Sebuah Kerangka Pembelajaran Calon Guru Penggerak

Seorang calon guru penggerak (CGP) memerlukan kerangka pembelajaran untuk memudahkan implementasi proses di kelas atau sekolah. Menyusun kerangka pembelajaran bisa berkolaborasi dengan sejawat. CGP memerlukan dalam penyusunannya untuk memudahkan dalam memetakan hal-hal positif pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD). Mengembangkan hal-hal positif pemikiran KHD tentang pendidikan dan pengajaran merupakan gerbang pembuka bagi bentuk kegiatan yang akan di kelas atau sekolah secara kontekstual.

Hal-hal Positif Pemikiran KHD

  1. Tugas guru dalam pendidikan adalah menuntun. Secara kontekstual guru memberikan teladan hal positif dalam banyak hal. Misalnya, menerapkan disiplin waktu selama masuk sekolah, menumbuhkan budaya salam, sapa, dan senyum, dan budaya positif lainnya. Tujuannya adalah memberikan tuntunan kepada murid dari segala arah. Bisa memberikan contoh nyata atau menciptakan dorongan kepada murid dan sekitar. Dalam perjalanannya upaya menuntun murid pasti akan menemui tantangan. Tantangan paling dekat dan nyata adalah inkonsistensi dalam melaksanakannya. Solusinya yaitu menguatkan ikhlas dalam diri untuk mengabdi.
  2. Pendidikan adalah tempat persemaian benih kebudayaan. Contohnya adalah melalui pembiasaan baik di kelas dan sekolah, misalnya membaca dan menulis. Tujuannya yaitu untuk menumbuhkan murid sebagai pribadi yang mencintai literasi. Tantangan nyata yang mungkin ada adalah menjaga semangat murid untuk terus menekuni dunia literasi melalui kombinasi pelaksanaan berupa tambahan pertunjukan musik dan sebagainya;
  3. Pendidikan dapat menjadi ruang bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Secara kontekstual guru mengembangkan hal ini salah satunya yaitu pembiasaan gotong royong di lingkungan sekolah. Sedangkan dalam pembelajaran di kelas melalui diskusi kelompok. Tujuannya agar murid semakin memahami kolaborasi sebagai bentuk kemanusiaan. Sementara itu tantangan yang mungkin ada adalah meningkatkan partisipasi aktif murid dalam berbagai kegiatan diskusi. Rencana solusi mengatasi yaitu dengan memberikan ruang lebih luas agar anak pasif menjadi lebih aktif.
  4. Pendidikan hendaknya senantiasa terbuka terhadap perubahan, tetapi harus tetap waspada terhadapnya. Secara kontekstual guru harus mengenalkan perubahan kepada murid. Terutama menyangkut perubahan zaman dan dampak-dampaknya. Tujuannya agar murid dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak. Tantangan yang ada berupa kesulitan memahami teknologi. Mengatasinya bisa dengan mengenalkan secara kontinyu pemanfaatan teknologi dalam pembelakaran.
  5. Pendidikan merupakan upaya membentuk budi pekerti dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila. Contoh nyata adalah menerapkannya melalui penyusunan rencana pembelajaran yang sesuai dengan menambahkan bentuk kolaborasi dengan orang tua/wali murid. Tujuannya agar pendidikan berpusat pada anak dapat menghasilkan karakter profil pelajar Pancasila. Tantangan terdekat berasal dari diri sendiri berupa minimnya ide mengelaborasi nilai profil pelajar Pancasila dengan materi pelajaran.

Hal Positif yang Akan Diterapkan di Kelas

Merunut lebih jauh pemikiran KHD tentang pendidikan dan pengajaran, banyak hal positif yang bisa diimplementasikan secara kontekstual. Implementasi tersebut juga menyesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya lokal masyarakat sekitar. Sebelum mengaitkan pemikiran KHD dengan konteks sosial dan budaya lokal, tentu harus memahami dulu kondisi masyarakat sekitar. Terutama menyangkut tatanan sosial dan kebiasaan yang berkembang di dalamnya. Termasuk contohnya adalah kekayaan seni dan budaya daerah di wilayah kabupaten Lombok Barat.

Kekayaan ini membutuhkan kreativitas agar bisa terus berubah dan berkembang sesuai zaman. Dalam hal ini adalah murid selaku subjek pendidikan. Kreativitas murid tidak lahir begitu saja. Membutuhkan tuntunan dari guru agar murid menjadi kreatif dalam menemukan ide baru dalam proses pembelajaran sesuai budaya lokal yang ada. Selain itu, sekaligus juga sebagai salah satu upaya menyiapkan murid menghadapi era revolusi industri 4.0 sekaligus keterampilan berpikir abad 21.

Desain Kerangka Pembelajaran

  • Memilih Profil Pelajar Pancasila

Sesuai dengan kondisi tersebut di atas, untuk mengembangkan kerangka Merdeka Belajar, akhirnya memilih nilai karakter Kreatif.

  • Melakukan Identifikasi Sumber Daya dan Potensi

Di SMP Negeri 3 Lingsar sendiri, secara geografis berada di wilayah perbatasan antara desa dengan kota. Kondisi tersebut menampilkan karakteristik unik pada masyarakatnya. Di tengah kehidupan lingkungan sosial desa, diam-diam ada keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan kota. Secara sosial dan budaya akan lebih siap dalam menerima perubahan. Hal ini tampak dari hasil identifikasi terkait sumber daya dan potensi yang mendukung Merdeka Belajar sebagai berikut.

  1. Wilayah sekolah memiliki sumber daya dan potensi kekayaan seni dan budaya beragam;
  2. Sekolah memiliki murid yang menyukai hal-hal dan perubahan baru;
  3. Sekolah juga memiliki guru yang berpikiran maju dan mau diajak maju;
  4. Adanya dukungan penuh dari pihak sekolah, baik sarana maupun prasarana.

