Salam Guru Penggerak!

Salam Guru Penggerak!

Sebuah salam pembuka surel yang menjadi amunisi semangat melahirkan ide-ide baru yang seolah meredup. Bukan tersebab tidak ada ide baru. Hanya saja rasa enggan lebih memilih menguasai keikhlasanku. Ada apa dengan diriku?

Jujur sebenarnya semua terletak pada diriku. Aku sendiri yang telah memupuk rasa enggan itu. Sebuah rasa yang melahirkan rasa lainnya, tidak mau tahu dan tak peduli. Dua rasa yang aku sendiri tidak tahu entah sejak kapan beranak pinak di rahim pengabdianku. Mungkin sejak perbedaan terasa di sekitarku. Atau bisa jadi karena pertanyaan yang terus menghantuiku, “Kenapa harus aku?”

Entah kepada siapa tanya itu aku ucapkan. Ah! Bisa jadi sebenarnya itu hanyalah kekesalan yang tak pernah sanggup aku ungkapkan.
Aku memilih memendam. Tanpa sadar hal itu membuat sedikit demi sedikit semangatku padam. Lantas apakah aku akan membiarkannya begitu saja?

Untuk beberapa lama, iya. Namun, akal sehat kembali menunjukkan jalan lurus padaku. Jalan menuju hati yang mencoba bisa senantiasa tetap bersih dari iri dan dengki.

Puncaknya adalah hari ini. Pemantik semangatku hingga menyala kembali adalah surel dari Pendidikan Guru Penggerak. Surel singkat itu mampu mengubur keenggananku yang semakin panjang. Surel bisu itu mampu berbisik pada hatiku, bahwa mendidik bukan perkara tunjangan profesi. Namun, upaya berkelanjutan dalam menciptakan perubahan ke arah lebih baik lagi.

Surel itu berisi ucapan selamat karena lolos verifikasi Curriculum Vitae (CV) dan telah mengisi Esai. Itu artinya babak baru akan segera dimulai. Babak baru sebuah seleksi dengan cara mengerjakan tes verbal sebanyak 30 soal selama 20 menit, tes kuantitatif sebanyak 20 soal selama 40 menit, dan tes penalaran sebanyak 21 soal selama 25 menit. Total 85 menit akan menjadi penentu bagi semangatku, akan terus berkobar atau memilih redup dan perlahan mati terbakar.

Bukan perihal total waktu penentu saja, tetapi juga tentang latihan sebagai penguatan. Tepatnya tanggal 16 hingga 18 November 2020 untuk melakukan uji coba Tes Bakat Skolastik (TBS).

Setelahnya barulah pada tanggal 21 November 2020 akan mengikuti TBS mulai pukul 09.30 Wita. Bagaimanapun soalnya nanti, harus berusaha bisa menyelesaikan sebaik-baiknya. Apa pun hasil akhirnya kelak, terus belajar adalah satu hal yang pasti. Kepastian atas ketetapan hati untuk berusaha menggerakkan diri dan sejawat demi perubahan pendidikan yang lebih baik.

Tekad kuat itu yang akhirnya mengembalikanku pada dua kata, keikhlasan dan pengabdian. Dua kata yang selanjutnya membuatku mampu menguburkan harapan pengakuan atas semua kebaikan yang kulakukan. Sekaligus mengaburkan asa penghargaan atas segala yang kuperjuangkan. Semata-mata demi bisa menggerakkan diri-sendiri dan sekitar sebagai agen perubahan pendidikan.

Menjadi agen perubahan memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Guru Penggerak,

Merdeka Belajar!

– mo –

Leave a Reply

Your email address will not be published.