskan. Selebihnya? Menunggu keajaiban. Kenapa? Karena saya yakin banyak yang lebih kompeten dan pengalaman dari saya dalam membuat video pembelajaran. Harapan saya ya apa pun hasilnya itulah yang terbaik bagi saya.
  • Parade Audio Edukasi 2020. Lomba satu ini sangat mengecewakan bagi saya. Bukan pada penyelenggarannya, tetapi lebih pada kecerobohan diri-sendiri dalam membaca informasi. Bagaimana saya bisa membaca perihal penundaan lomba setelah saya mengirimkan karya? Luar biasa cerobohnya saya bukan? Awalnya saya sempat kecewa. Namun seiring waktu saya justru bisa menemukan hikmahnya. Hikmah yang saya anggap sebagai pencapaian terbaik tahun ini. Kenapa? Karena melalui lomba yang ditunda ini saya mendapat pengalaman berharga membuat audio feature untuk pertama kalinya.
Feature Audio Menciptakan Bahagia dalam Proses Pembelajaran

Semua pencapaian di atas membuat lubuk hati saya yang paling dalam menangis. Bukan perkara kecewa dengan kekalahan. Pun perihal sedih atas kegagalan. Sama sekalu bukan. Satu hal membuat hati saya teriris dan merasa gagal sebagai seorang guru. Peringatan Hari Guru 2020 hari ini mengingatkan saya, bahwa menjadi guru bukan saja tentang pencapaian pribadi, tetapi juga rekan sejawat. Kesedihan saya tersebab belum mampu menggerakkan sekitar saya berbuat sama. Saya sama sekali tidak pernah menganggap diri telah berbuat banyak. Bukan. Bukan itu. Saya hanya ingin menginspirasi sekitar agar bisa berbuat lebih daripada saya. Namun kenyataannya saya tidak mampu. Inilah kegagalan saya yang benar-benar paling gagal. Pencapaian yang saya harapkan masih jauh. Sangat jauh. Semoga ke depannya bisa lebih baik.

Belajar untuk seumur hidup, seumur hidup untuk belajar.

Selamat Hari Guru!

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.