Rencana Tindak Lanjut Pendidikan Guru Penggerak

Setiap program yang selesai dilaksanakan membutuhkan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Hal ini karena RTL merupakan salah satu jaminan bagi keberlangsungan dan keberlanjutan program. Dengan adanya RTL akan lebih memudahkan dalam implementasi program ke depannya. Bukan saja terkait bentuk-bentuk program lanjutan, melainkan juga bentuk-bentuk intervensi pihak lain untuk menyelenggarakan program sejenis. Membutuhkan perencanaan yang matang untuk bisa menyusun RTL yang baik sesuai program berdasarkan potensi dan kekuatan yang dimiliki. Selain itu, membutuhkan juga pertimbangan aset yang telah dimiliki dan akan dikembangkan. Termasuk di dalamnya adalah sumber daya manusia sebagai aset untuk koordinasi dan kolaborasi.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, berikut ini beberapa RTL yang akan dilaksanakan setelah mengikuti Pendikan Guru Penggerak Angkatan 2.

  1. Melakukan refleksi akhir program Pendidikan Guru Penggerak. Kegiatan bertujuan untuk mengetahui kekuatan yang harus ditingkatkan dan kelemahan yang harus diperbaiki oleh diri sendiri selama mengikuti program. Kegiatan dilaksanakan melalui umpan balik dari kepala sekolah, rekan sejawat, murid, dan orang tua/wali murid. Selain itu juga melalui diskusi-diskusi informal dengan sejawat dalam komunitas praktisi di sekolah;
  2. Mengembangkan sosialisasi program Pendidikan Guru Penggerak bagi Komunitas Praktisi di dalam dan sekitar sekolah. Tujuannya adalah untuk menggalang kekuatan dan potensi di lingkungan sekolah dan sekitar untuk bersama-sama tergerak, bergerak, dan menggerakkan. Sosialisasi yang dilakukan menyangkut garis besar pengalaman dan praktik baik selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2. Selain itu, juga menyebarluaskan pemahaman dan pengetahuan lainnya terkait pembelajaran berpusat pada murid;
  3. Melaksanakan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dalam komunitas praktisi sekolah melalui pelatihan terkait IT (Ms Office, Google Sites, Blog, Video Pembelajaran, Canva for Education, dan lain-lain). Tujuannya adalah untuk mempersiapkan sekolah menghadapi era digital yang pada akhirnya berdampak pada murid. Program dilaksanakan dalam bentuk pelatihan-pelatihan secara rutin setiap bulan;
  4. Mengelola program berdampak pada murid di tingkat sekolah, terutama terkait literasi berdiferensiasi. Tujuan utama program ini adalah meningkatkan kepemimpinan murid dalam literasi berdiferensiasi di kelas secara komunal di sekolah. Kegiatan dilaksanakan dengan terlebih dahulu memberikan penguatan kepada wali kelas dalam implementasi literasi berdiferensiasi;
  5. Menyelenggarakan pelatihan komputer bagi murid. Tujuannya untuk mempersiapkan kemampuan murid dalam memanfaatkan komputer sebagai persiapan mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Selain itu juga meningkatkan murid yang cakap digital;
  6. Mengembangkan sosialisasi tentang pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional. Tujuannya agar terselenggara pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional di tingkat komunal sekolah. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Berdiferensiasi dan Sosial Emosional;
  7. Mengembangkan budaya positif literasi dalam bentuk kesepakatan kelas ke tingkat komunal sekolah. Tujuannya agar budaya positif literasi dalam bentuk kesepakatan kelas dapat dilaksanakan di semua kelas yang ada di sekolah. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk penguatan terhadap wali kelas dalam pembuatan kesepakatan kelas;
  8. Mengembangkan program pengelolaan kelas yang menyenangkan bagi murid dalam proses pembelajaran. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berpusat pada murid. Kegiatan dilakukan dalam bentuk penguatan wali kelas dalam menciptakan kelas yang menyenangkan bagi murid;
  9. Mengembangkan kegiatan coaching di tingkat sekolah bagi murid melalui penyusunan program kerja Komunitas Praktisi di sekolah. Tujuannya untuk menumbuhkan mindset anggota komunitas praktisi, bahwa mengajar adalah praktik coaching. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk penyusunan rencana kerja tahunan komunitas praktisi di sekolah;
  10. Pertemuan dengan Komunitas Praktisi di sekolah dan sekitarnya guna membahas program-program lain yang berdampak pada murid di sekolah. Tujuannya untuk memetakan bentuk program berdampak ada murid yang dapat dilaksanakan di sekolah. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk diskusi secara intensif dan rutin dengan Komunitas Praktisi di sekolah;
  11. Melakukan sosialisasi kiprah sekolah kepada komunitas luar sekolah, masyarakat, dan orang tua murid. Tujuannya untuk menyebarluaskan kemajuan yang dialami sekolah kepada masyarakat luas. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pembuatan brosur sekolah atau secara daring melalui media sosial sekolah.

Demikian RTL yang akan dilaksanakan ke depannya. RTL yang disusun bersifat jangka panjang dan berkelanjutan. Pelaksanaan masing-masing program disesuaikan dengan situasi dan kondisi di sekolah. Sebelum implementasi RTL terlebih dahulu diperlukan koordinasi dengan Kepala Sekolah dan kolaborasi dengan sejawat. Tujuannya agar semua program tindak lanjut dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya risiko dalam pelaksanaan RTL, penting menyusun manajemen risiko. Manajemen risiko dari RTL di atas disajikan pada tautan di sini.

Semoga menginspirasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published.