Senandika Karsa Sasana (Bagian 1)

“Daftar saja, Mas.”

Aku menggelengkan kepala. Dalam bayanganku sembilan bulan adalah waktu yang sangat lama. Waktu yang lebih dari cukup untuk berbuat lainnya. Bukan perihal belajar hal-hal baru yang akan membosankan rasanya. Aku masih bergeming dengan keputusanku. Ada enggan untuk melanjutkan menekan tombol ‘DAFTAR’. Keinginan itu sama sekali sirna.

“Sembilan bulan itu sebentar, Mas. Tidak terasa kalau dijalani.”

Upaya meyakinkan seolah tidak kenal menyerah. Dorongan demi dorongan tak lelah menghendaki untuk berubah. Lantas apakah aku kemudian tergerak karenanya? Tidak. Aku sama sekali masih belum beranjak. Saat itu aku mendadak menjelma karang yang tak gentar diterjang ombak. Aku berpikir, toh selama ini aku selalu berusaha untuk terus berkarya. Lantas kenapa aku harus menyiapkan waktu khusus lagi untuk menjadi berguna?

“Nanti kita siap mendukung, kok, Mas.”

Aku masih bergeming. Kata demi kata dari sejawat seolah ombak tak lelah menghantam dari berbagai sisi. Karang pun perlahan mulai terkikis, tipis. Sedikit goyah, tetapi masih enggan berubah. Aku tetaplah karang yang tak kenal kata menyerah.

Pada suatu masa, sejenak aku lupa dengan tombol ‘DAFTAR’ yang pernah kutatap lama di layar komputer sekolah. Perlahan tetapi pasti, aktivitas sehari-hari membuatku sama sekali lupa dengan apa yang dinamakan agen perubahan. Rasanya cukup sudah aku menjadi agen perubahan. Peran yang kulakukan rasanya sudah cukup disebut sebagai agen perubahan. Banyak hal yang telah kulakukan terkait proses pembelajaran dan pengembangan profesi. Rasanya untuk sementara cukup aku memelihara karsa dalam langkah sekadarnya.

Meskipun terseok, aku terus berusaha melangkah maju. Sendirian. Berbagai inovasi aku lakukan bersama beberapa sejawat yang mau diajak bergerak bersama, beriringan. Namun, ada satu hal yang membuat hangat dalam dadaku. Debar tak menentu ketika menyadari masih ada beberapa sejawat yang memilih duduk nyaman di tempatnya. Seolah memilih menjadi penonton saat aku dan beberapa lain berusaha melangkah.

Aku tidak tahu pasti apa yang ada dalam pikiran mereka. Bisa jadi mereka menunggu waktu yang tepat untuk tertawa saat aku dan beberapa langkah beriringan terantuk batu. Mungkin juga mereka menunggu saat yang tepat ketika aku dan langkah beriringan itu terjerembab dalam lubang bernama hambatan. Entahlah. Aku tidak tahu pasti. Sama sekali tidak tahu. Semoga saja mereka memang sengaja duduk nyaman menungguku untuk membantu mereka berdiri.

Jika memang seperti itu, sanggupkah aku sendirian membawa mereka serta ke arah yang lebih maju? Tentu tidak. Aku juga tidak akan membiarkan seperti itu. Jiwaku meronta untuk berbalik arah lalu mengajak mereka turut serta. Namun, aku belum cukup punya kekuatan untuk menggerakkan mereka. Aku butuh hal baru untuk bisa menggandeng mereka. Aku hanya tidak mau maju sendirian menuntaskan halangan. Aku ingin bersama-sama semuanya bergerak menuju perubahan.

Pikiran itu terus menggangguku. Pertanyaan demi pertanyaan berkelindan. Mereka berebutan ingin lebih dulu dijawab. Sementara aku, masih belum memegang kunci jawabannya. Di mana kunci jawaban itu?

Bersamaan dengan pertanyaan-pertanyaan itu, sebuah kabar mengejutkanku. Tubuhku sedikit tersentak ketika membaca deretan pesan singkat itu. Pesan singkat dari seseorang yang bahkan aku belum mengenalnya. Aku hanya tahu sebatas nama saja. Bertemu pun hanya sebatas maya. Pemilik nama itu adalah sosok perempuan yang aku tahu adalah seorang pembelajar sejati. Meskipun hanya mengenal sebatas nama, tetapi aku tahu banyak tentang kiprahnya dalam pendidikan. Seorang pendidik sama seperti aku yang telah lebih dulu menorehkan banyak kebaikan. Sangat layak untuk dikagumi dan disegani.

Pesan singkat dari perempuan yang mengajar di SMP Negeri 4 Gerung itu berisi pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang mungkin adalah kunci jawaban yang selama ini aku cari. Benar saja. Aku tak henti-hentinya kembali mengeja pertanyaannya.

“Pak Domo saya daftarkan Program Pendidikan Guru Penggerak lewat dinas, ya?”

Deg!

Berulang kali aku membaca pesan singkat dari Bu Fourin MGMP, begitu aku menamainya dalam daftar kontakku. Semakin dalam membaca, kian yakin aku memberikan balasan.

“Iya, Bu.”

Begitulah awal perjalanan panjang sebuah perjuangan pun dimulai. Berawal dari membuka laman berisi informasi sampai mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam seleksi. Tidak ada yang mudah. Namun, bukan berarti sulit untuk dilakukan.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published.