Hal-hal tersebut di atas merupakan dasar pemilihan hal positif sesuai pemikiran KHD yang akan diterapkan di kelas, yaitu Profil Pelajar Pancasila yang Kreatif. Selanjutnya nilai tersebut akan dikembangkan melalui kerangka pembelajaran CGP.

  • Alur Kerangka Merdeka Belajar
Tujuan Utama

Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila yang akan dikembangkan adalah kreatif.

Kompetensi Pelajar Pancasila
  • Murid mampu berpikir bebas, kritis, terarah, fokus, revolusioner, original, dan reflektif.
  • Murid mampu bertindak melalui pembuatan karya yang orisinal.
Indikator Ketercapaian

Setelah mengikuti proses pembelajaran, murid akan:

  1. Mempunyai inisiatif berpikir dan bertindak;
  2. Menumbuhkan rasa ingin tahu dan minat belajar yang tinggi;
  3. Mandiri dalam menemukan ide orisinal terkait pengembangan hasil pembelajaran;
  4. Berani mengambil keputusan dengan penuh percaya diri dan siap dengan risikonya;
  5. Memiliki kemampuan dalam melakukan pembelajaran kolaboratif;
  6. Senantiasa melakukan refleksi dan evaluasi diri setelah proses pembelajaran berlangsung.
Elaborasi dan Pelaksanaan Konkret
Hal yang Akan Dilakukan

Mendiskusikan dan Mengomunikasikan Rencana Program. Hal selanjutnya adalah mendiskusikan rencana program dan bentuk intervensi yang tepat dengan pihak sekolah dan sejawat. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh masukan terkait rencana program. Setelah itu, mengomunikasikan dengan pihak-pihak terkait implementasi program.

Menyusun dan Melaksanakan Kerangka Program. Sebagai gambaran berikut ini adalah kerangka pembelajaran calon guru penggerak yang akan dilaksanakan. Pelaksanaan kerangka pembelajaran dilakukan melalui integrasi profil pelajar Pancasila kreatif dalam pelaksanaan pembelajaran.

Melakukan Refleksi dan Evaluasi Program. Refleksi program bertujuan memperoleh masukan terkait pelaksanaan. Sedangkan evaluasi bermanfaat sebagai bahan perbaikan pelaksanaan program ke depannya.

Menyusun Rencana Tindak Lanjut Program. Rencana Tindak Lanjut merupakan hal penting untuk menjaga keberlanjutan dan keberlangsungan program ke depan.

Alasan Memilih Profil Pelajar Pancasila Kreatif

Selain menyesuaikan diri dengan kemampuan diri dalam mengelola kreativitas murid, juga mengingat faktor lainnya. Di antaranya, yaitu kodrat zaman yang menuntut murid untuk bisa memanfaatkan teknologi dengan bijak tanpa meninggalkan nilai budaya lokal. Nilai kreatif merupakan gerbang masuk untuk berkembangnya kreativitas memanfaatkan sisi positif perkembangan teknologi. Dengan kreativitas murid bisa terlibat aktif dalam menciptakan pembelajaran menyenangkan bagi mereka sendiri. Dengan memiliki nilai kreatif mereka akan bisa lebih bebas mengeksplorasi potensi diri dalam proses pembelajaran. Hal ini juga sekaligus sebagai upaya menyiapkan murid menghadapi era revoluis industri 4.0 dan ketermapilan berpikir abad 21.

Upaya Mencapai Profil Pelajar Pancasila Kreatif

Untuk dapat mencapai profil pelajar Pancasila yaitu kreatif sebagai salah satu hal positif pemikiran KHD akan dilakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Melaksanakan proses pembelajaran kontekstual dengan mengedepankan konten budaya lokal dan menyesuaikannya dengan upaya menyiapkan murid menghadapi era industri 4.0;
  2. Menyelenggarakan proses pembelajaran yang berpusat pada murid. Hal ini berkaitan dengan pelibatan murid selama proses pembelajaran. Dapat dilakukan saat menentukan kelompok, kesepakatan produk kreatif yang akan dihasilkan, dan sebagainya;
  3. Melakukan penilaian berupa proyek atau produk dalam bentuk apa saja sesuai kesepakatan masing-masing kelompok;
  4. Memberikan kesempatan kepada murid untuk menyampaikan presentasi dan publikasi;
  5. Murid melakukan refleksi dan evaluasi pembelajaran demi perbaikan proses pembelajaran selanjutnya.
Pihak Terlibat dan Peran

Pihak-pihak yang terlibat dalam implementasi Merdeka Belajar, yaitu murid, rekan guru, sekolah, orang tua, komite sekolah serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Hal ini penting agar pelaksanaan program nantinya bisa optimal. Masing-masing pihak terkait memiliki peran dan fungsi masing-masing selama program berjalan.

  • Murid. Memiliki peran sebagai subjek pendidikan.
  • Rekan Guru. Perannya adalah sebagai pendukung pelaksanaan kegiatan di kelas dan sekolah.
  • Sekolah. Dalam hal ini diwakili kepala sekolah memiliki peran memberikan dukungan sepenuhnya dalam pelaksanaan serta fungsi pengawasan.
  • Orang Tua. Menjadi partner kolaborasi dalam upaya pengembangan profil pelajar Pancasila kreatif.
  • Komite Sekolah. Memiliki peran sebagai perwakilan masyarakat yang menjadi pendukung pelaksanaan.
  • Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Setempat. Berperan sebagai pendukung terkait kebijakan program.

Demikian desain kerangka pembelajaran calon guru penggerak. Semoga bermanfaat.

Salam Bloger Pembelajar

Sudomo
www.eigendomo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.